Banghas

T Cut Ali: Jejak Perlawanan yang Tertinggal di Kluet

65
×

T Cut Ali: Jejak Perlawanan yang Tertinggal di Kluet

Sebarkan artikel ini
Makam T Cut Ali di tepi sungai Gampong Suaq Bakung, Kluet Aceh Selatan

Pada Rabu, 21 Oktober 2026, saya berkesempatan mengunjungi makam Teuku Cut Ali di Gampong Suaq Bakung, Kecamatan Kluet Selatan, Aceh Selatan. Perjalanan menuju makam itu melewati Keude Kandang, sebuah kawasan legendaris. Makam Cut Ali berada di tepi sungai, tidak jauh dari perkampungan penduduk.

Namun, kisah Cut Ali tidak pernah benar-benar selesai. Namanya hidup dalam ingatan masyarakat, bukan semata-mata karena keberaniannya menghadapi pasukan Belanda, melainkan juga karena sebuah cerita yang sulit dilupakan: ketika ia gugur, seekor beruk kecil dan seekor ayam ditemukan di dekat jasadnya. Keduanya merupakan binatang kesayangannya. Dan yang paling menarik, kedua binatang itu setia menunggunya.

Kisah tersebut ditulis oleh H.C. Zentgraaff dalam buku Atjeh, sebuah karya yang menarik karena merekam perlawanan rakyat Aceh melalui sudut pandang seorang penulis Belanda. Dari buku itu, kita dapat mengikuti jejak seorang panglima yang bahkan lawannya mengakui keberanian dan kewibawaannya.

Perlawanan yang Menyala Kembali

Suasana perlawanan di kawasan pesisir barat Aceh kembali memanas sejak 1925. Setelah bertahun-tahun menghadapi operasi militer Belanda, semangat perlawanan masyarakat ternyata tidak pernah benar-benar padam.

Cut Ali bahkan dikenal gemar mengirimkan surat tantangan kepada pihak Belanda. Ia pernah mengejek seorang kapten yang lebih banyak berlindung di balik benteng pertahanannya daripada keluar menghadapi para pejuang. Surat-suratnya berisi tantangan agar sang kapten berani keluar dan bertempur.

Cut Ali memiliki keberanian yang membuat lawannya sendiri menaruh hormat. Ia juga dikenal mempunyai selera humor. Setelah suatu serangan terhadap patroli Belanda dianggap berhasil oleh kelompoknya, ia berdiri di tengah kampung sambil memandang ke arah hutan, seolah-olah sedang mencari musuh.
“Ho ka Kompeuni?” serunya, yang berarti, “Di mana kamu, Kompeni?”

Penduduk kampung ikut mengulangi ejekan itu. Suasana berubah menjadi perayaan. Selama tujuh hari, masyarakat memberikan sumbangan makanan untuk para pejuang. Bahkan seorang perempuan tua datang membawa seekor kambing, satu-satunya harta yang dimilikinya, sebagai tanda penghormatan kepada sang panglima.

Begitulah Cut Ali membangun pengaruhnya. Perlawanan baginya bukan sekadar pertempuran di hutan, melainkan juga ikatan antara pemimpin dan masyarakat yang mendukungnya.

Perburuan Terakhir di Tepi Sungai

Akan tetapi, kekuatan Belanda terus dikerahkan untuk menghancurkan kelompok Cut Ali. Perburuan semakin intensif ketika Kapten Gosenson memimpin operasi di kawasan Kluet dan Trumon.

Puncaknya terjadi pada penghujung Mei 1927. Gosenson memperoleh informasi tentang sekelompok kecil pejuang yang terlihat di dekat kawasan berhutan. Pasukannya segera bergerak, mengikuti jejak kaki di tanah basah dan pasir di tepi sungai. Hujan lebat membuat jejak itu samar, tetapi para pelacak Belanda terus menyusurinya.

Setelah perjalanan panjang, mereka menemukan dua gubuk darurat di dekat aliran sungai. Di salah satu gubuk terlihat seorang laki-laki bersama seorang perempuan. Ketika pasukan mendekat, terdengar teriakan peringatan. Pertempuran pun pecah.

Baku tembak berlangsung singkat, tetapi mematikan. Sejumlah orang tewas, termasuk Imam Sabi, salah seorang pemimpin perlawanan yang mengalami luka tembak sebelumnya. Di antara jasad yang ditemukan, Belanda akhirnya mengenali Cut Ali. Salah satu penandanya adalah rencong pusaka berukuran besar dengan gagang yang khas.

Tanggal 25 Mei 1927 kemudian dicatat sebagai hari gugurnya Cut Ali. Ia gugur dalam perburuan yang mengakhiri salah satu babak penting perlawanan rakyat di kawasan Kluet dan Trumon.

Zentgraaff menulis bahwa Gosenson memutuskan agar Cut Ali dimakamkan dengan penghormatan yang layak bagi lawan yang gagah berani. Dalam catatan buku tersebut, jasadnya diperlakukan menurut tata cara pemakaman syahid yang dikenal masyarakat Aceh. Makamnya dibuat oleh pasukan marsose Belanda sendiri.

Beruk dan Ayam yang tetap bersama

Namun, bagian paling mengesankan dari kisah Cut Ali justru muncul setelah pertempuran berakhir. Di antara jasad-jasad yang ditemukan, terdapat seekor beruk kecil dan seekor ayam. Keduanya adalah binatang kesayangan Cut Ali dan istrinya, yang selalu menyertai rombongan mereka di hutan.

Pasukan Belanda membawa kedua binatang yang masih hidup itu kembali. Beruk kecil tersebut sempat diletakkan di atas kayu pemikul barang, tetapi sempat menghilang karena berusaha mencari jasad tuannya.

Zentgraaff menulis bahwa kedua binatang itu kemudian dipelihara di lingkungan pasukan marsose dan tidak pernah terpisah. Beruk kecil itu bahkan menjadi kesayangan para serdadu. Ketika malam tiba, ia akan gelisah sampai ayam itu diletakkan di atas tongkat kayunya. Setelah itu, beruk tersebut merangkul ayam dengan kaki depannya, lalu keduanya tidur bersama.

Hampir seabad kemudian, saat saya mengunjungi makamnya di tepi sungai Gampong Suaq Bakung, cerita itu terasa tetap dekat. Cut Ali telah tiada, tetapi keberanian, pengorbanan, dan kisah beruk serta ayam yang setia menyertainya menjadi bagian dari ingatan sejarah Aceh yang layak terus diceritakan. (Hasnanda Putra)