Banghas

Nyonya Besar dalam Perang Aceh

25
×

Nyonya Besar dalam Perang Aceh

Sebarkan artikel ini
Pocut Di Rambong , sosok perempuan Aceh yang digelar Belanda Nyonya Besar dalam Perang Aceh (Ai)

Ada nama perempuan dalam sejarah Perang Aceh yang pantas membuat kita berhenti sejenak: Pocut di Rambong. Namanya mungkin tidak setenar Cut Nyak Dhien atau Cut Meutia. Namun, dalam catatan militer Belanda, penangkapannya pada September 1898 disebut sebagai salah satu keberhasilan politik terbesar dalam Ekspedisi Pidie.

Mengapa seorang perempuan bangsawan begitu penting hingga penangkapannya mendapat perhatian khusus dari Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz sampai digelar Nyonya Besar?

Jawabannya bukan semata-mata karena ia keturunan bangsawan. Pocut di Rambong adalah bagian dari kekuatan politik Aceh yang berusaha ditundukkan Belanda.

Ia dikenal sebagai janda Teuku Bentara Keumangan Pocut Osman, penguasa Keumangan yang memiliki kedudukan penting dalam lingkungan VI Uleebalang Gigieng. Setelah suaminya meninggal, pengaruh Pocut tidak ikut terkubur. Ia tetap menjadi tokoh yang diperhitungkan di tengah pergolakan politik dan peperangan di Pidie.

Dalam buku Generaal J.B. van Heutsz tijdens de Pidië-expeditie, terbitan Museum Tentara Aceh tahun 1938, tersimpan catatan menarik tentang perempuan ini. Dokumen tersebut merekam bagaimana Belanda berusaha mematahkan perlawanan melalui operasi militer sekaligus pendekatan politik terhadap para pemimpin setempat.

September 1898 menjadi titik penting dalam kisah Pocut.

Saat itu, Belanda sedang menjalankan Ekspedisi Pidie. Pada awal September, Van Heutsz memimpin pasukan bergerak menuju Keumangan. Operasi militer melibatkan berbagai unsur pasukan, termasuk infanteri, kavaleri, artileri, zeni, dan Marsose.

Sasaran mereka antara lain kawasan Kuta Rambong dan Beureunuen. Dalam operasi tersebut, Pocut di Rambong berhasil ditangkap bersama sejumlah tokoh lain, termasuk Cut Manyak, istri Teuku Ben Peukan dari Meureudu.

Penangkapan itu bukan peristiwa kecil. Belanda mengetahui bahwa Pocut mempunyai pengaruh besar di lingkungan para pemimpin setempat. Keberadaannya dianggap penting dalam jaringan perlawanan yang hendak mereka lumpuhkan.

Namun, cerita tidak berhenti di medan penangkapan.

Setelah Pocut berada dalam kekuasaan Belanda, Van Heutsz mengumpulkan sejumlah pemimpin setempat. Ia kemudian menetapkan syarat pembebasan Pocut: uang tebusan sebesar 25.000 gulden harus dibayarkan.

Jumlah itu sangat besar. Catatan kolonial bahkan menghubungkannya dengan uang yang pernah diberikan pemerintah Belanda kepada suami Pocut pada 20 April 1874, ketika bendera Belanda dikibarkan di Gigieng.

Para pemimpin yang hadir menyatakan tidak sanggup membayar. Mereka bahkan bersedia membuat surat pengakuan utang, tetapi Van Heutsz menolak tawaran tersebut.

Pada 14 September 1898, Pocut dibawa ke Kutaraja untuk menjalani penahanan.

Ada ironi dalam peristiwa ini. Perempuan yang dahulu memiliki kedudukan dan pengaruh di Keumangan kini menjadi tawanan pemerintahan kolonial. Namun, justru dari tindakan Belanda itulah kita dapat membaca betapa penting posisinya.

Catatan militer Belanda menyebut penangkapan Pocut sebagai het grootste politieke succes dari Ekspedisi Pidie—keberhasilan politik terbesar ekspedisi tersebut.

Kalimat itu menarik. Belanda sendiri mengakui bahwa menangkap Pocut bukan sekadar memperoleh seorang tawanan. Peristiwa itu turut memengaruhi hubungan politik mereka dengan para pemimpin setempat.

Tentu, kita tidak bisa menyimpulkan bahwa Pocut sendirian menggerakkan seluruh perlawanan Pidie. Perang Aceh melibatkan banyak tokoh, jaringan kekerabatan, dan kepentingan politik. Namun, perhatian besar Belanda terhadap dirinya memperlihatkan bahwa perempuan Aceh tidak selalu berdiri di pinggir sejarah. Sebagian berada tepat di tengah pusaran kekuasaan.

Bagaimana akhir hidup Pocut di Rambong? Jejaknya setelah dibawa ke Kutaraja masih perlu ditelusuri lebih jauh melalui arsip kolonial. Keterangan yang ada belum cukup untuk memastikan secara meyakinkan kapan ia meninggal atau apakah ia pernah dibebaskan.

Tetapi, ada satu hal yang sudah terang.

Dalam sejarah perang, besarnya pengaruh seseorang kadang justru terlihat dari besarnya usaha pihak lawan untuk menyingkirkannya. Pocut di Rambong mungkin tidak meninggalkan banyak kisah tentang kehidupan pribadinya. Namun, catatan Belanda telah menyimpan pengakuan penting tentang kedudukannya.

Di tengah perang yang panjang, seorang perempuan dari Keumangan pernah menjadi sasaran operasi militer dan tawar-menawar politik seorang jenderal kolonial. Namanya Pocut di Rambong. Dan sejarah Pidie belum selesai menceritakan dirinya. (Hasnanda Putra)