Ada sesuatu yang menarik dalam kisah perburuan Tengku Cik Mayet di Tiro atau dikenal dengan nama asli Teungku Mahyeddin di Tiro di Tangse pada 1910. Bukan semata-mata karena pasukan Marsose Belanda akhirnya berhasil membunuh seorang ulama pejuang, melainkan karena sebuah jejak kecil, sepasang sepatu, dan seekor sapi ikut memainkan peran dalam tragedi di pedalaman Aceh itu.
Kisah ini dicatat H.C. Zentgraaff dalam bukunya, Atjeh. Di balik narasi seorang penulis kolonial, tersimpan cerita tentang kecermatan pasukan pemburu, strategi pengejaran, dan masyarakat yang memilih bungkam demi melindungi tokoh yang mereka hormati.
Schmidt, komandan pasukan Belanda yang ditempatkan di Tangse, sudah lama menunggu kesempatan. Sasarannya adalah Tengku Cik Mayet di Tiro, tokoh terakhir dari keluarga ulama pejuang Tiro atau putra kandung Tengku Chik Di Tiro yang masih bertahan melawan Belanda. Namun, penduduk Tangse bukanlah sumber informasi yang mudah ditembus. Mereka menutup mulut rapat-rapat. Rasa hormat kepada sang ulama membuat rahasia persembunyiannya terjaga.
Petunjuk penting justru datang dari seorang anak yang ditangkap Belanda, putra dari orang yang sedang diburu. Dari keterangan anak itu, muncul gambaran bahwa ayahanda memakai sepatu.
Tetapi Schmidt membutuhkan lebih dari sekadar cerita seorang anak.
Pada akhir Ramadan, menurut Zentgraaff, Keuchik Ben dari Tangse memiliki kebiasaan menyumbangkan hewan sembelihan kepada Tengku Cik Mayet di Tiro untuk keperluan selamatan. Schmidt memanfaatkan kebiasaan itu. Ia memberikan uang kepada Keuchik Ben untuk membeli ternak. Dua utusan dari kelompok Tengku Cik Majet kemudian datang mengambil sapi tersebut untuk dibawa masuk ke hutan.
Di sinilah jebakan mulai bekerja.
Kedua utusan itu diberi tenggang waktu dua hari sebelum pasukan bergerak. Mereka mengira perjalanan membawa sapi ke pedalaman tetap menjadi urusan biasa. Sebaliknya, Schmidt menggunakan jeda tersebut untuk mengatur perburuan. Pada 31 Agustus 1910, pasukannya mulai bergerak.
Mereka menyusuri jalan setapak, menerobos pegunungan, dan meraba-raba medan yang sulit. Pada 1 September, seorang pelacak terkenal bernama Nussy menemukan bekas telapak kaki manusia di dekat Krueng Bale. Setelah menyingkirkan daun-daun yang menutupi jalan, terlihat pula jejak kaki sapi.
Jejak itu tidak mudah diikuti. Orang-orang Aceh berusaha mengelabui pengejar dengan membawa sapi berputar-putar, menghapus bekas tapak dengan air, lalu menutupinya kembali dengan dedaunan. Namun, Nussy mampu membaca tanda-tanda yang nyaris tak terlihat itu. Hutan yang semula menjadi pelindung perlahan berubah menjadi petunjuk bagi musuh.
Pada petang 3 September, pasukan menemukan persembunyian tersebut. Serangan mendadak gagal karena seorang Marsose muda menembakkan karabinnya terlalu dini. Suara tembakan memperingatkan orang-orang di dalam persembunyian, sehingga mereka melarikan diri.
Namun, di tengah kekacauan, pasukan melihat seorang lelaki bertubuh besar, mengenakan jas hitam dan topi, bergerak ke arah berbeda bersama beberapa pengikutnya.
Pengejaran berlanjut. Kali ini, menurut kisah Zentgraaff, perhatian pasukan tertuju pada bekas telapak sepatu. Jejak itu menjadi petunjuk penting untuk membedakan perjalanan sang ulama dari jejak para pengikutnya.
Pada 5 September 1910, di lereng bukit berbatu setelah pengejaran melewati medan yang berat, pasukan akhirnya menemukan lelaki berjas hitam itu sedang beristirahat, dengan karabin di antara kedua lututnya. Kepungan segera dilakukan. Tembakan beruntun memecah kesunyian. Dua peluru menembus jantung Tengku Cik Mayet di Tiro. Ulama pejuang terakhir dari garis Tiro itu gugur.
Tetapi kisahnya tidak berakhir di lereng bukit.
Ketika jenazahnya dibawa ke Tangse, penduduk berdatangan. Mereka merobek kain pembalut yang berlumuran darah menjadi potongan-potongan kecil. Bagi mereka, kain itu bukan sekadar bekas pembungkus jenazah, melainkan benda yang diyakini mengandung kekuatan azimat sekaligus kenang-kenangan suci dari seorang tokoh yang mereka hormati.
Zentgraaff bahkan menulis bahwa potongan kain tersebut masih disimpan secara rahasia oleh sebagian pemiliknya. Jenazah Tengku Cik Mayet kemudian dimakamkan di samping masjid di Pulo Masjid Tangse.
Ada ironi yang kuat di sini. Belanda dapat mengikuti jejak sepatu, menemukan jejak sapi, dan mengepung persembunyian di tengah hutan. Namun, mereka tidak serta-merta dapat menguasai ingatan masyarakat.
Di Tangse, jejak kaki akhirnya membawa pasukan kepada tubuh seorang pejuang. Tetapi potongan kain berdarah, makam yang dirahasiakan, dan sikap bungkam penduduk menunjukkan bahwa kekalahan fisik tidak selalu berarti kekalahan dalam ingatan kolektif. (Hasnanda Putra)











