Banghas

Ketika Belanda Berusaha Menjadi Orang Aceh

44
×

Ketika Belanda Berusaha Menjadi Orang Aceh

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Pegawai Zaman Kolonial Belanda menerapkan strategi pendekatan dengan Masyarakat Aceh (Ai)

Ada satu kisah menarik dari masa panjang Perang Aceh yang memperlihatkan bahwa menghadapi Aceh ternyata bukan hanya soal senapan, meriam, dan pasukan. Ada masa ketika sebagian pejabat Belanda mencoba menempuh jalan lain: mendekati orang Aceh, menyesuaikan diri dengan adat dan simbol-simbol mereka, bahkan berusaha tampil sedekat mungkin dengan lingkungan yang sedang mereka hadapi.

Kisah itu dicatat oleh Henri Carel Zentgraaff dalam bukunya Atjeh. Ia menggambarkan bagaimana, setelah bertahun-tahun perang berlangsung, sebagian orang Belanda mulai menyadari bahwa Aceh bukanlah lawan yang mudah ditaklukkan hanya dengan kekuatan militer.

Yang menarik, pendekatan itu kadang dilakukan dengan cara yang bagi kita hari ini terdengar hampir seperti sebuah cerita.

Dalam salah satu surat yang dikutip Zentgraaff, disebutkan seorang pegawai pemerintahan Belanda yang nama kecilnya Abraham. Ia mempunyai cara sendiri untuk mendekatkan diri kepada para kepala suku Aceh.

Namanya ditulis dalam surat bukan sebagai Abraham, melainkan Ibrahim.

Bukan hanya itu. Ia juga dikisahkan tidak mengenakan topi dan dasi ketika berhadapan dengan orang Aceh, dengan alasan agar tidak menyinggung perasaan keagamaan mereka. Sebagai gantinya, ia mengenakan fez, penutup kepala yang lazim diasosiasikan dengan dunia Muslim.

Dan yang paling menarik: ia tidak keberatan ketika orang Aceh memanggilnya Teuku Ibrahim.

Bayangkan suasananya. Seorang pejabat kolonial Belanda, yang datang sebagai bagian dari pemerintahan yang sedang berperang dengan Aceh, berusaha membangun kedekatan dengan masyarakat setempat melalui nama, pakaian, dan panggilan kehormatan.

Namun kisah itu ternyata belum berhenti di sana.

Zentgraaff juga menceritakan seorang amtenar atau pegawai pemerintah Belanda lainnya yang disebut mengambil langkah lebih jauh. Ia bahkan ikut berzikir bersama orang-orang Aceh dan mendatangi ulama-ulama, dengan harapan melalui pengaruh para ulama tersebut ia dapat memperoleh perhatian dari pihak yang masih mendukung Sultan Aceh.

Di sinilah kita melihat satu sisi lain dari Perang Aceh. Perang yang panjang ternyata melahirkan berbagai cara untuk mencari jalan keluar. Ketika senjata tidak segera menyelesaikan persoalan, muncul upaya membaca masyarakat Aceh dari dekat: siapa yang mereka hormati, apa yang mereka yakini, bagaimana bahasa kehormatan digunakan, dan siapa yang memiliki pengaruh terhadap masyarakat.

Tetapi pendekatan semacam itu juga menimbulkan perdebatan di kalangan Belanda sendiri.

Ada pejabat militer yang menganggap terlalu dekat dengan orang Aceh justru dapat merendahkan martabat pemerintahan kolonial. Ada pula yang menilai bahwa persoalan Aceh tidak mungkin diselesaikan hanya dengan mengejar gerilyawan dari satu tempat ke tempat lain.

Menariknya, dalam sumber yang sama, Zentgraaff memperlihatkan adanya perbedaan pandangan antara kalangan militer dan Christiaan Snouck Hurgronje, tokoh Belanda yang dikenal sangat mendalam mempelajari masyarakat dan agama Aceh.

Perang Aceh akhirnya menjadi perang yang bukan hanya menguji kekuatan senjata, tetapi juga menguji kemampuan memahami masyarakat.

Namun di tengah semua itu, kisah Abraham yang menjadi Ibrahim, lalu menerima panggilan Teuku Ibrahim, terasa seperti sebuah potret kecil tetapi kuat.

Seorang pejabat Belanda boleh saja mengganti topinya dengan fez, namanya dari Abraham menjadi Ibrahim, bahkan menerima panggilan Teuku. Tetapi bagi masyarakat Aceh, kedekatan semacam itu tentu tidak otomatis berarti kepercayaan.

Ia menunjukkan bahwa dalam perang yang panjang, identitas dan simbol pun dapat menjadi bagian dari strategi. Sebab perang bukan hanya tentang siapa yang lebih kuat memukul.

Ia juga tentang siapa yang benar-benar memahami masyarakat yang sedang dihadapinya.

Dan mungkin di situlah salah satu pelajaran paling menarik dari sejarah Perang Aceh: ketika sebuah kekuasaan mulai berusaha memakai nama, pakaian, bahasa, bahkan simbol agama dari masyarakat yang dilawannya, sesungguhnya itu adalah tanda bahwa ia sedang berhadapan dengan masyarakat yang tidak mudah ditaklukkan hanya dengan kekuatan senjata. (Hasnanda Putra)