Banghas

Bukan Bahasa Aceh, Lalu Apa yang Digunakan Sultan Iskandar Muda?

19
×

Bukan Bahasa Aceh, Lalu Apa yang Digunakan Sultan Iskandar Muda?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Sultan Aceh ketika menerima tamu dari berbagai bangsa di dunia (Ai)

Ada pertanyaan sederhana yang jarang kita ajukan ketika membaca kisah kejayaan Sultan Iskandar Muda: bahasa apa yang digunakan di lingkungan kerajaan Aceh pada abad ke-17?

Jawabannya mungkin sedikit mengejutkan.

Aceh adalah negeri yang kita kenal memiliki bahasa Aceh sebagai bahasa masyarakatnya. Tetapi ketika kita masuk ke lingkungan Kesultanan Aceh pada masa Sultan Iskandar Muda (1607–1636), gambarnya menjadi lebih menarik. Bahasa yang memiliki tempat sangat penting dalam dunia tulisan kerajaan ternyata adalah bahasa Melayu.

Keterangan ini dapat ditemukan dalam buku Denys Lombard, Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda (1607–1636).

Lombard secara khusus membahas persoalan bahasa di Aceh pada masa itu. Ia membandingkannya dengan keadaan pada zaman Snouck Hurgronje pada akhir abad ke-19, ketika bahasa Aceh jauh lebih dominan dalam kehidupan sehari-hari.

Namun pada abad ke-17, keadaannya berbeda.

Menurut Lombard, bahasa tulisan di Aceh adalah bahasa Melayu. Bahkan, seluruh naskah yang digunakannya untuk meneliti pemerintahan Sultan Iskandar Muda ditulis dalam bahasa tersebut. Analisis kebahasaan yang ia gunakan juga menunjukkan bahwa pengaruh bahasa Aceh dalam naskah-naskah itu sangat kecil.

Ini bukan sekadar persoalan bahasa.

Di balik pilihan bahasa itu terlihat wajah Aceh sebagai kerajaan yang sedang berada di tengah lalu lintas dunia.

Banda Aceh ketika itu bukan kota yang hidup untuk dirinya sendiri. Pelabuhannya didatangi pedagang, pelaut dan utusan dari berbagai negeri. Aceh berhubungan dengan Gujarat, India, Turki, Persia, Semenanjung Melayu, Cina hingga bangsa-bangsa Eropa.

Dalam dunia seperti itu, bahasa Melayu memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar bahasa sebuah kelompok masyarakat. Ia menjadi lingua franca, bahasa perantara yang memungkinkan orang-orang dari latar belakang berbeda saling memahami.

Menariknya, Lombard mencatat pengalaman beberapa orang Eropa yang datang ke Aceh. Frederik de Houtman, yang pernah lama berada di Aceh, bahkan kemudian mampu membicarakan persoalan agama dalam bahasa Melayu dengan para ahli agama Aceh. Seorang Beaulieu yang tinggal lebih dari setahun juga akhirnya mampu berbicara sehingga dapat dimengerti tanpa penerjemah.

Ada kisah lain yang lebih menarik.

Ketika Beaulieu membawa surat dari Raja Prancis untuk Sultan Iskandar Muda, surat itu harus diterjemahkan ke dalam bahasa Portugis agar dapat dipahami Sultan melalui seorang juru bicara yang menguasai bahasa tersebut.

Bayangkan suasana istana Aceh saat itu.

Seorang utusan Eropa datang membawa surat dari raja jauh di Barat. Surat itu tidak serta-merta dibaca dalam bahasa aslinya. Ia harus melewati jembatan bahasa. Di istana yang sama, orang-orang dari berbagai bangsa berusaha menemukan bahasa yang dapat dipahami bersama.

Dan bahasa yang memiliki kedudukan kuat di tengah lalu lintas itu adalah Melayu.

Lombard bahkan menyimpulkan bahwa bahasa Aceh pada masa tersebut memiliki tempat yang relatif kecil dalam lingkungan pelabuhan internasional Aceh, sedangkan bahasa Melayu menempati posisi yang kuat. Ia menyebut fungsi Melayu sebagai lingua franca pada saat tersebut.

Hal ini juga menjelaskan mengapa sejumlah karya penting yang lahir dari lingkungan intelektual Aceh menggunakan bahasa Melayu.

Naskah-naskah seperti Hikayat Aceh, Adat Aceh, dan karya-karya kesusastraan Islam menjadi bagian dari tradisi tulisan yang memperlihatkan kuatnya kedudukan bahasa Melayu di Aceh. Lombard sendiri menempatkan sumber-sumber berbahasa Melayu sebagai bagian penting dalam merekonstruksi sejarah pemerintahan Iskandar Muda.

Dengan demikian, jangan buru-buru membayangkan istana Sultan Iskandar Muda hanya sebagai ruang tempat bahasa Aceh digunakan dalam segala urusan.

Aceh abad ke-17 adalah sebuah kerajaan dengan banyak lapisan bahasa. Bahasa Aceh hidup di tengah masyarakat. Bahasa Arab kuat dalam agama dan pendidikan Islam. Bahasa Portugis dikenal oleh sebagian pedagang dan pelaut. Tetapi untuk dunia tulisan dan komunikasi luas, bahasa Melayu memiliki tempat yang sangat penting.

Di situlah letak menariknya.

Sultan Iskandar Muda memerintah sebuah kerajaan yang sangat Aceh, tetapi kerajaan itu tidak hidup dalam ruang bahasa yang tertutup.

Ia justru menggunakan bahasa yang memungkinkan Aceh berbicara dengan dunia.

Dan dari lembar-lembar naskah yang ditinggalkan empat abad lalu, kita masih dapat mendengar gema bahasa itu. Bahasa Melayu.

Bahasa yang membuat sebuah kerajaan di ujung Sumatra mampu berbicara jauh melampaui batas negerinya. (Hasnanda Putra)