Bayangkan sebuah armada laut berjumlah ratusan kapal bergerak menuju Melaka.
Layar-layar memenuhi Selat Malaka. Kapal-kapal besar membawa prajurit, persenjataan, perbekalan dan meriam. Dari daratan Aceh, sebuah kekuatan besar sedang dikirim untuk satu tujuan: merebut Melaka dari tangan Portugis.
Itulah salah satu episode paling dramatis dalam sejarah pemerintahan Sultan Iskandar Muda.
Pada tahun 1629, Aceh mengerahkan ekspedisi militer terbesar untuk menyerang Melaka. Sumber-sumber Portugis yang kemudian diteliti para sejarawan menyebut angka sekitar 236 kapal, dengan kekuatan manusia hampir 20.000 orang. Di antaranya terdapat puluhan kapal besar yang dipersenjatai dengan meriam.
Bagi Aceh, Melaka bukan sekadar sebuah kota.
Melaka adalah simpul perdagangan terpenting di kawasan Selat Malaka. Sejak Portugis merebutnya pada 1511, kota itu menjadi benteng penting kekuatan Portugis di Asia Tenggara. Menguasai Melaka berarti memiliki posisi strategis atas salah satu jalur perdagangan laut paling sibuk di kawasan ini.
Karena itulah Sultan Iskandar Muda tidak mengirim pasukan kecil. Ia mengirim armada besar.
Namun sejarah perang sering memperlihatkan sesuatu yang ironis: kekuatan terbesar tidak selalu menentukan hasil pertempuran.
Armada Aceh mengepung Melaka. Pertempuran berlangsung berbulan-bulan. Tetapi Portugis mendapatkan bantuan dari Johor dan kemudian dari Goa. Perlahan, keadaan berubah.
Sebagian kapal Aceh berada di kawasan Sungai Duyong, tidak jauh dari Melaka. Di sinilah keadaan menjadi genting.
Armada yang sangat besar membutuhkan ruang untuk bergerak. Di laut terbuka, jumlah kapal yang banyak bisa menjadi kekuatan. Tetapi ketika kapal-kapal itu berada di perairan yang sempit dan akses keluarnya diblokade, jumlah yang besar justru dapat berubah menjadi persoalan.
Portugis memahami keadaan itu.
Mulut sungai diblokade. Kapal-kapal Aceh tidak mudah keluar. Upaya menerobos kepungan menimbulkan korban. Sumber yang diteliti sejarawan mencatat ratusan orang Aceh gugur dalam pertempuran tersebut.
Kemudian tibalah saat yang pahit.
Pada 4 Desember 1629, Portugis berhasil menguasai sekitar 30 kapal Aceh, lengkap dengan sekitar 130 pucuk artileri. Sebagian armada lainnya dihancurkan atau dibakar oleh orang Aceh sendiri sebelum mereka meninggalkan kawasan tersebut.
Bayangkan pemandangan itu.
Kapal-kapal yang beberapa bulan sebelumnya datang sebagai bagian dari armada besar Aceh, kini terbakar atau jatuh ke tangan musuh. Orang-orang yang selamat meninggalkan kapal dan mencari jalan kembali melalui daratan.
Salah seorang panglima Aceh bahkan tertangkap dan kemudian meninggal dalam perjalanan menuju Goa.
Kisah armada Aceh tidak hanya tentang kekalahan. Namun juga terkait armada kapal induk Aceh yang dicatat sejarah.
Portugis sendiri tampaknya menyadari bahwa mereka baru saja menghadapi sebuah kekuatan laut yang luar biasa. Salah satu kapal besar Aceh bahkan dikenal dalam sumber Portugis dengan nama Espanto del Mundo, yang secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai “Momok Dunia”.
Nama itu sendiri sudah cukup untuk menggambarkan kesan yang ditimbulkan kapal tersebut.
Namun, ada pula kisah lain yang sering tercampur dengan peristiwa 1629.
Pada 1615, sekitar lima puluh kapal Aceh dilaporkan tenggelam dalam sebuah pertempuran melawan Portugis di sekitar Melaka. Jadi, angka kapal yang tenggelam itu tidak seharusnya langsung dikaitkan dengan ekspedisi besar Iskandar Muda tahun 1629.
Justru di sinilah pentingnya membaca sejarah dari berbagai sumber.
Kronik Aceh, laporan Portugis dan penelitian sejarah modern tidak selalu memberikan cerita yang persis sama. Sumber Portugis tentu ingin menunjukkan kemenangan mereka. Sementara sumber Aceh memiliki cara sendiri dalam menjelaskan kegagalan ekspedisi tersebut.
Namun satu hal sulit dibantah: tahun 1629 menjadi salah satu titik paling dramatis dalam sejarah perang Aceh dan Portugis.
Sultan Iskandar Muda datang ke Melaka dengan armada yang sangat besar. Tetapi armada itu akhirnya terperangkap bukan karena jumlah kapal yang sedikit. Melainkan karena laut, sungai, benteng dan strategi perang bertemu pada satu titik.
Di situlah sejarah memberikan pelajaran yang menarik: di medan perang, laut yang luas dapat menjadi jalan menuju kemenangan—tetapi perairan yang sempit dapat berubah menjadi perangkap.
Dan di Sungai Duyong, pada penghujung 1629, sebagian armada besar Aceh menemukan perangkap itu. (Hasnanda Putra)











