News

Mukim Lampuuk Adakan Kenduri Raya Gle Pada Peringatan Rabu Abeh

1165
×

Mukim Lampuuk Adakan Kenduri Raya Gle Pada Peringatan Rabu Abeh

Sebarkan artikel ini
Faiz Nuzula sedang membacakan Ikrar Sri Musim, tampak juga Yasin, Shibran dan Reza Afrizal sedang meniup bereguk pada pembukaan Kenduri Raya Gle, di Pegunungan Empe Mie, Kemukiman Lampuuk, Lhoknga, Aceh Besar, Rabu, (19/2/2025). FOTO/BEDU SAINI

posaceh.com, Kota Jantho – Masyarakat Kemukiman Lampuuk adakan Kenduri Raya Gle sebagai peringatan Rabu Abeh (Rabu akhir menyambut bulan ramadhan) dan pengukuhan kepada tiga petinggi adat dalam matapencarian masyarakat, yang di laksanakan di pegunungan Empe Mie, Kemukiman Lampuuk, Lhoknga, Aceh Besar, Rabu, (19/2/2025).

Kegiatan yang dihadiri Dr Mahdi Efendi perwakilan Pemerintah provinsi (Pemprov) Aceh, Dr Yusran ketua Panitia Khusus (Pansus) Hutan Lindung DPRK Aceh Besar, Camat Lhoknga Muktar Yakob, jajaran Koramil Lhoknga dan Kapolsek Lhoknga.

Kegiatan yang di buka dengan pembacaan ayat suci Al-Quran yang begitu merdu oleh Cut Dina Anjali, merupakan peraih juara pada tingkat provinsi sebagai penyandang disabilitas dan Nora Sufiana sebagai pembaca sari tilawah.

Dilanjutkan dengan pembacaan Sri Musim sebagai bentuk mempertahankan hak individu masyarakat dari hutan lindung yang di bacakan oleh Faiz Nuzula, sekaligus peniupan bereguk oleh tiga pemuda mukim Lampuuk sebagai peresmian pembukaan acara.

Ketua Panitia Khusus (Pansus) Hutan Lindung Dr Yusran DPRK Aceh Besar mengatakan dalam sambutannya, mengakui secara sejarah pegunungan Lampuuk sebelum di klaim menjadi hutan lindung, pegunungan Lampuuk merupakan garapan masyarakat sebagai tempat mata pencairannya.

“Saudara-saudara seperti yang kita lihat, secara historis setelah kami tanyak kepada beberapa orang tua di sekitar, sebelum hutan menjadi hutan lindung, ini adalah garapan masyarakat, itu kalau kita naik ke atas gunung, ada istilah buah durian Lampuuk dan buah durian Lhok Kubang Bui di Lam Badeuk, itu sudah terkenal. Tapi hari ini sudah masuk dalam kawasan hutan lindung dan ini sangat meresahkan masyarakat sebagai tempat pencarian untuk menghidupi keluarganya,” ungkapnya.

Muntaran H Abdullah imum Mukim Lampuuk mengatakan dalam sambutannya, sebagai bentuk menjaga warisan yang di wariskan kepada setiap individu masyarakat oleh leluhurnya, masyarakat mempertahankan hak guna dalam bentuk matapencariannya baik di pegunungan, persawahan dan kelautan.

“Karena di Lampuuk ada tiga musim, yang pertama gunung sebagai tempat penghasil cengkeh yang paling banyak pada dulunya, kedua sawah sebagai tempat menanam padi dan laut sebagai tempat wisata yang begitu indah, makanya kami beri nama Sri Musim sebagai tempat mata pencaharian masyarakat, sebagai warisan leluhur kami harus mempertahankan ini semua,” ungkapnya.

Adapun usai kata penyambutan di lanjutkan dengan Peusijuek ketiga petinggi tokoh adat yaitu Sumardi sebagai Pawang Gle, Imran sebagai Panglima Laot dan Dahlan sebagai Keujruen Blang, penanaman pohon durian, dan santunan anak yatim.

Sebagai hiburan dalam kegiatan tersebut, pemuda Mukim Lampuuk juga menciptakan syair yang mengandung banyak makna sejarah, keagamaan dan jeripayah masyarakat dalam menghidupi keluarganya, yang di bacakan oleh Fuadi Kelayu sambil di iringi biola, kegiatan di tutup dengan pembacaan doa makan kenduri bersama. (Ilham Ramadani)