Daerah

Teror Sekarung Ular Kobra dan Sisi Gelap Pertarungan Politik Jelang Pemilu 2024

2232
×

Teror Sekarung Ular Kobra dan Sisi Gelap Pertarungan Politik Jelang Pemilu 2024

Sebarkan artikel ini

posaceh.com – Bakal Capres dari NasDem, Anies Baswedan berencana mengunjungi rumah mantan Gubernur Banten, Wahidin Halim. Namun jelang kedatangan Anies, rumah Wahidin dilempari ular kobra berbisa.

Puluhan ular kobra masih tersimpan di dalam karung plastik transparan Rabu dini hari (25/1). Puluhan ular itu tergeletak di halaman belakang rumahnya. Tidak ada yang tahu, siapa pelaku yang meletakkan ular kobra tersebut di rumah Wahidin Halim. Wahidin menganggap puluhan ular berbisa itu merupakan teror politik.

“Biasa itu politik tidak beradab, kejahatan politik dengan berbagai cara bagaimana menteror untuk menakut-nakuti,” tegas Wahidin.

Dosen Ilmu Komunikasi dan Dakwah Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Gun Gun Heryanto, meminta aparat penegak hukum, Kepolisian, untuk mengusut pelemparan karung berisi puluhan ular kobra ke kediaman Wahidin Halim (WH) menjelang kedatangan bakal calon Presiden Partai NasDem Anies Baswedan, ke kediaman WH.

“Bagi saya tetap harus kemudian aparat keamanan yang mengusut, lewat CCTV kah pembuktian-pembuktian, nalar-nalar engga bisa spekulatif juga. Saya kalau misal mengatakan bahwa itu teror kan spekulatif,” tegas Gun Gun dihubungi Kamis (26/1).

Menurut pengamat komunikasi politik itu, saat ini masyarakat harus lebih berhati-hati dalam mencerna informasi yang diterima. Sebab periode sekarang ini adalah musim manajemen isu dan manajemen konflik.

“Harus juga dilihat persoalannya apakah memang proses-proses seperti itu indikasi mengarah ke teror atau kontesk persoalan lain. Jadi intinya saya melihat harus ada proses mendudukan persoalan dengan ajeg. Supaya kemudian nalar publik tidak terpolarisasi hanya sekadar berdasarkan referensi pilihan politik,” ucap dia.

“Tapi sampai sekarang agak sulit juga mendeteksi siapa. yang jelas dari dua pihak NasDem dan Anies menyatakan lebih tepatnya teror. Di musim musim politik sejak zaman dahulu sampai sekarang sejarah intimidasi sejarah teror menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari politik elektoral ini salah satu sisi gelap dalam kompetisi,” ungkapnya.

Menurutnya aksi-aksi semacam itu, akan terus berlangsung jika penegak hukum tidak benar-benar serius mengusut kejadian-kejadian semacam itu.

“Dan semakin mendekati puncak eskalasi makin meningkat tuh eskalasinya dan sekarang tambah lagi ada medsos, hate speech dan sebagainya. Dari sisi politik teror dalam bentuk apapun misalkan psywar, initimdasi, jika memang ada seharusnya tidak dilakukan oleh siapapun yang maju berkompetisi termasuk dalam pilpres. Biarkan kompetitifness itu berjalan tetapi jangan juga terburu-buru untuk mengklaim bahwa itu adalah teror,” tegasnya.(Merdeka.com)