ParlementariaPemko Banda Aceh

Wakil Ketua DPRK Banda Aceh Musriadi Dorong Dinkes, Puskesmas dan Lembaga Keistimewaan Aceh Gelar Kampanye Bahaya HIV/AIDS di Sekolah

17
×

Wakil Ketua DPRK Banda Aceh Musriadi Dorong Dinkes, Puskesmas dan Lembaga Keistimewaan Aceh Gelar Kampanye Bahaya HIV/AIDS di Sekolah

Sebarkan artikel ini
Wakil Ketua DPRK Banda Aceh, Dr. Musriadi Aswad, M.Pd FOTO/ MARDG

posaceh.com, Banda Aceh – Wakil Ketua DPRK Banda Aceh, Dr. Musriadi Aswad, M.Pd, mendorong Dinas Kesehatan, Puskesmas, serta lembaga-lembaga keistimewaan Aceh untuk memperkuat edukasi dan kampanye bahaya HIV/AIDS melalui program “Go to School” di seluruh sekolah di Kota Banda Aceh.

Menurut Musriadi, sekolah merupakan salah satu ruang strategis dalam membangun kesadaran generasi muda tentang pentingnya menjaga kesehatan reproduksi, menghindari perilaku berisiko, serta memahami cara pencegahan penularan HIV/AIDS sejak dini.

“Upaya pencegahan harus dimulai dari edukasi. Saya mendorong Dinas Kesehatan, seluruh Puskesmas, serta lembaga keistimewaan seperti Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU), Majelis Adat Aceh (MAA), dan Dinas Syariat Islam untuk bersinergi melaksanakan program Go to School secara berkelanjutan. Pencegahan jauh lebih penting daripada penanganan,” kata Musriadi, Sabtu (1/8/2026).

Ia menjelaskan, melalui program tersebut, tenaga promosi kesehatan dan pemegang program HIV/AIDS di setiap Puskesmas dapat memberikan penyuluhan langsung kepada para siswa mengenai pengertian HIV/AIDS, cara penularan, upaya pencegahan, serta pentingnya membangun perilaku hidup sehat yang sesuai dengan nilai-nilai agama dan budaya Aceh.

Musriadi menilai masa remaja merupakan fase yang sangat rentan terhadap berbagai pengaruh lingkungan. Pada usia tersebut, remaja sedang berada dalam proses pencarian jati diri sehingga memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan sering terdorong untuk mencoba hal-hal baru tanpa mempertimbangkan dampak yang akan ditimbulkan.

“Pergaulan yang tidak terarah dapat menyeret remaja pada penyalahgunaan narkoba, seks bebas, maupun perilaku berisiko lainnya yang dapat meningkatkan potensi penularan HIV/AIDS. Karena itu, mereka harus dibekali dengan pengetahuan yang benar agar mampu melindungi diri,” ujarnya.

Politisi PAN itu menambahkan, penyuluhan HIV/AIDS tidak cukup hanya dilakukan di fasilitas kesehatan atau tempat-tempat umum. Sekolah menjadi lokasi yang paling efektif karena menjadi pusat pembentukan karakter, pengetahuan, dan perilaku generasi muda.

Selain menyampaikan materi kesehatan, Musriadi juga mengusulkan agar program tersebut melibatkan tokoh agama, akademisi, konselor sebaya, serta lembaga keistimewaan Aceh sehingga materi yang diberikan tidak hanya berbasis kesehatan, tetapi juga diperkuat dengan nilai-nilai keislaman, akhlak, dan kearifan lokal Aceh.

“Kolaborasi ini penting agar siswa memperoleh pemahaman yang utuh. Mereka tidak hanya mengetahui aspek medis HIV/AIDS, tetapi juga memahami pentingnya menjaga moral, menjauhi narkoba, serta membangun karakter yang kuat sesuai syariat Islam,” katanya.

Musriadi berharap Pemerintah Kota Banda Aceh dapat menjadikan program Go to School Bahaya HIV/AIDS sebagai agenda rutin yang melibatkan lintas sektor, sehingga mampu meningkatkan literasi kesehatan masyarakat sekaligus melindungi generasi muda dari ancaman penyebaran HIV/AIDS.

“Melindungi generasi muda adalah investasi masa depan daerah. Edukasi yang masif, berkelanjutan, dan melibatkan semua pihak merupakan langkah strategis untuk menekan penyebaran HIV/AIDS sekaligus mewujudkan Banda Aceh sebagai kota yang sehat, religius, dan berkarakter,” pungkasnya.(Mar)