Banghas

Teungku Fakinah, Kisah Perempuan Pejuang dari Aceh Besar

928
×

Teungku Fakinah, Kisah Perempuan Pejuang dari Aceh Besar

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Teungku Fakinah (google)

Lamkrak. Subuh masih pekat. Kabut mengucur di pucuk-pucuk pinang, menyusup di sela surau tua, menetes pada papan-papan jendela Mesjid Tuha — tempat yang menyimpan jejak seorang perempuan yang tak gentar menukar sunyi dengan gelegak senjata. Namanya: Teungku Hj. Fakinah.

Orang-orang Lamkrak menuturkan, di serambi masjid inilah kadang terdengar suara angin seperti menyalin doa-doa yang pernah Teungku Fakinah bisikkan: “Jika tak dapat aku wariskan emas, biarlah aku wariskan keberanian.”

Ia lahir di mukim ini, pada 1856. Seorang anak perempuan dari Datuk Muhammad, petinggi Kesultanan Aceh Darussalam, dan Cut Fathimah, sang ibu teduh bagai embun di ranting kelapa. Sejak kanak-kanak, Fakinah menapaki pelataran pesantren ayahnya.

Lamkrak kala itu bukan sekadar kampung, melainkan denyut pengetahuan. Pagi-pagi buta, anak-anak belajar di bawah lampu cempor, suara iqamat bersahut dengan kicau murai. Dan di antara santri perempuan, berdirilah Fakinah — rambutnya dikuncir rapi, matanya tajam menyimpan tekad yang kelak akan menyalakan genderang perang.

Ketika Belanda menapakkan sepatu di tanah Aceh pada 1873, Fakinah baru 17 tahun. Suaminya, Teungku Ahmad — sudah lebih dulu merasakan sengatan mesiu. Seumur jagung pernikahan mereka, belum genap dua musim panen, Fakinah harus menatap tubuh Ahmad terbaring tanpa nyawa.

Lamkrak pun berubah. Dari sepotong mukim sunyi, menjadi panggung gerilya. Di bawah pohon ketapang, Fakinah berdiri memanggil rakyatnya. Ia membentuk pasukan, konon empat batalion gagah, sebagian besar perempuan: ibu-ibu, gadis belia, janda perang — semua bersumpah pada sebilah rencong. Jika para suami gugur, maka mereka sendirilah yang akan menebus tanah pusaka.

“Jangan kau takut menjadi abu,” begitu katanya di muka pasukan. “Karena dari abu, tumbuh bara. Dan bara yang kita tanam hari ini akan menjadi suluh bagi anak cucu.”

Dalam suatu riwayat, sekitar Juni 1896 tentara Belanda dengan pasukan cukup besar, di bawah pimpinan Kernal J.W. Stempoot pernah melakukan serangan umum terhadap kubu pertahanan Teungku Fakinah di daerah Lam Krak, namun gagal total biarpun dikepung hampir dua bulan lamanya.

Bukan hanya rencong yang ia ayunkan. Teungku Fakinah juga mengumpulkan dana amal, memanggul karung padi, menukarkan gelang emas untuk peluru. Ia mengabarkan pada rakyat: jihad bukan hanya di medan sabung nyawa, tetapi juga di periuk-periuk yang harus tetap mendidih.

Pernah Panglima Polem, sang sahabat senasib, memanggilnya: “Fakinah, engkau api. Tapi api ini perlu pula mematangkan akal. Kembali ke Lamkrak, rawatlah generasi.”

Begitulah. Setelah tahun-tahun bergerilya, pada 1910, di usia 54, Teungku Fakinah pulang ke Lamkrak. Ia pulang bukan dengan tangan hampa, melainkan membawa pengalaman panjang, membawa nama yang harum di lidah rakyat. Tahun 1915, ia berangkat haji. Sepulang dari Tanah Suci, ia membangun kembali Dayah, merajut mimpi para perempuan Aceh agar tak hanya tangguh menggenggam rencong, tapi juga pena.

Hingga di usia 76 tahun, pada 1933, Teungku Fakinah menutup mata di Lamkrak. Di bawah langit yang pernah menyaksikan doa dan gelegak peluru, ia beristirahat tenang.

Kini, Mesjid Tuha di Blang Miro, Mukim Lamkrak berdiri seperti nyala pelita. Tiang kayunya menahan riwayat. Atapnya menadah hujan dan desir angin yang seolah membawa kabar:
Di sini, seorang perempuan pernah berdiri. Tubuhnya kecil, hatinya samudera. Namanya akan selalu diucapkan, di atas mimbar, di syair-syair, dan di dada rakyat yang merdeka. (Hasnanda Putra)