Di sebuah malam basah di bivak Cot Dah, Lhokseumawe, Juli 1899, seorang fuselier KNIL asal Ambon bernama Kamby berdiri di antara dua pilihan: tetap setia pada seragam kolonial yang memukulnya, atau menghilang ke gelap rimba Aceh yang selama ini diperintahkannya untuk ditaklukkan. Kisah ini dikutip dari Historia dan sumber sejarah lainnya.
Ia memilih lenyap.
Kamby bukan nama besar dalam lembar sejarah Hindia Belanda. Ia bukan panglima, bukan uleebalang, bukan pula tokoh yang diabadikan dalam monumen. Namun dari sosok biasa inilah terselip kisah luar biasa: seorang prajurit Batalyon Infanteri ke-3 KNIL yang diduga membelot, membawa senjata dan keahlian menembaknya, lalu menyeberang ke barisan pejuang Aceh.
Laporan kolonial menyebut awal kisah itu nyaris sepele. Kamby yang sedang sakit meminta izin. Bukannya dirawat, ia justru dipukuli sersan dan tetap diperintahkan berjaga malam menghadapi kemungkinan serangan gerilyawan Aceh. Setelah tugas itu selesai, ia hilang dari pos. Bagi Belanda, ia desertir. Tetapi bagi Perang Aceh, hilangnya seorang penembak jitu terlatih adalah retakan berbahaya dalam tubuh kolonial sendiri.
Akhir abad ke-19, Perang Aceh telah berubah menjadi rawa panjang yang menguras segalanya. Belanda mendatangkan serdadu dari berbagai wilayah—Ambon, Jawa, Manado—untuk menaklukkan tanah yang tak kunjung tunduk. Namun di medan yang penuh malaria, penyergapan, dan disiplin brutal, tak semua prajurit mampu bertahan secara batin.
Kamby tampaknya salah satunya.
Jejak berikutnya jauh lebih mengejutkan. Ia disebut masuk ke jaringan Panglima Polem—salah satu figur paling disegani dalam perlawanan Aceh. Di sana, Kamby bukan lagi sekadar buronan. Ia adalah aset: penembak jitu yang memahami taktik, senjata, dan cara berpikir KNIL.
Kisah Kamby sesungguhnya bukan peristiwa tunggal. Dalam sejarah panjang Perang Aceh, ia hanyalah satu dari sekian serdadu kolonial—terutama kalangan Indo, Ambon, atau pribumi dalam dinas Belanda—yang pada titik tertentu memilih berbalik arah. Ada yang jatuh hati pada perempuan Aceh lalu melebur ke dalam kehidupan kampung, ada yang terpikat oleh keberanian dan kehormatan para pejuang, dan tak sedikit pula yang membelot karena muak dihina, dipukul, atau dipandang rendah oleh perwira Belanda sendiri.
Tetapi kisah Kamby bukan hanya tentang pindah kubu. Di tengah pelariannya, ia disebut dirawat di Paya Bakong ketika sakit parah, lalu hidup bersama komunitas Aceh di bawah perlindungan tokoh-tokoh lokal. Dalam proses itu, ia memeluk Islam dan berganti nama menjadi Djohan. Sebuah perubahan yang bukan sekadar soal agama, tetapi juga penanda lahirnya identitas baru: dari serdadu kolonial menjadi manusia yang memutus hubungan dengan masa lalunya.
Tiga tahun lebih Kamby hidup bersama pihak Aceh. Bagi Belanda, ia dianggap pengkhianat berbahaya, bahkan dituduh bertanggung jawab atas jatuhnya korban dari bekas rekan-rekannya. Namun pihak Aceh memberi versi berbeda: Kamby dijaga ketat dan tidak sembarang diterjunkan. Ia lebih bernilai hidup sebagai simbol bahwa bahkan serdadu KNIL pun bisa berbalik arah.
Pada September 1903, kisah itu berbelok lagi. Kamby menyerahkan diri di Pasai. Mengapa? Mungkin lelah. Mungkin rindu hidup biasa. Mungkin pula karena perang telah mengajarkannya bahwa berpindah pihak tidak selalu berarti menemukan rumah.
Setelah kembali, ia justru dijauhkan dari sesama serdadu Ambon KNIL karena dianggap noda. Di mata kolonial, ia terlalu berbahaya untuk dipercaya; di mata banyak bekas kawannya, ia adalah aib.
Maka Kamby pun hidup sebagai sosok di antara dua dunia—tak lagi sepenuhnya milik Belanda, tetapi juga tak pernah benar-benar tercatat sebagai pahlawan Aceh.
Dan di situlah daya pikatnya.
Kisah Kamby adalah pengingat bahwa Perang Aceh bukan sekadar benturan antara penjajah dan yang dijajah. Ia juga perang batin, perang harga diri, perang tentang manusia biasa yang pada satu malam gelap memilih meninggalkan baraknya sendiri.
Selebihnya, sejarah hanya mencatat: seorang penembak jitu menghilang. Lalu namanya tinggal jejak. (Hasnanda Putra)











