Banghas

Teror Maop dalam Perang Aceh

36
×

Teror Maop dalam Perang Aceh

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Teror Maop atau Hantu dalam Perang Aceh (Ai)

Di tengah rawa-rawa sunyi dekat Kutaraja (Banda Aceh-saat ini), ketika Perang Aceh belum juga padam oleh mesiu dan darah, berdirilah sebuah benteng kecil yang lebih menyerupai pulau terkutuk daripada pos militer. Benteng itu terpencil, dikepung hutan lebat, kebun tebu, rawa, nyamuk, dan bayang-bayang maut. Bagi serdadu Belanda atau Marsose yang berjaga di sana, musuh bukan hanya peluru rencong dari pejuang Aceh—tetapi juga sesuatu yang mereka yakini lebih menyeramkan: maop, sebutan dalam bahasa Aceh untuk hantu.

Kisah ganjil ini berasal dari catatan Letnan Schoemaker, yang kemudian diceritakannya kepada Letnan H. Aars, lalu ditulis dalam buku Tjerita-Tjerita dari Negeri Atjee (1891). Sebuah kesaksian kolonial yang justru membuka bagaimana perang di Aceh bukan sekadar adu senjata, melainkan juga perang urat saraf, psikologi, dan keberanian yang menembus batas nalar.

Benteng itu terkenal buruk. Siapa pun yang ditempatkan di sana kerap jatuh sakit. Para serdadu hidup pucat, kurus, dan gelisah. Setiap malam mereka digigit ribuan nyamuk, sementara setiap langkah di luar benteng bisa berarti maut oleh sergapan pejuang Aceh. Namun teror terbesar justru datang dari sebuah kuburan kecil di dekat benteng.

Tepat tengah malam, para penjaga mulai melihatnya. Sosok berpakaian putih. Diam. Berdiri di antara pusara.

Awalnya hanya seorang penjaga Jawa yang melapor dengan tubuh gemetar. Ia bersumpah melihat “setan” di kuburan. Letnan jaga menertawakan, mengira itu hanya batang kayu atau ilusi malam. Tetapi malam berikutnya, sosok putih itu muncul lagi. Dan lagi. Selalu pukul dua belas. Selalu di tempat yang sama.

Ketakutan menyebar lebih cepat daripada malaria. Para serdadu pribumi, terutama yang berasal dari Jawa, mulai dicekam cerita pocong dan penunggu rawa. Bahkan jebakan yang dipasang beberapa kali tak pernah berhasil. Anehnya, setiap benteng bersiap menyergap, sosok itu lenyap. Namun saat penjagaan lengah, ia muncul kembali—lalu tertawa dari kegelapan.

Bagi banyak serdadu, itu bukan manusia. Itu maop dari tanah Aceh.

Tetapi seorang sersan Jawa bernama Wakidin menolak percaya. Baginya, hantu tak mungkin membawa strategi. Dengan izin komandan, ia menyelinap keluar benteng seorang diri. Berbekal pistol dan keris, ia bersembunyi di bawah rumah panggung orang Aceh di tepi hutan.

Di sanalah rahasia itu terbuka.

Malam itu, puluhan pejuang Aceh berkumpul. Di tengah mereka berdiri seorang imam berjubah putih, bersorban, bersenjata, memimpin doa dan memberi perintah. Sosok “hantu” itu ternyata bukan makhluk gaib, melainkan manusia hidup—pemimpin perang yang sengaja menggunakan teror supranatural untuk mengguncang mental lawan. Kuburan kecil itu hanyalah kedok. Di bawahnya tersembunyi gudang senjata rahasia.

Wakidin kembali ke benteng membawa kabar yang mengubah ketakutan menjadi kesiagaan. Lubang rahasia di kuburan dibongkar. Senjata-senjata ditemukan. Meriam disiapkan. Dan ketika tengah malam berikutnya “setan” itu datang lagi, kali ini ia tidak sendiri.

Ratusan pejuang Aceh menyerbu dari rawa dan hutan, dipimpin sang imam berjubah putih. Dalam cahaya suar, sosok yang semula dianggap hantu berubah menjadi panglima perang. Ia maju paling depan, menghunus klewang, menembus tembakan, seolah maut bukan ancaman.

Pertempuran meledak dahsyat. Benteng seperti gunung api. Senapan, meriam, api, teriakan takbir, dan terompet perang memenuhi malam Aceh. Pasukan Belanda akhirnya bertahan, tetapi dengan satu kesadaran baru: yang mereka hadapi bukan sekadar pemberontak, melainkan musuh yang memahami betul bagaimana rasa takut bisa menjadi senjata.

Saat fajar menyingsing, sosok berjubah putih itu ditemukan tewas di depan gerbang benteng, masih menggenggam senjata. “Hantu” itu mati sebagai manusia—tetapi keberaniannya menjadikannya legenda.

Di tanah Aceh, bahkan maop pun bisa menjadi bagian dari strategi perang. Dan bagi serdadu kolonial yang datang dengan senapan modern, malam-malam di rawa Kutaraja mengajarkan satu hal: kadang-kadang, yang paling menakutkan bukanlah hantu… melainkan keberanian manusia yang rela mati demi tanahnya. (Hasnanda Putra)