Banghas

Jejak Karbala di Tanah Rencong

256
×

Jejak Karbala di Tanah Rencong

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi tradisi kenduri Asan Usen (Ai)

Di Aceh, datangnya bulan Muharram tidak selalu ditandai dengan khutbah panjang atau ceramah sejarah. Di banyak gampong, ia justru hadir dalam aroma dapur: santan yang mendidih, beras yang diaduk perlahan, buah-buahan yang dipotong, dan kue-kue tradisional yang ditata di atas talam besar. Masyarakat menyebutnya kenduri Asan Usen.

Nama “Asan Usen” sendiri adalah sebutan Aceh untuk Hasan dan Husain, dua cucu Nabi Muhammad. Nama ini menarik perhatian para sejarawan karena sangat berkaitan dengan peristiwa besar dalam sejarah Islam: tragedi Karbala pada 10 Muharram tahun 680 M. Dalam tradisi Syiah, peristiwa ini diperingati sebagai hari berkabung atas gugurnya Husain bin Ali.

Namun di Aceh, kisah itu tidak hadir dalam bentuk ratapan. Ia hadir dalam bentuk kenduri.

Di banyak tempat di Aceh, masyarakat memasak kanji acura—bubur khas Muharram yang berisi beras, santan, kacang-kacangan, dan berbagai buah. Bubur itu dimasak dalam kuali besar secara gotong royong. Setelah matang, makanan dibagikan kepada masyarakat, anak-anak, dan orang yang lewat.

Tradisi ini sering dianggap sebagai salah satu jejak sejarah panjang interaksi Aceh dengan dunia Islam yang lebih luas. Sejak abad ke-13, pelabuhan di pesisir utara Aceh telah didatangi pedagang dari Gujarat, Arab, dan Persia. Dari jalur perdagangan inilah berbagai tradisi Islam ikut berlayar ke Nusantara, termasuk kisah-kisah tentang keluarga Nabi dan tragedi Karbala.

Jejaknya juga terlihat dalam sastra Aceh lama. Hikayat seperti Hikayat Asan Usen atau kisah Muhammad Hanafiah menceritakan kepahlawanan keluarga Nabi dan peristiwa Karbala. Hikayat-hikayat ini dulu sering dibacakan di meunasah atau dalam acara kenduri.

Namun seperti banyak tradisi di Aceh, cerita besar dari Timur Tengah itu akhirnya berubah menjadi adat lokal. Aceh tetap dikenal sebagai wilayah yang kuat berpegang pada mazhab Syafi‘i, sementara tradisi Asyura berkembang lebih sebagai budaya komunal daripada ritual teologis.

Di pedalaman Aceh, nuansa itu terasa lebih sederhana dan hangat.

Salah satu kenangan kecil datang dari kawasan Mane Geumpang, di pedalaman Pidie. Di sana, kenduri Asan Usen tidak selalu berupa bubur besar seperti di kota. Kadang ia hadir dalam bentuk kenduri buah dan kue-kue kampung.

Pada suatu masa, ketika suasana gampong masih tenang dan kehidupan berjalan perlahan mengikuti musim, masyarakat berkumpul di meunasah membawa apa saja yang ada di kebun dan dapur. Ada pisang masak pohon, kelapa muda, ubi rebus, kue timphan, dan berbagai kue sederhana yang dibuat di rumah-rumah.

Anak-anak duduk berderet menunggu giliran. Orang tua berbincang tentang sawah, kebun, dan kabar dari gampong sebelah. Tidak ada yang berbicara tentang Karbala atau sejarah Persia. Tetapi tanpa disadari, mereka sedang merawat sebuah tradisi yang akarnya menjalar jauh ke masa lalu Islam.

Di tengah keramaian kecil itu, suasana kenduri terasa berbeda dari hari biasa. Ada semacam rasa sakral yang lembut—bukan kesedihan, melainkan penghormatan. Orang-orang menyebut bulan itu sebagai bulan Asan Usen, seolah dua nama itu telah lama menjadi bagian dari bahasa Aceh.

Kenangan seperti inilah yang membuat tradisi Asan Usen di Aceh unik. Ia bukan sekadar ritual agama, tetapi juga ingatan budaya yang diwariskan turun-temurun. Di dapur gampong, dalam talam berisi buah dan kue, sejarah panjang dunia Islam menemukan bentuk yang sederhana.

Bagi sebagian sejarawan, kenduri ini mungkin menyimpan jejak lama pengaruh Syiah yang datang melalui pedagang Persia atau Gujarat berabad-abad lalu. Namun bagi masyarakat Aceh sendiri, kenduri Asan Usen tidak pernah dipahami sebagai perbedaan mazhab. Ia hanyalah bagian dari adat, dari kebersamaan, dan dari penghormatan kepada keluarga Nabi.

Seperti banyak tradisi Aceh lainnya, ia hidup tenang di antara dua dunia:
antara sejarah besar dan kehidupan gampong yang sederhana.

Dan mungkin justru di situlah kekuatannya—tradisi yang datang dari tragedi jauh di Karbala, tetapi di Aceh berubah menjadi kenduri kebersamaan. (Hasnanda Putra)