Banghas

Kisah Buronan Aceh dengan Santai Menikmati Limun dan Cerutu Sang Kapten Belanda

20
×

Kisah Buronan Aceh dengan Santai Menikmati Limun dan Cerutu Sang Kapten Belanda

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi pejuang Aceh yang jadi buronan Belanda dengan santai menikmati cerutu dan limun di rumah kapten Belanda (Ai)

Perang Aceh melahirkan banyak kisah yang terdengar mustahil. Ada pejuang yang menghilang di balik rimba, ada perempuan yang menyelundupkan pesan tanpa diketahui musuh, dan ada pula cerita yang begitu ironis hingga dicatat sendiri oleh seorang penulis Belanda.

Kisah itu dimuat H.C. Zentgraaff dalam bukunya Atjeh. Sebuah cerita tentang seorang kapten Belanda yang dipaksa menelan rasa malu di rumahnya sendiri.

Pada masa Perang Aceh, sebagian opsir Belanda memelihara perempuan Aceh sebagai concubine atau nyai. Dalam pandangan pemerintah kolonial, hubungan itu bukan semata-mata urusan pribadi. Perempuan-perempuan tersebut dianggap dapat membantu para opsir mempelajari bahasa Aceh, memahami adat istiadat, bahkan membuka jalan untuk mengenal kehidupan masyarakat yang selama ini sulit mereka kuasai.

Belanda percaya bahwa untuk menaklukkan Aceh tidak cukup hanya dengan senjata. Mereka juga harus memahami jiwa masyarakatnya.

Namun, seperti diakui Zentgraaff, hubungan itu tidak pernah benar-benar membuat Belanda merasa aman. Rasa saling curiga tetap ada. Bahkan, tidak sedikit hubungan yang justru menyeret para opsir ke dalam keadaan yang memalukan atau berbahaya.

Salah satu peristiwa paling menarik dialami seorang kapten Belanda yang identitasnya sengaja disamarkan oleh Zentgraaff.

Suatu hari, setelah berhari-hari memimpin patroli menyusuri hutan Aceh untuk memburu seorang panglima yang terkenal licin, sang kapten pulang ke rumah dalam keadaan lelah.

Ia melangkah ke serambi belakang. Seketika langkahnya terhenti. Di hadapannya, beberapa orang Aceh sedang duduk santai bersama nyainya. Mereka berbincang tanpa beban. Di atas meja tersaji limun milik sang kapten. Cerutu terbaiknya berpindah tangan dan dinikmati para tamu dengan tenang.

Pemandangan itu saja sudah cukup mengejutkan.

Namun, kejutan terbesar baru datang sesaat kemudian.

Di antara para tamu itu, sang kapten mengenali seorang lelaki yang wajahnya sangat dikenalnya. Lelaki itulah yang selama berbulan-bulan menjadi sasaran patroli Belanda. Berkali-kali dikejar hingga masuk ke hutan-hutan paling lebat, tetapi selalu berhasil lolos.

Kini, orang yang tidak pernah dapat ditemukan di hutan justru duduk tenang di rumah sang pemburu.

Yang lebih mengherankan, tidak ada kepanikan sedikit pun.

Para tamu itu tetap menikmati hidangan. Bahkan mereka membungkukkan badan memberi salam kepada sang kapten dengan sopan, sebagaimana adat Aceh menghormati tuan rumah.

Seolah-olah tidak sedang terjadi perang. Seakan mereka hanyalah tamu biasa yang datang bersilaturahmi.

Kapten Belanda itu berada dalam situasi yang nyaris mustahil. Sebagai seorang perwira, ia seharusnya menangkap buronan tersebut saat itu juga.

Namun, sebagai pejabat kolonial, ia sadar betul akibat yang akan diterimanya bila peristiwa itu diketahui atasan. Bagaimana mungkin seorang pemberontak yang paling dicari bisa keluar masuk rumah seorang kapten Belanda? Bagaimana mungkin musuh menikmati minuman dan cerutu miliknya sendiri?

Menurut Zentgraaff, sang kapten akhirnya memilih diam. Ia menahan amarah dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Dalam ungkapan Prancis yang digunakan Zentgraaff, ia harus bonne mine à mauvais jeu—memasang wajah tenang dalam keadaan yang sangat tidak menguntungkan.

Setelah puas berbincang, para tamu itu pun berdiri. Mereka kembali memberi salam dengan penuh sopan santun. Lalu pergi meninggalkan rumah sang kapten. Tanpa satu pun ditangkap. Tanpa satu pun tembakan dilepaskan.

Ironisnya, setelah kejadian itu pasukan Belanda masih harus menghabiskan waktu berbulan-bulan menyisir hutan Aceh untuk memburu orang yang sebenarnya pernah duduk santai di rumah komandannya sendiri.

Zentgraaff memang tidak pernah menjelaskan secara rinci siapa perempuan Aceh itu atau bagaimana hubungan sebenarnya dengan para pejuang. Karena itu, kita tidak dapat memastikan bahwa ia bertindak sebagai mata-mata atau bagian dari jaringan perlawanan. Akan tetapi, kisah ini menunjukkan betapa rapuhnya rasa aman yang dibangun pemerintah kolonial. Bahkan ruang yang mereka anggap paling pribadi pun belum tentu benar-benar berada dalam kendali mereka.

Di tengah perang yang panjang, orang Aceh tidak hanya bertempur dengan rencong dan senapan. Mereka juga mengandalkan keberanian, kecerdikan, jaringan kepercayaan, dan kemampuan memanfaatkan setiap kelengahan lawan. Perlawanan tidak selalu terjadi di balik benteng atau di lereng gunung. Kadang-kadang, ia hadir dalam percakapan yang tampak biasa, di beranda sebuah rumah, sambil menikmati segelas limun dan sebatang cerutu milik musuh.

Barangkali, itulah sebabnya Perang Aceh berlangsung begitu lama. Yang dihadapi Belanda bukan sekadar pasukan bersenjata, melainkan sebuah masyarakat yang mampu menjadikan ruang-ruang paling tak terduga sebagai bagian dari medan perjuangan.
(Hasnanda Putra)