Opini

Sepak Terjang Seorang Bidan: Ketulusan dan Perjuangan di Balik Tugas Mulia

702
×

Sepak Terjang Seorang Bidan: Ketulusan dan Perjuangan di Balik Tugas Mulia

Sebarkan artikel ini
Hari Susanti (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh Hari Susanti*

MENJADI bidan bukanlah pekerjaan biasa bagi saya. Profesi ini bukan sekadar rutinitas harian atau sekadar mencari nafkah, tetapi sebuah panggilan jiwa yang saya jalani dengan penuh tanggung jawab dan cinta.

Sejak pertama kali mengenakan seragam kebidanan, saya sadar bahwa tugas ini menuntut lebih dari sekadar keterampilan medis — profesi ini menuntut empati, kesabaran, dan keikhlasan untuk melayani sesama manusia di momen paling krusial dalam hidup mereka: kelahiran.
Perjalanan saya sebagai bidan dimulai ketika saya menempuh pendidikan di akademi kebidanan.

Saat itu saya menyadari betapa pentingnya peran seorang bidan dalam menyelamatkan dua nyawa sekaligus — ibu dan bayi. Saya masih ingat betapa besar rasa tanggung jawab yang tumbuh di hati saya setiap kali belajar tentang proses persalinan dan kesehatan reproduksi. Saya tahu, di kemudian hari, saya tidak hanya akan menjadi tenaga medis, tetapi juga menjadi penopang harapan dan ketenangan bagi banyak ibu.

Setelah menyelesaikan pendidikan dan memperoleh gelar Ahli Madya Kebidanan, saya memutuskan untuk mengabdikan diri di daerah pedesaan yang jauh dari pusat kota. Banyak orang bertanya mengapa saya memilih tempat yang penuh keterbatasan. Jawaban saya sederhana: karena di sanalah peran bidan paling dibutuhkan. Di tempat di mana fasilitas kesehatan minim dan akses sulit, bidan adalah garda terdepan keselamatan ibu dan anak. Saya ingin kehadiran saya benar-benar memberi arti bagi masyarakat yang mungkin belum tersentuh layanan kesehatan yang layak.

Pengalaman Tak Terlupakan

Hari-hari pertama bekerja di desa adalah pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan. Saya harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, memahami budaya masyarakat, dan belajar berkomunikasi dengan cara yang sederhana agar pesan kesehatan bisa diterima.

Banyak ibu yang masih mempercayai mitos seputar kehamilan dan persalinan, sehingga saya harus sabar memberi penjelasan dengan pendekatan yang lembut. Saya percaya bahwa edukasi adalah kunci utama untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan ibu dan anak.

Saya masih ingat satu malam yang menjadi pengalaman berharga dalam perjalanan hidup saya sebagai bidan. Sekitar pukul dua dini hari, seorang suami datang tergesa-gesa mengetuk pintu rumah saya. Istrinya akan melahirkan, dan kondisi rumah mereka jauh di pedalaman. Tanpa berpikir panjang, saya langsung membawa perlengkapan dan berangkat menembus gelap malam.

Saat itu listrik padam, jalan berlumpur, dan hujan turun deras. Namun, saya tahu tidak ada waktu untuk menunggu. Dengan hanya berbekal lampu senter, saya menolong proses persalinan di rumah sederhana itu.
Syukur Alhamdulillah, bayi dan ibunya selamat. Momen itu membuat saya semakin yakin bahwa profesi ini adalah bentuk pengabdian yang suci.

Setiap kali melihat bayi pertama kali menangis, saya selalu merasa haru. Tangisan itu seperti musik kehidupan, tanda bahwa perjuangan seorang ibu dan kerja keras seorang bidan tidak sia-sia. Ada kepuasan batin yang tidak bisa diukur dengan apa pun. Di situlah saya menyadari bahwa kebahagiaan seorang bidan lahir dari rasa syukur karena bisa menjadi bagian kecil dari keajaiban kehidupan.

Selain menjalankan tugas klinis, saya juga berusaha aktif memberikan penyuluhan kepada masyarakat. Saya sering mengadakan kegiatan edukasi tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan rutin, gizi ibu hamil, serta perawatan bayi baru lahir. Saya percaya bahwa dengan pengetahuan yang cukup, angka komplikasi persalinan dapat berkurang. Melihat ibu-ibu di desa mulai sadar untuk memeriksakan diri secara teratur adalah salah satu pencapaian yang saya banggakan.

Tentu, perjalanan ini tidak selalu mudah. Ada kalanya saya merasa lelah secara fisik dan mental. Saya juga pernah menghadapi penolakan dari sebagian masyarakat yang masih enggan mempercayai tenaga kesehatan. Namun, saya belajar untuk tetap tenang dan tidak menyerah.
Saya tahu perubahan tidak bisa terjadi dalam semalam. Dibutuhkan waktu, kesabaran, dan kepercayaan yang dibangun melalui tindakan nyata. Dengan pelayanan yang tulus dan komunikasi yang baik, sedikit demi sedikit kepercayaan itu tumbuh.

Dalam dunia yang terus berkembang, tantangan profesi bidan juga berubah. Kini masyarakat lebih mudah mengakses informasi kesehatan melalui internet, namun sayangnya tidak semua informasi tersebut benar.

Oleh karena itu, saya mencoba memanfaatkan media sosial untuk berbagi edukasi yang benar seputar kehamilan dan kesehatan reproduksi.
Saya ingin agar para ibu mendapatkan pengetahuan yang akurat, sehingga bisa mengambil keputusan terbaik untuk kesehatannya. Dunia digital membuka peluang baru bagi saya untuk menjangkau lebih banyak orang, tidak hanya di desa tempat saya bertugas, tetapi juga di luar wilayah itu.

Saya percaya bahwa menjadi bidan bukan hanya soal menolong persalinan, melainkan juga tentang menjadi sahabat dan pendengar yang baik. Banyak ibu yang membutuhkan dukungan emosional, terutama menjelang kelahiran. Dalam situasi penuh kecemasan, kata-kata lembut dan sentuhan hangat dari seorang bidan bisa memberi kekuatan luar biasa. Saya belajar untuk hadir bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional dan spiritual bagi pasien-pasien saya.

Menemukan Makna Kehidupan

Profesi bidan telah mengajarkan saya arti sesungguhnya dari ketulusan. Setiap peluh dan air mata dalam menjalankan tugas adalah bagian dari perjuangan untuk kehidupan yang lebih baik. Saya tidak pernah menyesal memilih jalan ini, meskipun kadang penuh tantangan. Justru dari tantangan-tantangan itu saya menemukan makna kehidupan dan rasa syukur yang mendalam.

Saya yakin, peran bidan seperti saya dan rekan-rekan sejawat di seluruh Indonesia sangat penting dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Kami adalah bagian dari sistem kesehatan masyarakat yang bekerja di garis depan, berkolaborasi dengan dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya. Karena itu, saya berharap pemerintah dan masyarakat semakin menghargai profesi bidan — baik dengan dukungan fasilitas, pelatihan, maupun penghargaan yang layak.

Setiap kali saya menyambut kelahiran bayi baru, saya selalu merasa bahwa saya juga sedang melahirkan harapan baru bagi bangsa ini. Itulah mengapa saya akan terus berusaha memberikan yang terbaik, di mana pun saya berada. Saya percaya, sekecil apa pun peran seorang bidan, dampaknya sangat besar bagi kehidupan manusia.

Bagi saya, menjadi bidan berarti menjadi bagian dari perjalanan hidup orang lain — dari rahim hingga kehidupan baru. Profesi ini telah membentuk siapa saya hari ini: seorang perempuan yang belajar tentang kekuatan, kasih sayang, dan pengorbanan. Dan selama napas ini masih ada, saya akan terus berjuang di jalan pengabdian ini, karena saya tahu, di setiap kelahiran yang saya dampingi, ada kehidupan baru yang membawa masa depan bagi dunia.

* Hari Susanti, A.Md.Keb., Bidan di Poskesdes Kampung Butar Balik, Kecamatan Kute Panang, Aceh Tengah.