posaceh.com, Banda Aceh – Sekretaris PSAB Aceh Besar, Syahrizal atau Yahpi dinobatkan sebagai Penggerak Olahraga Terbaik Aceh 2025 oleh Pemerintah Aceh melalui Dinas Pemuda dan Olahraga Aceh.
Penghargaan bergengsi bagi para olahragawan ini, termasuk pelatih, pembina , penggerak , pemerhati , dosen, guru, wartawan dan pelaku olahraga yang berjumlah 28 orang diberikan pada peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) ke-42 yang dipusatkan di Stadion Harapan Bangsa, Lhong Raya, Banda Aceh, Selasa (9/9/2025) pagi.
Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah SE mewakili Gubernur Aceh, Muzakir Manaf menyerahkan langsung sertifikat penghargaan kepada mereka yang merupakan orang terbaik dalam olahraga di Stadion Harapan Bangsa.
Senyum merekah tampak menebar dari wajah-wajah penerima penghargaan dari Wagub Fadhlullah saat difoto oleh para wartawan dari berbagai media cetak dan elektronik. Seribuan pelajar SD sampa SMA/sederajat dan guru yang berdiri rapi di dalam lapangan ikut memberi aplaus atas penghargaan bergengsi tersebut.
Sesi foto merupakan momen yang paling membahagiakan bagi mereka penerima penghargaan yang telah mendedikasikan dirinya untuk ikut memajukan olahraga di Bumi Serambi Mekkah ini dan bisa menjadi kenangan yang akan diingat selamanya sampai anak-cucu.

Wagub Fadlullah dalam pidatonya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para olahragawan yang telah membawa harum nama Aceh melalui berbagai kompetisi olahraga tingkat nasional dan internasional.
“Kepada seluruh insan olahraga, mulai dari atlet, pelatih, guru, tenaga pendukung, hingga media dan masyarakat pencinta olahraga, saya menyampaikan penghargaan dan terima kasih setinggi-tingginya,” ujarnya.
“Dedikasi, keringat, dan pengorbanan Anda semua telah mengharumkan nama Indonesia di berbagai panggung dunia. Mari terus lanjutkan perjuangan ini, karena olahraga adalah jalan untuk mengibarkan merah putih lebih tinggi di mata dunia,” sebut pria yang akrab disapa Dek Fadh itu.
Sedangkan salah satu penerima penghargaan Syahrizal yang ditemui seusai menerima penghargaan dengan map masih dipegangnya mengaku sangat senang atas pengakuan dirinya sebagai penggerak olahraga terbaik Aceh 2025.
Syahrizal yang akrab dipanggil Yahpi ini mengungkapkan penghargaan ini seharusnya sudah diterimanya, tetapi ditunda karena Covid-19 lalu. Dia yang datang bersama istri dan seorang putranya yang masih duduk di bangku SD berharap akan muncul penggerak olahraga lainnya, sehingga wajah olahraga di Aceh akan semakin baik.
Mantan pemain sepakbola PSAA Abulyatama ini dan sejumlah klub lainnya di Aceh ini menyatakan pembinaan olahraga yang dimulai sejak usia dini harus mendapat dukungan dari semua pihak, khususnya fasilitas lapangan yang memadai dan finansial dari organisasi olahraga serta Pemerintah Aceh, pemkab atau pemko masing-masing.
Sebagai orang yang dinilai berhasil dalam membina dan mengembangkan olahraga sepakbola usia dini melalui Sekolah Sepakbola (Football Academy) mandiri, Yahpi menyatakan akan terus berusaha mendukung keberadaan Sekolah Sepak Bola (SSB), khususnya di Aceh Besar dan Banda Aceh serta umumnya di Aceh.
Dia menjelaskan SSB usia dini sebagai tempat anak-anak usia 5 tahun hingga 12 tahun untuk mengembangkan bakat melalui pelatihan teknik dasar, membentuk karakter positif dan keterampilan sosial.
Ditambahkan, SSB juga sebagai wadah latihan yang berkualitas, meningkatkan kesehatan fisik, dan menciptakan pondasi kuat untuk menjadi pemain profesional di masa depan, sekaligus membangun pesepakbola berakhlak karimah.
Putra Aceh Besar ini yang telah lama melanglang-lintang dalam dunia persepakbolaan usia dini sampai dewasa ini terus memberi perhatian terhadap perkembangan sepakbola usia dini, seperti untuk pesepakbola usia dini Faruq FC Aceh Besar.

Tidak tanggung-tanggung, pelatih PSAB, Mukhlis Nakata diterjunkan untuk melatih anak-anak usia dini di klub Faruq FC yang rutin melakukan latihan setiap hari Sabtu dan Minggu.
Tentunya, semuanya sudah mengetahui, siapa Nakata yang dikenal dengan panggilan ‘Kapten’ yang merupakan mantan pemain andalan Persiraja Banda Aceh pada era kejayaannya.
Hal itu, tentunya sesuai dengan pelatih bersertifikat yang paham tentang pengembangan anak usia dini, sehingga tahu kapan waktu yang tepat untuk latihan fisik, teknik, atau pertandingan. Apalagi, latihan untuk usia dini fokus pada kemampuan motorik dasar, pembentukan karakter, dan membuat anak-anak senang bermain.
Bukan itu saja, keberhasilannya juga dapat dilihat dari membina putranya sendiri, seorang remaja berusia 16 tahun bernama Luthfi Sakhi Zaidan, juga pemain sepak bola yang terus menunjukkan trend peningkatan selama dilatih oleh Mukhlis Nakata bersama asistennya M Hidayat yang tergabung dalam tim PORA Aceh Besar.
Berfungsi sebagai winger kiri, kemampuan sprintnya menggiring bola untuk memberi crossing bola ke area kotak penalti terus membaik. Bahkan, kadang-kadang, pemain sayap ini juga mampu bermain sebagai playmaker.
Walau dengan tubuh tidak tinggi, dia mampu memainkan perannya dengan baik, seperti dalam sejumlah uji coba sebelum berlaga ke Piala Soeratin U-17 di Sigli. Sang ayah, Safrizal tentunya senang dengan kemampuan putranya yang tidak perlu diragukan lagi dalam bermain sepakbola.
Yahpi ini juga berkecimpung dalam dunia perwasitan sepakbola dan telah melahirkan sejumlah wasit sampai tingkat nasional. Dia berharap sumber daya manusia (SDM) wasit, pelatih, termasuk pengawas pertandingan akan terus meningkat melalui kursus atau pelatihan yang dilaksanakan secara bertahap oleh PSSI.
Dikatakan, dengan semakin baiknya wasit, pelatih dan juga pengawas pertandingan, maka turnamen sepakbola di Aceh juga akan berjalan baik sesuai regulasi yang telah ditetapkan oleh PSSI.(Muh)











