Pada abad ke-17, ketika Kesultanan Aceh Darussalam berada di puncak kejayaannya, Sultan Iskandar Muda memimpin dengan tangan besi dan visi besar. Di balik kemegahan tahtanya, ada seorang wanita yang namanya tetap abadi dalam bisikan sejarah Aceh—Putroe Phang, sang permaisuri tercinta.
Putroe Phang bukan wanita biasa. Ia berasal dari negeri jauh, dipercayai dari wilayah Pahang di Semenanjung Malaya. Ia menjadi simbol cinta dan diplomasi saat Sultan Iskandar Muda menaklukkan negeri asalnya dan membawanya pulang ke Banda Aceh sebagai tanda persatuan antara dua kerajaan. Namun cinta yang tumbuh di antara mereka ternyata lebih kuat dari sekadar simbol politik.
Putroe Phang, bernama asli Kamaliah, putri Sultan Ahmad Syah (juga disebut Sultan Ahmad al‑Mu’azzam) yang memerintah Pahang pada awal abad ke‑17.
Waktu Kelahiran tidak tercatat secara pasti dalam sumber primer; kemungkinan besar akhir abad ke‑16 atau awal abad ke‑17, seiring rentang hidup Iskandar Muda (1583–1636).
Penaklukan Pahang oleh Aceh (1617)
Kampanye Militer
Pada 1617, Sultan Iskandar Muda memimpin ekspedisi melawan Pahang untuk memperluas kekuasaannya di Selat Melaka. Aceh menaklukkan ibu kota Pahang, menawan Sultan Ahmad Syah beserta keluarganya.
Penahanan dan Pembawaan
Sebagai bagian dari tawanan kerajaan, Putri Tengku Kamaliah—yang kemudian disebut Putroe Phang—dibawa ke Banda Aceh. Dalam tradisi kesultanan, tawanan istana sering diangkat menjadi permaisuri atau peran diplomatik untuk memperkokoh ikatan politik.
Pernikahan dan Gelar Putroe Phang
Sesaat setelah kedatangannya, Iskandar Muda mempersunting Tengku Kamaliah sebagai permaisuri utama. Di istana ia akrab dipanggil “Putroe Phang” (Putri Pahang).
Simbol Cinta dan Taman Gunongan
Merasa sang istri merindukan kampung halamannya yang berhutan dan berbukit, Sultan membangun sebuah taman istana—Gunongan—sebagai “medan khayali” untuk mengobati rindu Putroe Phang. Nama taman ini juga sering disebut Taman Putri Pahang.
Demi sang permaisuri yang merindukan kampung halamannya, Sultan membangun sebuah taman indah lengkap dengan kolam dan saluran air, yang kini dikenal sebagai Gunongan. Di sanalah Putroe Phang biasa melepas rindu, membayangkan negeri asalnya di balik cakrawala.
Namun, kebahagiaan itu tidak abadi.
Ada banyak versi tentang kematiannya, namun sulit mencari referensinya. Konon, Putroe Phang diam-diam ingin kembali ke Pahang dan terlibat dalam rencana pelarian yang diketahui pihak istana. Demi menjaga kehormatan, ia dihukum secara diam-diam.
Setelah kematiannya, Sultan Iskandar Muda diliputi kesedihan mendalam. Ia memerintahkan agar makam sang permaisuri dijaga dan dirahasiakan letaknya.
Hingga kini, tidak ada yang tahu pasti di mana jasad Putroe Phang bersemayam. Yang tersisa hanyalah Gunongan—sunyi dan megah, menjadi saksi bisu cinta, kekuasaan, dan misteri yang tak terungkap. (Hasnanda Putra)
