Beberapa tahun setelah gelombang awal perlawanan mereda, fragmen lain dari kerasnya Perang Aceh kembali muncul dari wilayah Lameulo, Pidie. Kisah ini direkam oleh H.C. Zentgraaf, seorang mantan serdadu KNIL yang kemudian dikenal sebagai jurnalis tajam dalam mendokumentasikan realitas perang di Aceh.
Dalam catatannya, Zentgraaf menuturkan sebuah peristiwa yang tidak hanya menggambarkan operasi militer, tetapi juga memperlihatkan sisi paling dalam dari emosi manusia—cinta, pengkhianatan, dan dendam.
Suatu malam, seorang wanita Aceh mendatangi bivak pasukan Marsose yang dipimpin oleh seorang perwira bernama Boreel. Dengan emosi yang nyaris tak terbendung, ia mengaku sebagai istri dari Pang Anu—seorang panglima pejuang Aceh (Zentgraaff menyebutnya gerombolan) yang telah lama menjadi buruan. Namun pengakuannya tidak berhenti di situ. Ia datang bukan untuk melindungi, melainkan untuk mengkhianati. Suaminya, katanya, telah menikah lagi dan menyingkirkannya. Malam itu, ia tahu persis di mana lelaki itu berada—bersama istri barunya.
Boreel melihat peluang strategis, tetapi ia tetap berhati-hati. Dalam praktik Marsose, seorang penunjuk jalan tidak pernah sepenuhnya dipercaya. Wanita itu dihadapkan pada pilihan: kembali atau memandu pasukan dengan tubuh terikat pada “tambang marsose”, sementara di belakangnya seorang serdadu berjalan dengan kelewang terhunus. Ia memilih berjalan di depan.
Perjalanan berlangsung sekitar empat jam, menembus hutan lebat dan jalan setapak, menghindari permukiman. Dalam gelap, langkahnya mantap—seolah dendam telah menjadi cahaya yang menuntunnya. Menjelang fajar, pasukan tiba dan mengepung rumah yang dimaksud.
Perintah diberikan: turun tanpa senjata. Namun lelaki di dalam rumah bukan orang yang gentar menghadapi maut. Ia muncul tiba-tiba di ambang pintu dengan kelewang terhunus. Seketika, rentetan tembakan karaben memecah kesunyian pagi.
Di tengah letusan itu, terdengar jeritan perempuan tersebut:
“Nyoi buet kee’!” — Saya yang melakukannya!
Dua peluru menembus tubuh sang lelaki. Ia terhuyung dan roboh. Namun kisah belum berakhir. Dalam sekejap, perempuan itu melepaskan diri dari ikatannya, berlari ke arah tubuh yang sekarat, memeluknya—lalu, dengan amarah yang belum padam, menyepaknya berulang kali hingga tak bergerak lagi.
Sesudah itu, ia pergi. Tanpa kata. Tanpa menoleh.
Kisah ini sering dipandang oleh penulis-penulis kolonial sebagai gambaran “emosi ekstrem” perempuan Aceh. Namun jika dibaca lebih dalam, ia justru membuka ruang pemahaman tentang posisi perempuan dalam masyarakat Aceh masa perang. Mereka bukan sekadar korban atau saksi, melainkan subjek aktif yang mampu mengambil keputusan—bahkan dalam situasi paling genting sekalipun.
Catatan lain dari penulis Belanda seperti Christiaan Snouck Hurgronje juga menunjukkan bahwa struktur sosial Aceh memberi ruang bagi perempuan untuk bertindak, terutama ketika menyangkut kehormatan dan keluarga. Dalam konteks budaya yang menjunjung tinggi marwah, pengkhianatan bukan sekadar persoalan pribadi, melainkan luka sosial yang menuntut balasan.
Apa yang oleh sebagian pengamat Barat dianggap sebagai “dendam kesumat”, dalam realitas lokal sering kali berakar pada konsep keadilan versi komunitas. Di sinilah letak perbedaan sudut pandang: antara rasionalitas kolonial dan pengalaman batin masyarakat yang dijajah.
Zentgraaf mungkin menuliskan kisah ini sebagai anekdot dramatis dari medan perang. Namun bagi kita hari ini, ia adalah pengingat bahwa sejarah Aceh tidak hanya dibentuk oleh strategi militer dan tokoh laki-laki, tetapi juga oleh keputusan-keputusan sunyi dari perempuan-perempuan yang bergerak di balik bayang.
Dalam bara perang, mereka tidak hanya bertahan—mereka menentukan arah cerita. (Hasnanda Putra)
