Belakangan ini, masyarakat kembali akrab dengan satu kata yang sering muncul di layar ponsel dan berita ekonomi: dolar. Ketika nilai tukar rupiah melemah hingga menembus level psikologis baru terhadap mata uang Amerika Serikat, banyak orang mulai bertanya, seberapa kuat sebenarnya sebuah mata uang? (Reuters)
Namun jauh sebelum rupiah lahir, bahkan sebelum Indonesia berdiri, Aceh pernah memiliki sejarah moneter yang membuatnya berdiri sejajar dengan pusat perdagangan dunia. Di ujung utara Sumatra, dari pelabuhan-pelabuhan ramai hingga pasar-pasar lada, pernah beredar mata uang yang bukan hanya alat tukar, tetapi juga simbol kekuatan politik dan ekonomi: deureuham Aceh.
Dalam catatan sejarah, deureuham dikenal sejak masa Kesultanan Samudera Pasai sekitar abad ke-13. Mata uang emas itu kemudian diwarisi dan berkembang dalam tradisi moneter Kesultanan Aceh. Para sejarawan dan peneliti numismatik menyebut deureuham sebagai salah satu mata uang emas tertua di Nusantara. (Repo Kemdikbud)
Kekuatan mata uang Aceh kala itu tidak lahir dari slogan atau kebijakan sesaat. Ia tumbuh dari perdagangan. Ketika lada Aceh menjadi komoditas dunia, kapal-kapal dari Arab, India, Persia, Turki hingga Eropa berlabuh di bandar Aceh. Mata uang Aceh mendapat tempat karena berada di tengah arus perdagangan internasional yang sibuk dan dipercaya pedagang lintas samudra. Pada abad ke-16 hingga ke-17, Aceh berkembang menjadi salah satu pusat ekonomi terpenting di kawasan Selat Malaka. (Repo Kemdikbud)
Kemajuan perdagangan Aceh pada masa itu juga tidak hanya bertumpu pada lada semata. Pelabuhan-pelabuhan Aceh menjadi titik pertemuan berbagai komoditas dunia: emas dari pedalaman Sumatra, kapur barus, sutra, tekstil India, hingga barang-barang dari Timur Tengah dan Asia Timur. Bandar Aceh tumbuh sebagai kota kosmopolitan yang dipenuhi saudagar asing, ulama, penerjemah, dan pelaut dari berbagai bangsa. Aktivitas perdagangan yang padat inilah yang kemudian melahirkan jaringan ekonomi kuat, memperkaya kesultanan, serta menjadikan Aceh sebagai salah satu simpul perdagangan paling berpengaruh di kawasan Asia Tenggara pada zamannya.
Banyak orang hari ini mengenal dolar sebagai simbol kekuatan ekonomi global. Tetapi sejarah Aceh mengajarkan hal yang sama: mata uang yang kuat bukan sekadar soal angka tukar, melainkan soal kepercayaan, produksi, perdagangan, dan pengaruh.
Denys Lombard dalam kajiannya tentang Kesultanan Aceh era Sultan Iskandar Muda menggambarkan bagaimana Aceh membangun sistem ekonomi yang terhubung dengan jaringan perdagangan internasional yang luas. Di masa itu, kekuatan ekonomi dan politik berjalan beriringan. Sebab pelabuhan yang ramai akan melahirkan pasar yang hidup, dan pasar yang hidup membutuhkan mata uang yang dipercaya. (Universitas Indonesia Library)
Hari ini, ketika rupiah menghadapi tekanan global, sejarah deureuham Aceh seolah mengingatkan satu hal: Aceh pernah membuktikan bahwa sebuah negeri di ujung barat Nusantara mampu membangun kekuatan ekonominya sendiri. Mata uang itu mungkin sudah lama berhenti beredar, tetapi kisahnya masih menyimpan pelajaran penting—bahwa kejayaan ekonomi selalu dimulai dari kemampuan menghasilkan, berdagang, dan membangun kepercayaan.
Mungkin karena itu, ketika kita melihat angka dolar hari ini, ada baiknya sesekali menoleh ke belakang: Aceh pernah memiliki mata uang yang tidak hanya dipakai, tetapi juga dibanggakan. (Hasnanda Putra)
