Malam di pedalaman Aceh tak pernah benar-benar sunyi. Di antara rimbun pepohonan dan aliran sungai kecil di sekitar Aneuk Galong, desir angin seolah membawa satu kabar yang sama: perang belum usai.
Benteng Aneuk Galong berdiri tegak—bukan sekadar susunan tanah dan kayu, melainkan lambang perlawanan. Di sanalah pasukan Aceh bertahan, dengan keyakinan yang jauh lebih kokoh daripada dinding benteng itu sendiri.
Di antara mereka berdiri seorang pemuda yang mulai dikenal: Teungku Mat Amin di Tiro.
Ia bukan sekadar anak dari ulama besar, Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman. Ia adalah pewaris semangat perang sabil. Baginya, benteng itu bukan tempat berlindung—melainkan garis terakhir kehormatan.
Kisah pertempuran ini ditulis oleh H.C. Zentgraaf dalam buku Aceh, seorang mantan serdadu KNIL yang kemudian dikenal sebagai jurnalis tajam dalam mendokumentasikan realitas perang di Aceh.
28 Juni 1896. Tengah malam.
Dari arah Lambaro, pasukan Belanda bergerak dalam diam. Dua batalyon, diperkuat pasukan marsose—pasukan elit yang telah lama menjadi momok di Aceh.
Di bawah komando Joannes Benedictus van Heutsz, bersama kepala stafnya yang ambisius dan keras, Gotfried Coenraad Ernst van Daalen, mereka menyusup dalam terang bulan.
Namun sebelum bergerak lebih jauh, rombongan itu sempat berhenti di Lambaro—di tempat Overste Bisschoff. Dalam sunyi malam yang tegang, mereka meminum secangkir minuman hangat. Sebuah jeda singkat—tenang di permukaan, namun sarat ketegangan di dalam dada serdadu Belanda
Pukul 02.30, barisan kembali disusun.
Langkah-langkah dilanjutkan menuju Aneuk Galong, di bawah cahaya bulan yang terang. Malam itu nyaris seperti siang yang redup—cukup terang untuk melihat jalan, cukup sunyi untuk menyembunyikan maut yang sedang mendekat.
Jalan menuju Aneuk Galong telah dirusak. Jembatan diputus. Jalur ditutup. Namun mereka tetap datang.
Menjelang pukul setengah lima pagi, bayang benteng mulai terlihat.
Di dalamnya, sekitar dua ratus pejuang Aceh telah bersiap. Dipimpin oleh Teungku Mat Amin bersama saudaranya, Teungku di Bukit, mereka berdiri untuk mempertahankan tanah, kehormatan, dan keyakinan.
Benteng itu telah terkepung. Menjelang subuh, tembakan pertama memecah udara.
Pertempuran berubah menjadi perkelahian jarak dekat—kelewang beradu, tubuh berhadapan, nyawa ditentukan dalam hitungan detik. Benteng Aneuk Galong menjelma menjadi arena satu lawan satu yang brutal dan tanpa jeda.
Pertempuran itu sangat kejam, Gotfried Coenraad Ernst van Daalen mencatatnya dalam suratnya tertanggal 5 Juli 1896, yang ditujukan isterinya yang berdiam di pulau Jawa; Detik-detik yang mengesankan sekali pertempuran itu; keadaan gelap gulita, dan yang terdengar hanyalah letusan senapang serta jeritan dan teriakan saja.
Ketika tembakan pertama pecah di udara subuh, perang tidak berlangsung lama dalam bentuk yang biasa. Senapan menjadi terlalu panjang, peluru terlalu lambat. Dalam sekejap, pertempuran berubah menjadi apa yang paling purba: satu lawan satu.
Kelewang terhunus. Tubuh saling mendekat. Mata bertemu dalam jarak yang tak bisa lagi berbohong.
Inilah “hand to hand fighting”—pertarungan tanpa perantara.
Orang-orang Aceh bertarung bagaikan singa. Mereka tidak sekadar melawan, tetapi menerjang. Tidak ada yang menunggu perintah kedua. Tidak ada yang menoleh ke belakang. Setiap langkah maju adalah keputusan terakhir.
Di antara asap mesiu dan api yang mulai menjilat dinding benteng, Mat Amin masih berdiri.
Pakainnya telah robek. Tubuhnya berlumur debu dan darah—entah miliknya atau milik lawannya. Di tangannya, kelewang masih terangkat.
Namun jumlah tak lagi seimbang.
Dari berbagai arah, bayonet dan peluru datang bersamaan. Tubuhnya terhuyung sejenak—cukup untuk memberi celah. Ia tidak mundur. Dalam detik terakhir itu, ia tetap melangkah maju. Lalu tubuhnya roboh di tanah yang ia pertahankan.
Akhirnya, Benteng Aneuk Galong jatuh. Lebih dari seratus pejuang Aceh gugur. Di antara mereka:
Teungku Mat Amin di Tiro.
Tubuhnya tidak dibiarkan tergeletak.
Para pengikutnya menyelamatkan jasadnya, membawanya keluar dari benteng yang telah jatuh, menuju Mureue, dekat Indrapuri. Di sanalah ia dimakamkan—berdekatan dengan ayahnya, dalam satu tanah yang sama.
Benteng boleh direbut. Namun kisahnya tak pernah selesai.
Di tanah Aceh, nama Mat Amin bukan sekadar catatan korban perang. Ia adalah pengingat—bahwa perlawanan tidak selalu diukur dari kemenangan, melainkan dari keberanian untuk tetap berdiri, bahkan ketika fajar membawa kekalahan. (Hasnanda Putra)
