Banghas

Matheus, Serdadu Belanda yang Memilih Aceh

76
Ilustrasi Sersan Matheus; seorang serdadu Belanda dan perempuan di sebuah sudut Aceh zaman Belanda (Ai)

Senja 6 Februari 1891 jatuh perlahan di pesisir timur Banda Aceh. Di kawasan yang oleh Belanda dicatat sebagai Pohama—kini dikenal sebagai Alue Naga—seorang sersan KNIL menghilang tanpa jejak. Namanya Matheus. Ia bukan tipe serdadu yang larut dalam mabuk kantin. Ia dikenal tenang, rajin, dan—yang paling mencurigakan bagi atasannya—terlalu sering bergaul dengan orang-orang kampung di Merduati dan Kampung Jawa. Ia fasih berbahasa Aceh. Dan sore itu, ia pergi, membawa senapan, ratusan peluru, dan sebuah keputusan yang akan mengguncang barak-barak Belanda.

Sebagaimana ditulis dalam kolom Historia yang merujuk pada Herenningen uit den Van Heutsz Tijd en andere verhalen II, Matheus tak hanya membawa amunisinya sendiri, tetapi juga milik empat prajurit lain—sekitar 250 butir peluru. Itu bukan sekadar pelarian. Itu adalah pembelotan yang terencana. Tak lama setelah itu, tembakan dari arah kampung-kampung Aceh menjadi lebih terarah, lebih mematikan. Seorang serdadu KNIL tewas di Peukan Krueng Cut. Di balik akurasi itu, Belanda mencium satu nama: Matheus.

Desersi itu segera menjadi kabar besar. Bataviaasch Nieuwsblad edisi 26 Februari 1891 menurunkan laporan rinci. Hadiah 1.500 gulden diumumkan bagi siapa pun yang dapat menangkapnya kembali. Namun di pihak lain, di pedalaman yang tak sepenuhnya bisa dijangkau patroli kolonial, Matheus justru menemukan tempat baru. Ia diyakini bergabung dengan pasukan Panglima Polem—salah satu tangan kanan sultan dalam perang gerilya. Lebih dari sekadar prajurit, ia disebut-sebut menjadi perwira perencana tempur Aceh.

Namun di balik strategi dan peluru, ada kisah lain yang berbisik pelan—kisah yang jarang masuk laporan militer, tetapi hidup dalam ingatan orang-orang kampung.

Ia sering datang ke sebuah rumah di Aceh Besar. Bukan untuk operasi militer. Bukan pula untuk menyamar. Di sana tinggal seorang perempuan Aceh—namanya tak tercatat dalam arsip Belanda, tetapi jejaknya terasa dalam keputusan terbesar Matheus. Perempuan itu bukan hanya tempat singgah, melainkan tempat pulang. Di beranda rumah itu, Matheus bukan lagi sersan, bukan pula bagian dari mesin perang kolonial. Ia menjadi seorang lelaki yang belajar memahami tanah, bahasa, dan perasaan yang tak pernah ia temui di barak-barak militer.

Hubungan itu, kata banyak kisah, bukan sekadar persinggahan. Ada kesungguhan yang tumbuh di antara keduanya. Matheus mulai mengenakan pakaian yang lebih sederhana, berbicara dalam bahasa Aceh tanpa canggung, dan duduk berlama-lama mendengar cerita tentang kampung, tentang perang, tentang harga diri. Cinta itu perlahan mengubah arah hidupnya—dari serdadu penjajah menjadi seseorang yang ingin diterima sebagai bagian dari tanah yang sebelumnya ia perangi.

Suatu malam, ketika angin dari laut membawa bau garam ke halaman rumah, ia berkata pelan, seolah lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada perempuan di hadapannya:

“Aku tidak ingin lagi kembali ke barak itu. Di sini… aku merasa hidup.”

Perempuan itu menatapnya lama, seakan mencoba memastikan kesungguhan kata-kata itu.

“Kalau kau tinggal, kau bukan lagi orang Belanda,” jawabnya.

Matheus mengangguk, lalu berkata dengan suara yang lebih tegas:

“Biarlah. Aku ingin menjadi orang Aceh. Aku ingin menikah… dan tinggal di sini, selamanya.”

Sejak saat itu, garis yang memisahkan “kita” dan “mereka” menjadi kabur bagi Matheus. Ia telah memilih.

Di mata Belanda, ia adalah pengkhianat berbahaya. Di mata orang Aceh, ia menjadi sekutu yang berharga. Surat kabar Het Vaderland pada 21 Agustus 1894 bahkan mencatat bahwa Matheus dihormati oleh orang-orang Aceh. Ia bukan lagi sekadar deserter, melainkan bagian dari perjuangan.

Namun seperti banyak kisah perang, akhir hidupnya tetap diselimuti kabut. Pada tahun 1894, ia dikabarkan terluka dalam sebuah pertempuran, lalu menghilang dari catatan hidup—mungkin gugur, mungkin lenyap seperti saat pertama kali ia meninggalkan barak. Belanda hanya menemukan benda-benda kecil: sebuah sikat gigi, dan coretan dalam bahasa Belanda—jejak samar seorang lelaki yang pernah berdiri di dua dunia.

Matheus mungkin tak pernah benar-benar tercatat sebagai orang Aceh dalam dokumen resmi. Namun dalam ingatan lisan, dalam cerita-cerita yang beredar di kampung, ia hidup sebagai sosok yang memilih—bukan karena kalah perang, tetapi karena menemukan cinta, dan dari cinta itu, menemukan keberanian untuk berpihak.

Dan mungkin, di suatu sudut Aceh yang sunyi, kisahnya masih berbisik: bahwa terkadang, sejarah tidak hanya ditentukan oleh senjata, tetapi oleh hati yang berani berpindah haluan. (Hasnanda Putra)

Exit mobile version