posaceh.com, Banda Aceh – Di ujung utara Pulau Sumatra, angin laut menyusup lembut melalui pepohonan kelapa, membawa bisik-bisik tua yang tidak lekang oleh zaman. Di tengah kota Lhokseumawe, tepatnya di Kecamatan Muara Dua, terbaring sebuah makam yang hening namun menyimpan cerita yang gemetar oleh waktu: makam Putroe Neng, perempuan asing yang konon berasal dari negeri jauh, dari tanah Tiongkok, bernama Xiang Lian Khie.
Putroe Neng bukan sekadar nama dalam buku sejarah, bukan pula sekadar sosok asing yang lalu menjadi bagian dari jejak Aceh. Ia adalah teka-teki, sebuah benang emas yang terjalin antara cinta, pengorbanan, dan misteri. Konon, ia datang ke Aceh dalam rombongan besar, bukan sebagai penakluk, tapi sebagai seorang wanita istimewa yang kelak membuat sejarah dan legenda terjerat dalam satu simpul: kisah 99 suami yang meninggal secara misterius.
Jejak dari Timur
Dari cerita turun-temurun, disebutkan bahwa Xiang Lian Khie adalah seorang putri dari bangsawan Tiongkok. Kecantikannya melebihi rembulan yang penuh, dan kepandaiannya dalam seni serta pengobatan menjadikannya dambaan banyak pria. Tapi ketika ia menjejakkan kaki di bumi Serambi Mekkah, takdirnya berubah.
Putroe Neng dinikahi oleh penguasa lokal. Namun, alih-alih menjadi istri yang hidup damai, ia justru terus-menerus dinikahkan kembali hingga 99 kali. Dan tragisnya, ke-99 pria itu semua meninggal tak lama setelah menikah dengannya.
Mereka meninggal bukan karena perang, bukan karena wabah, tapi karena sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Warga setempat pun mulai bertanya-tanya: apakah Putroe Neng dikutuk, ataukah ia sendiri penyebab kematian itu?
Cinta atau Kutukan?
Dalam hikayat lisan orang-orang tua, ada yang berkata bahwa Putroe Neng sesungguhnya tidak ingin menikah lagi setelah kehilangan suami pertamanya. Namun karena tekanan politik dan kebutuhan aliansi, ia terus dijodohkan. Ada juga yang percaya bahwa setiap suami barunya wafat karena tidak mampu menahan kekuatan spiritual yang menyelimuti sang putri entah dalam bentuk kecantikan, ilmu, atau kutukan.
Krueng Neng dan Kenangan yang Mengalir
Di Banda Aceh, ratusan kilometer dari makamnya, mengalir sebuah sungai yang bernama Krueng Neng. Sebuah nama yang membawa bayang-bayang Putroe Neng kembali ke dalam ingatan kolektif masyarakat Aceh. Mungkinkah sungai itu adalah bentuk kenangan atau penghormatan? Ataukah itu aliran air yang pernah membasuh jejak langkah sang putri?
Air sungai itu terus mengalir, seperti halnya cerita tentang Putroe Neng yang tak pernah benar-benar usai. Ia terus hidup dalam percakapan, dalam bait-bait syair rakyat, dalam nama tempat, dan dalam kerinduan terhadap masa lalu yang penuh keajaiban.
Antara Sejarah dan Legenda
Apakah Putroe Neng benar-benar nyata? Apakah ia memang berasal dari Tiongkok, menikah 99 kali, dan menyaksikan setiap suaminya meninggal satu per satu? Ataukah ia hanya sosok dalam legenda, lambang dari kekuatan perempuan, penderitaan, atau bahkan peringatan dari masa lampau?
Sejarawan masih mencari jawabannya. Namun bagi rakyat Aceh, kisah Putroe Neng telah melewati batas antara yang nyata dan yang gaib. Ia menjadi bagian dari jiwa tanah ini—sebuah cerita yang lebih penting karena dihayati, bukan karena dibuktikan.
Di bawah langit Aceh, ketika angin berhembus pelan dan rembulan menggantung pucat, kadang terdengar suara bisikan dalam mimpi orang-orang tua: “Putroe Neng belum selesai bercerita.” Dan kita, generasi setelahnya, masih setia mendengarkan. (Hasnanda Putra)
