Daerah

KWT Sejahtera Luthu Lamweu Olah Janeng Jadi Produk Pangan Bernilai Ekonomi

21
×

KWT Sejahtera Luthu Lamweu Olah Janeng Jadi Produk Pangan Bernilai Ekonomi

Sebarkan artikel ini
Kepala Dinas Pangan Aceh Besar, Alyadi SPi MM sampaikan sambutan pada kegiatan Sosialisasi Konsumsi Pangan Beragam, Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA) melalui Rumah Pangan B2SA Tahun 2026 yang digelar di Meunasah Gampong Luthu Lamweu, Selasa (1/9/2026) FOTO/ ROJA

posaceh.com, Kota Jantho – Kelompok Wanita Tani (KWT) Sejahtera Gampong Luthu Lamweu, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Aceh Besar, mengembangkan buah janeng atau gadung menjadi sejumlah produk pangan sebagai upaya mengoptimalkan potensi pangan lokal.

Pengembangan tersebut menjadi bagian dari kegiatan Sosialisasi Konsumsi Pangan Beragam, Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA) melalui Rumah Pangan B2SA Tahun 2026 yang digelar di Meunasah Gampong Luthu Lamweu, Selasa (1/9/2026).

Sosialisasi B2SA bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya konsumsi pangan yang beragam, bergizi, seimbang dan aman, sekaligus mendorong pemanfaatan bahan pangan lokal sebagai sumber pangan keluarga.

Dalam kegiatan tersebut, KWT Sejahtera memperkenalkan sejumlah produk olahan berbahan dasar janeng, di antaranya tepung, dodol dan mi. Pengolahan tersebut menjadi salah satu inovasi kelompok dalam meningkatkan nilai tambah pangan lokal sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Kepala Dinas Pangan Aceh Besar, Alyadi SPi MM mengapresiasi KWT Sejahtera yang telah mengembangkan pengolahan pangan lokal berbahan janeng.

Pendamping KWT Sejahtera Gampong Luthu Lamweu, Satria Jaya, SP., M.Si., sampaikan sambutan pada kegiatan Sosialisasi Konsumsi Pangan Beragam, Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA) melalui Rumah Pangan B2SA Tahun 2026 yang digelar di Meunasah Gampong Luthu Lamweu, Selasa (1/9/2026) FOTO/ ROJA

“Kami sangat mengapresiasi KWT Sejahtera atas kegiatan pengolahan pangan lokal sebagai bentuk dukungan terhadap ketahanan pangan dan program pemerintah. Pengolahan janeng menjadi berbagai produk seperti dodol, mi dan tepung merupakan inovasi yang sangat baik dan berpotensi untuk terus dikembangkan,” kata Alyadi.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi motivasi bagi gampong-gampong lain di Kecamatan Sukamakmur untuk mengoptimalkan potensi pangan lokal yang tersedia.

“Pemerintah bersama masyarakat dapat mendukung pengembangan ini melalui fasilitasi, pembinaan, penganggaran, serta pengembangan produk, termasuk dari sisi kemasan dan perizinan,” ujarnya.
Kechik Gampong Luthu Lamweu, Jafaruddin, mengatakan pemerintah gampong mendukung penuh kegiatan KWT Sejahtera dalam mengembangkan janeng menjadi produk pangan yang memiliki nilai ekonomi.

“Kami dari Pemerintah Gampong Luthu Lamweu mengucapkan terima kasih atas perhatian dan pendampingan yang diberikan kepada kelompok. Kami berharap produksi olahan janeng ini terus berkembang sehingga dapat menjadi salah satu produk unggulan gampong,” kata Jafaruddin.

Menurutnya, pengembangan janeng tidak hanya dapat memanfaatkan potensi pangan yang tersedia di lingkungan masyarakat, tetapi juga diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi warga.

“Harapan kami, masyarakat bersama ibu-ibu PKK dan KWT Sejahtera dapat terus memanfaatkan bahan baku lokal, khususnya janeng, untuk diolah menjadi produk yang bernilai jual. Dengan begitu, kegiatan ini tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat,” ujarnya.

Pendamping KWT Sejahtera Gampong Luthu Lamweu, Satria Jaya, SP., M.Si., mengatakan pengolahan pangan lokal berbahan janeng telah dilakukan sejak Juli hingga September 2026 melalui pendampingan terhadap kelompok.

Foto bersama usai kegiatan Sosialisasi Konsumsi Pangan Beragam, Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA) melalui Rumah Pangan B2SA Tahun 2026 yang digelar di Meunasah Gampong Luthu Lamweu, Selasa (1/9/2026) FOTO/ ROJA

Dalam kegiatan tersebut, KWT Sejahtera mendapat bantuan mesin pencincang dan mesin press dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) untuk mempercepat proses pengolahan janeng.

“Dengan adanya mesin ini, mereka bisa berproduksi dalam waktu yang lebih cepat. Waktu yang dibutuhkan kelompok dalam memproses buah janeng bisa diringkas secara signifikan,” ujar Satria.
Ia menjelaskan, pengolahan janeng harus dilakukan secara tepat karena tanaman tersebut mengandung senyawa yang berbahaya jika tidak dihilangkan melalui proses pengolahan yang benar.

“Pengolahan janeng memang harus dilakukan dengan benar, karena ada kandungan sianida yang harus dihilangkan melalui tahapan pengolahan tertentu sebelum dapat dikonsumsi,” jelasnya.

Selain dodol dan kolak, KWT Sejahtera juga mengembangkan mi berbahan tepung janeng yang dicampur dengan tepung terigu dan tapioka. Produk tersebut mulai dipasarkan dan telah menghasilkan omzet penjualan sekitar Rp800 ribu hingga Rp1 juta.

“Jadi yang kita berikan ini tidak sia-sia. Mereka sudah mulai menjual produknya. Bahkan pembeli sudah datang langsung ke sini dan ada juga pesanan-pesanan yang masuk,” katanya.
Satria berharap pendampingan terhadap KWT Sejahtera dapat terus dilanjutkan, terutama dalam aspek pengemasan dan pemasaran.

“Harapan kita pendampingan ini bisa terus berlanjut, khususnya untuk pengemasan dan pemasaran. Dengan begitu, KWT Sejahtera bisa meningkatkan produksi dan menjadikan janeng sebagai salah satu pangan lokal yang memiliki nilai ekonomi,” pungkasnya. (Zal)