ParlementariaPemko Banda Aceh

Hardikda Aceh 2026, Wakil Ketua DPRK Banda Aceh Musriadi Aswad: Pendidikan Jalan Damai Menuju Peradaban Mulia

14
×

Hardikda Aceh 2026, Wakil Ketua DPRK Banda Aceh Musriadi Aswad: Pendidikan Jalan Damai Menuju Peradaban Mulia

Sebarkan artikel ini
Wakil Ketua DPRK Banda Aceh, Dr. Musriadi Aswad, M.Pd saat menjadi pembina upacara jelang Hardikda di SMAN 8 Banda Aceh, Senin (31/8/2026). FOTO/ M HERIZAL

posaceh.com, Banda Aceh – Memperingati Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Aceh yang diperingati setiap 2 September, Wakil Ketua DPRK Banda Aceh, Dr. Musriadi Aswad, M.Pd., mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat pendidikan sebagai fondasi pembangunan generasi Aceh yang berilmu, berakhlak, berkarakter, dan memiliki jati diri.

“Pendidikan adalah jalan damai menuju peradaban yang mulia. Pendidikan tidak cukup hanya mencerdaskan secara intelektual, tetapi harus membentuk karakter, akhlak, integritas dan kepedulian sosial,” ujar Musriadi.

Ia menegaskan, pendidikan Aceh memiliki kekhususan sebagaimana amanat UU Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA). Pasal 216 menegaskan hak masyarakat Aceh memperoleh pendidikan yang bermutu dan Islami, dengan tetap menjunjung nilai Islam, budaya, kemajemukan, demokrasi dan keadilan.

Menurutnya, amanat tersebut diperkuat Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan, sebagaimana telah diubah dengan Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2015, yang menekankan asas keislaman, kebangsaan, keacehan, kemanusiaan, keadilan dan nondiskriminasi.

“Pendidikan Aceh harus maju dan modern, tetapi tidak boleh kehilangan identitas. Nilai keislaman, budaya dan kearifan lokal harus menjadi bagian penting dalam membentuk karakter generasi,” katanya.

Musriadi yang juga berlatar belakang akademisi pendidikan itu menilai tantangan pendidikan semakin kompleks di tengah perkembangan teknologi digital. Karena itu, sekolah dan madrasah harus membekali peserta didik tidak hanya dengan ilmu pengetahuan, tetapi juga literasi digital, kemampuan berpikir kritis, etika dan integritas.

Ia juga mengingatkan pemerintah agar amanat UUPA dan Qanun Aceh diwujudkan melalui pemerataan akses, peningkatan kualitas guru, sarana pendidikan, serta penganggaran yang benar-benar berdampak terhadap mutu pendidikan.

“Pendidikan adalah investasi peradaban. Kalau kita ingin melihat wajah Aceh 20 atau 30 tahun ke depan, lihatlah bagaimana kita mendidik anak-anak Aceh hari ini,” tegasnya.

Dalam momentum Hardikda Aceh, Musriadi mengajak guru, orang tua, pemerintah, dan seluruh masyarakat membangun ekosistem pendidikan yang bermutu, berkeadilan, Islami dan berbasis karakter.

“Mari kita bangun pendidikan Aceh yang maju tanpa kehilangan jati diri, modern tanpa meninggalkan nilai luhur, serta cerdas tanpa kehilangan akhlak. Dari pendidikan yang berkualitas, kita membangun generasi; dari generasi berkarakter, kita membangun peradaban Aceh yang mulia,” pungkasnya.(Mar)