Banghas

Köhler dan Dentuman Awal Perang Aceh

1129
Ilustrasi Kohler di geladak kapal memimpin penyerangan pertama Belanda ke Aceh (Ai)

Kabut asin menyelimuti Ulee Lheue pagi itu. Ombak memukul-mukul lambung kapal perang Belanda, seakan ingin menolak kedatangannya. Di geladak, Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler berdiri dengan sorot mata dingin. Kumisnya tegas, seragamnya rapi, dan tangannya menunjuk ke daratan.

“Lihatlah, itu Aceh,” katanya kepada seorang perwira muda di sampingnya.
“Negeri kecil yang mengira bisa melawan Eropa. Hari ini, mereka akan tunduk.”

Perwira muda itu menelan ludah. Di depan mereka, daratan Aceh tidak terlihat gentar. Pohon kelapa berdiri kaku, masjid-masjid menjulang, dan asap dapur naik dari rumah-rumah rakyat. Seolah-olah tanah itu berkata: silakan datang, tapi kau tidak akan pulang dengan mudah.

Doa dari Masjid dan Dayah

Di sisi lain daratan, menjelang fajar, suara azan subuh menggema. Di halaman sebuah masjid kecil dekat Kutaraja, para pejuang bersujud di atas tikar pandan. Seorang teungku tua memanjatkan doa dengan suara bergetar:

> “Ya Allah, Engkau Maha Kuat. Hari ini anak-anak Aceh akan berhadapan dengan pasukan yang datang dari jauh, bersenjata lengkap. Tapi kami punya Engkau, dan tanah ini adalah milik-Mu. Jangan biarkan mereka injak bumi ini tanpa harga diri.”

Para laskar menjawab lirih, “Aamiin.”
Di wajah mereka, tak ada rasa takut, hanya mata yang menyala seperti api.

Ultimatum dan Ledakan

Tanggal 26 Maret 1873, Köhler mengirim surat ke istana sultan. Ultimatum itu jelas: Aceh harus tunduk pada Belanda.
Sultan Mahmudsyah membaca surat itu di balairung istana. Kain sutra membalut tubuhnya, tapi matanya berkilat.

“Apakah mereka kira kita ini budak?” ujarnya.
“Balas: Aceh tidak akan pernah menyerah.”

Tak lama kemudian, meriam pertama meletus. Langit Aceh bergetar. Suara ledakan bercampur dengan kicau burung pagi, menyulut sebuah perang yang akan berlangsung puluhan tahun.

Darah di Ulee Lheue

Tanggal 5 April 1873, pasukan Belanda mulai mendarat. Sepatu bot mereka tenggelam di lumpur pantai. Genderang perang dipukul, bayonet berkilau.

Namun tiba-tiba, dari semak belukar, suara takbir bergemuruh:
“Allahu Akbar! Allahu Akbar!”

Laskar Aceh melompat keluar, membawa rencong, bedil tua, dan bambu runcing. Peluru melesat, tubuh jatuh, darah tercurah. Seorang pemuda Aceh yang baru semalam menikah, maju paling depan. Ia menjerit lantang:

“Lebih baik mati syahid daripada hidup terhina!”

Pelurunya menembus dada seorang serdadu Belanda. Teriakan kemenangan menggema.

Peluru untuk Sang Jenderal

Hari 14 April 1873, pertempuran merambat ke sekitar Masjid Raya Baiturrahman. Asap mesiu menutupi kubah, debu beterbangan. Köhler berdiri di tengah barisan pasukannya, berusaha memberi semangat.

“Majulah! Rebut kota ini!” teriaknya.

Namun dari balik reruntuhan tembok masjid, seorang penembak jitu Aceh mengintai. Jemarinya bergetar, bibirnya berkomat-kamit membaca basmalah.
Lalu dor!—peluru itu melesat menembus tubuh Köhler.

Sang Jenderal roboh, matanya mendongak ke langit Aceh, dadanya dipenuhi darah. Sunyi sejenak, lalu panik meledak di barisan Belanda.

“Komandan tertembak! Mundur! Mundur!”

Tubuh Köhler diangkat tergesa ke kapal. Laut Ulee Lheue kembali menelan dentuman meriam, tapi kali ini dengan senyum samar—ia baru saja memakan seorang jenderal asing.

Api yang Tak Padam

Kematian Köhler adalah pertanda: Aceh tidak akan jatuh dalam sekali serangan. Dari pantai hingga gunung, perlawanan menyala. Perang Aceh pun berkobar selama lebih dari tiga dekade, perang kolonial terpanjang dalam sejarah Belanda.

Hari ini, jika kau berdiri di depan Masjid Raya Baiturrahman, kau masih bisa merasakan gaungnya. Angin yang melintas membawa bisik: suara doa, teriakan takbir, dan desah terakhir seorang jenderal asing yang menyangka bisa menaklukkan tanah rencong. (Hasnanda Putra)

Exit mobile version