Banghas

Panglima Tibang dan Pengkhianatan di Singapura

56
Ilustrasi Panglima Tibang dan kisah perjalanan diplomatik di Singapura (istimewa)

Sejarah kadang berubah bukan karena sebuah pertempuran besar, melainkan karena sebuah pertemuan rahasia, sepucuk surat, dan seorang yang memilih berpihak. Salah satu kisah paling menarik menjelang pecahnya Perang Aceh adalah peristiwa yang melibatkan Panglima Tibang Muhammad—Syahbandar Aceh yang justru menjadi kunci terbukanya jalan bagi Belanda untuk menyerang Kesultanan Aceh.

Kisah ini diuraikan secara rinci oleh sejarawan Belanda Paul van ’t Veer dalam bukunya De Atjeh-Oorlog, sebuah karya yang menyingkap berbagai dokumen kolonial Belanda dan memperlihatkan bahwa alasan resmi Belanda memulai perang ternyata jauh lebih rumit daripada yang selama ini dikenal.

Pada akhir tahun 1872, Belanda sebenarnya masih berusaha membuka jalan diplomasi. Dua orang komisaris pemerintah ditugaskan untuk merundingkan pembaruan perjanjian dengan Kesultanan Aceh. Namun, di saat yang sama, Aceh juga menjalankan diplomasi sendiri.

Panglima Tibang Muhammad datang menemui Residen Belanda di Riau. Ia membawa pesan bahwa Sultan meminta agar kunjungan Belanda ke Aceh ditunda karena masih menunggu jawaban dari Kesultanan Turki. Kepada Belanda, Tibang bahkan menggambarkan bahwa di dalam istana sedang terjadi pertarungan politik antara kelompok yang ingin berdamai dengan Belanda dan kelompok yang dipimpin Habib Abdurrahman yang bersikap keras menolak campur tangan Belanda.

Belanda mempercayai cerita itu.

Namun, setelah rombongan Aceh singgah di Singapura pada Januari 1873, keadaan berubah drastis. Di kota pelabuhan Inggris itu, para utusan Aceh ternyata menemui Konsul Amerika Serikat dan Konsul Italia untuk mencari dukungan internasional menghadapi ancaman Belanda. Bahkan menurut laporan yang diterima pemerintah kolonial, Konsul Amerika, Studer, telah menyusun rancangan perjanjian persahabatan dengan Aceh dan berjanji menghubungi armada Amerika di Laut Cina Selatan.

Yang mengejutkan, hampir seluruh informasi rahasia mengenai pertemuan tersebut justru diketahui Belanda melalui seorang anggota rombongan Aceh sendiri, yaitu Teuku Muhammad Arifin. Ia menyerahkan berbagai informasi, salinan dokumen, bahkan surat-surat yang berkaitan dengan hubungan Aceh dan Konsul Amerika kepada Konsul Jenderal Belanda di Singapura, Read, yang kemudian meneruskannya kepada Gubernur Jenderal James Loudon di Batavia.

Di sinilah muncul sisi gelap yang jarang dibahas. Dalam berbagai laporan kolonial, Panglima Tibang digambarkan sebagai tokoh yang cenderung membuka komunikasi dengan Belanda dan menjadi bagian dari faksi yang menginginkan kompromi. Sementara itu, informasi yang dibocorkan Arifin membuat Belanda yakin bahwa Aceh sedang berusaha mencari perlindungan asing. Bagi Loudon, hal itu dianggap sebagai “pengkhianatan” terhadap Belanda dan dijadikan alasan untuk bertindak cepat sebelum negara lain sempat ikut campur.

Pada 26 Maret 1873, Belanda menyatakan perang terhadap Kesultanan Aceh. Perang yang semula diperkirakan hanya berlangsung singkat itu justru berubah menjadi salah satu perang kolonial terpanjang dalam sejarah dunia, berlangsung hampir empat puluh tahun.

Yang menarik, Paul van ’t Veer juga menunjukkan bahwa sebagian laporan dari Singapura ternyata tidak sepenuhnya terbukti. Beberapa informasi mengenai keterlibatan Italia kemudian diketahui keliru, sementara sebagian bukti yang disampaikan Teuku Muhammad Arifin juga mulai diragukan oleh pejabat Belanda sendiri. Namun saat keraguan itu muncul, semuanya sudah terlambat. Keputusan perang telah diambil.

Sejarah memang tidak mengenal kata “andaikan”. Namun pertanyaan itu tetap menarik diajukan. Bagaimana jika Amerika Serikat benar-benar menerima Aceh sebagai mitra diplomatik? Bagaimana jika armada Amerika benar-benar datang ke Aceh sebelum Belanda mengumumkan perang? Sangat mungkin Belanda akan berpikir dua kali untuk melancarkan invasi secara terbuka.

Tentu saja, semua itu adalah kemungkinan sejarah, bukan fakta yang dapat dipastikan. Tidak ada bukti bahwa Amerika pasti akan mengirim armada atau berperang membela Aceh.

Di balik pecahnya Perang Aceh, ada perundingan rahasia, persaingan diplomatik, laporan intelijen, dan orang-orang dari dalam yang membuka jalan bagi musuh. Kisah Panglima Tibang dan berbagai peristiwa di Singapura menjadi pengingat bahwa dalam sejarah, sebuah kerajaan bisa kehilangan kemerdekaannya bukan hanya karena kalah di medan perang, tetapi juga karena rahasia-rahasianya lebih dahulu sampai ke tangan lawan. (Hasnanda Putra)

Exit mobile version