Banghas

Gubernur Mata Satu dan Ironi Aceh

26
Ilustrasi Jenderal Mata Siblah atau Gubernur Belanda Mata Satu yang pernah memimpin Aceh di zaman perang (Ai)

Di dalam sejarah panjang Perang Aceh, nama Johan Hendrik van der Heijden dikenang dengan cara yang berbeda. Ia bukan hanya dihormati oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai Gubernur Militer di Aceh, tetapi juga oleh sebagian rakyat yang menjadi lawannya. Di Aceh, ia lebih dikenal dengan sebutan sederhana namun penuh makna: “Jenderal Mata Siblah” atau “Gubernur Mata Satu.”

Konon, mata kirinya telah hilang akibat luka perang. Namun kehilangan satu mata itu justru membuat namanya semakin melegenda. Di tengah perang yang berkecamuk, sosoknya menjadi mudah dikenali. Bagi pasukan Belanda, ia adalah panglima yang tegas dan berani. Bagi orang Aceh, ia adalah lawan yang tangguh, tetapi dapat diperkirakan tindakannya dan tidak suka mengingkari janji.

Ketika Van der Heijden memimpin operasi militer di Aceh pada dekade 1870-an hingga awal 1880-an, ia menerapkan strategi yang lebih terarah dibandingkan pendahulunya. Setelah berhasil menguasai wilayah sekitar Kutaraja, ia tidak hanya membangun benteng dan pos militer, tetapi juga berusaha menciptakan keamanan agar perdagangan kembali berjalan.

Dalam syair-syair Aceh yang kemudian dikumpulkan oleh orientalis Belanda, Christiaan Snouck Hurgronje, digambarkan bahwa pada masa “Jenderal Bermata Sebelah” suasana di Kutaraja relatif tenang. Penduduk yang sebelumnya mengungsi mulai kembali. Pasar hidup kembali. Kapal-kapal dagang berdatangan. Bahkan sebagian rakyat mulai menjalani kehidupan yang lebih aman dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Dalam masa yang oleh syair-syair Aceh dikenang sebagai periode ketenangan itu, tampil pula seorang tokoh penting Aceh, Tuanku Raja Muda Teuku Muhammad. Ia disebut berusaha sekuat tenaga memulihkan kehidupan di sekitar Kutaraja dan Ulee Lheue yang selama bertahun-tahun dilanda perang. Penduduk yang sebelumnya mengungsi mulai kembali ke kampung halaman mereka, pasar-pasar kembali ramai, dan kegiatan perdagangan tumbuh pesat. Menurut hikayat tersebut, keadaan bahkan terasa seperti sebuah pesta yang berlangsung terus-menerus. Dalam suasana yang semakin aman itu, para panglima perang Aceh bahkan mulai kesulitan mencari pengikut karena banyak rakyat lebih memilih berdagang dan mengurus kehidupan mereka.

Karena itulah, banyak pejuang Aceh memandang Van der Heijden sebagai lawan yang berbahaya justru karena keberhasilannya menciptakan ketenangan. Jika keadaan damai terus berlangsung, semangat perang rakyat bisa melemah. Semua itu membawa penghargaan dan rasa hormat kepada “Raja Bermata Sebelah” tersebut.

Namun kisah itu berubah secara tiba-tiba.

Saat keadaan mulai terkendali, pemerintah sipil Belanda di Batavia mengambil keputusan yang mengejutkan. Van der Heijden dipanggil pulang dan pengaruh militer dikurangi. Banyak kebijakannya dihentikan atau diubah. Bagi sebagian pengamat Belanda sendiri, keputusan itu merupakan kesalahan besar.

Yang menarik, kritik paling tajam justru muncul dari pihak Aceh. Dalam risalah perjuangan Tadkirat ar-Rakidin, Tengku Kuta Karang menjadikan nasib Van der Heijden sebagai contoh bahwa Belanda tidak menghargai orang yang berjasa. Ia menulis bahwa bahkan “jenderal bermata sebelah” yang telah mengabdi kepada bangsanya sendiri akhirnya disingkirkan.

Tidak lama setelah Van der Heijden pergi, keadaan kembali berubah. Seorang pejuang muda dari Pidie bernama Teuku Asam bangkit mengobarkan kembali semangat perlawanan. Dalam hikayat Aceh ia digambarkan sebagai pemuda yang berani dan penuh semangat juang. Dengan restu ayahnya, Teuku Raja Pidie, ia kembali mengangkat senjata untuk menyerang Kompeni. Bagi para penyair Aceh, kepergian “Jenderal Mata Siblah” bukan hanya menandai berakhirnya masa damai, tetapi juga menjadi titik balik yang menyalakan kembali api perang yang sempat meredup.

Tidak lama kemudian, Perang Aceh kembali berkobar. Serangan-serangan baru muncul dari berbagai daerah. Masa tenang yang sempat tercipta pun berakhir.

Bagi Zentgraaff, inilah ironi terbesar dalam sejarah Aceh. Ia memperkirakan bahwa setelah Van der Heijden pergi, sekitar 30.000 orang Aceh masih menjadi korban perang. Sementara itu, antara tahun 1890 hingga 1914, pihak Belanda sendiri mencatat 7.707 korban tewas dan luka-luka. Sebuah harga yang sangat mahal bagi perdamaian yang sempat tampak di depan mata.

Sejarawan kemudian memperkirakan bahwa setelah kepergian Van der Heijden, puluhan ribu orang Aceh masih harus menjadi korban dalam perang yang berlangsung lebih dari tiga dekade berikutnya. Banyak kalangan, termasuk penulis Belanda sendiri, berpendapat bahwa andaikata kebijakan yang dirintis Van der Heijden diteruskan, Perang Aceh mungkin dapat berakhir jauh lebih cepat dan dengan korban yang jauh lebih sedikit.

Begitulah ironi sejarah. Seorang jenderal kolonial yang datang sebagai penakluk justru dikenang oleh sebagian lawannya dengan rasa hormat. Ia kehilangan satu mata di medan perang, tetapi tampaknya melihat Aceh lebih jelas daripada banyak pejabat yang memiliki dua mata.

Kisah tentang “Jenderal Mata Siblah”, Tuanku Raja Muda, dan Teuku Asam ini berasal dari buku Atjeh karya Henri Carel Zentgraaff. Zentgraaff (1874–1940) adalah wartawan, penulis, dan mantan anggota KNIL yang memiliki pengalaman langsung di Hindia Belanda serta banyak mewawancarai pelaku dan saksi sejarah Perang Aceh.

Dan hingga kini, dalam lembaran sejarah Aceh, sosok “Jenderal Mata Siblah” atau “Gubernur Mata Satu” tetap berdiri sebagai salah satu tokoh paling unik: musuh yang dihormati, panglima yang ditakuti, dan orang yang oleh sebagian kalangan dianggap hampir saja mengakhiri Perang Aceh puluhan tahun lebih awal. (Hasnanda Putra)

Exit mobile version