Mora Ratisa melangkah melewati pintu istana Aceh sebagai orang kepercayaan sultan. Tak seorang pun menaruh curiga, sebab hanya orang-orang tertentu yang diizinkan menghadap sedekat itu. Sultan Alauddin Mansur Syah pun tak pernah menyangka, orang yang datang seolah membawa kabar kerajaan justru mengakhiri hidupnya. Sejak peristiwa itulah, Kesultanan Aceh memasuki salah satu babak paling kelam dalam sejarah perebutan takhta.
Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1586. Sultan Alauddin Mansur Syah sedang berada pada puncak persiapan ekspedisi besar untuk merebut Malaka dari tangan Portugis. Armada perang telah disiapkan, para panglima telah dikumpulkan, dan harapan rakyat tertuju pada kejayaan Aceh sebagai kekuatan maritim di Selat Malaka. Namun, sejarah mengambil jalan yang berbeda. Sang sultan tidak gugur di medan perang, melainkan terbunuh oleh orang yang berada di lingkaran kekuasaannya sendiri.
Mora Ratisa kemudian menjadi salah satu tokoh yang paling misterius dalam historiografi Aceh. Sumber-sumber lokal maupun kajian para sejarawan menyebut namanya sebagai pelaku pembunuhan terhadap Sultan Alauddin Mansur Syah. Bahkan, sejarawan Denys Lombard mengemukakan kemungkinan bahwa Mora Ratisa adalah sosok yang kemudian dikenal sebagai Raja Buyung atau Sultan Ali Riayat Syah II. Meski demikian, pandangan tersebut masih menjadi bahan kajian dan belum sepenuhnya disepakati oleh para ahli.
Kisah ini sesungguhnya bukan sekadar cerita tentang satu pembunuhan. Ia merupakan potret sebuah zaman ketika pergantian kekuasaan berlangsung melalui intrik, konspirasi, dan pertumpahan darah. Setelah wafatnya Sultan Ali Mughayat Syah, Kesultanan Aceh memasuki fase politik yang tidak stabil. Beberapa sultan silih berganti memerintah dalam waktu singkat, dan tidak sedikit yang mengakhiri hidupnya akibat perebutan takhta.
Raden Hoesein Djajadiningrat mencatat bahwa Sultan Alauddin Mansur Syah sendiri berasal dari Perak. Ia memperoleh legitimasi sebagai Sultan Aceh melalui hubungan dinasti setelah Aceh menaklukkan Perak. Namun, garis keturunan ternyata tidak cukup menjadi jaminan dalam pusaran politik Aceh saat itu. Dukungan para pembesar kerajaan dan kekuatan militer jauh lebih menentukan siapa yang bertahan di atas singgasana.
Yang menarik, sejarah memperlihatkan sebuah ironi. Ketika Aceh sedang menghadapi ancaman Portugis yang menguasai Malaka, perhatian elite kerajaan justru tersedot ke dalam perebutan kekuasaan. Musuh di luar memang berbahaya, tetapi perpecahan dari dalam terbukti jauh lebih menghancurkan. Armada yang semestinya berlayar melawan penjajah akhirnya kehilangan arah karena negeri sibuk menyelesaikan pertikaian internal.
Sejarah dunia berulang kali menunjukkan pola yang sama. Kekaisaran Romawi, Kesultanan Utsmaniyah, hingga berbagai kerajaan di Nusantara pernah mengalami luka akibat konflik internal. Aceh pun tidak menjadi pengecualian. Bedanya, Aceh berhasil bangkit kembali ketika muncul seorang pemimpin yang mampu menyatukan seluruh kekuatan kerajaan, yakni Sultan Iskandar Muda. Di bawah kepemimpinannya, Aceh mencapai masa keemasan dan kembali disegani di kawasan Asia Tenggara.
Karena itu, kisah Mora Ratisa tidak layak dipahami hanya sebagai catatan kriminal dalam sejarah kerajaan. Ia adalah pengingat bahwa ambisi politik yang tidak dikendalikan dapat menggagalkan cita-cita besar sebuah bangsa. Sebuah kerajaan yang kuat tidak hanya membutuhkan benteng, meriam, dan armada laut, tetapi juga kepercayaan, persatuan, dan kepemimpinan yang menjadikan kepentingan negeri berada di atas kepentingan pribadi.
Hari ini, lebih dari empat abad kemudian, nama Mora Ratisa masih mengundang tanda tanya. Namun, satu hal yang pasti: sejarah telah meninggalkan pelajaran yang sangat mahal. Sebuah bangsa dapat menghadapi musuh yang kuat dari luar, tetapi akan jauh lebih sulit bertahan apabila perpecahan tumbuh dari dalam dirinya sendiri. (Hasnanda Putra)
