Banghas

Pang Sihim: Sang Pejuang yang Mati Meminta Opium

162
Ilustrasi Pak Sihim dalam penjara Belanda di Meulaboh (Ai)

Pada 1906 dan 1907, di Seunagan, pesisir barat Aceh, muncul seorang tokoh perlawanan yang dalam catatan kolonial Belanda disebut sebagai bagian dari “gerombolan”. Namanya Pang Barat Sihim, yang disebut sebenarnya bernama Si Brahim. Ia memimpin kelompok bersenjata yang kuat dan menjadi pengikut Teungku Putih, salah seorang tokoh yang melakukan perlawanan terhadap kekuasaan Belanda di kawasan Seunagan.

Namun, kisah Pang Sihim dalam buku Atjeh karya H.C. Zentgraaff tidak hanya menggambarkannya sebagai seorang pejuang yang mengangkat senjata melawan Belanda. Ia juga dituduh melakukan kekejaman luar biasa terhadap rakyat Aceh sendiri.

Ketakutan terhadap Pang Sihim begitu besar sehingga masyarakat tidak berani menyebut namanya. Ia digambarkan menggunakan kekerasan untuk menciptakan rasa takut, terutama agar tidak seorang pun berani membocorkan tempat persembunyiannya kepada pihak lawan.

Dalam catatan tersebut, perempuan dan anak-anak yang ditangkapnya disebut mengalami penyiksaan dan pembunuhan. Zentgraaff bahkan menuliskan pengakuan Pang Sihim bahwa lebih dari 70 perempuan dan anak-anak telah menjadi korban. Salah satu bentuk kekejaman yang dituduhkan kepadanya adalah pembunuhan anak-anak dengan tombak.

Kisah ini tentu sangat mengerikan. Namun, penting dicatat bahwa gambaran tersebut berasal dari narasi kolonial Zentgraaff dan pengakuan yang ia catat. Karena itu, konteks serta kebenaran setiap detailnya perlu dibaca secara kritis.

Perlawanan Pang Sihim akhirnya berakhir setelah ia disergap pasukan patroli Belanda di bawah komando Boreel. Berbeda dengan banyak kisah pertempuran yang berakhir dengan kematian di medan laga, Pang Sihim disebut berhasil ditangkap hidup-hidup. Ia kemudian dibawa ke penjara Meulaboh untuk menjalani pemeriksaan.

Di balik jeruji penjara itulah muncul sisi lain yang membuat akhir kisah Pang Sihim terasa tragis.

Ia ternyata sangat kecanduan opium. Hampir tidak pernah pipanya lepas dari tangan dan ia memiliki persediaan opium sendiri. Namun, di dalam penjara, kebiasaan tersebut tidak lagi dapat dilanjutkan.

Pihak penjara tidak memberinya opium. Persediaannya dihentikan sekaligus, bukan dikurangi secara bertahap. Akibatnya, tubuh Pang Sihim mengalami penderitaan berat. Dalam catatan Zentgraaff, ia digambarkan berubah seperti orang yang kehilangan kendali. Ia mengalami rasa sakit, gangguan khayalan, dan sakit perut yang hebat.

Dari dalam sel, ia berteriak meminta opium.

“Sedikit saja!”

Namun, permintaan itu tidak dipenuhi.

Beberapa hari kemudian, Pang Sihim akhirnya meninggal dunia setelah melalui penderitaan akibat putus dari kecanduan opium. Zentgraaff menutup kisahnya dengan perbandingan bahwa penderitaan yang dialami Pang Sihim di penjara belum sebanding dengan penderitaan warganya yang dibunuh dengan kejam.

Begitulah Pang Sihim muncul dalam catatan H.C. Zentgraaff: seorang pejuang Aceh yang melawan Belanda, tetapi sekaligus digambarkan sebagai sosok yang melakukan kekejaman terhadap bangsanya sendiri.

Pang Sihim akhirnya tidak gugur dengan senjata di tangan, melainkan takluk di balik jeruji—bukan kepada peluru, tetapi kepada tubuhnya sendiri yang tersandera opium.

Kisahnya memperlihatkan betapa rumit dan kelamnya Perang Aceh—ketika perlawanan terhadap penjajahan, kekerasan, dendam, dan kecanduan bertemu dalam kehidupan seorang manusia.

Kisah Pang Sihim meninggalkan pertanyaan yang lebih panjang daripada hidupnya sendiri. Di tengah perang, siapa sebenarnya yang menjadi pemenang ketika manusia kehilangan belas kasih, dan ketika perlawanan bercampur dengan kekerasan serta kecanduan? Barangkali sejarah tidak selalu meninggalkan kita seorang pahlawan atau seorang penjahat—kadang ia hanya meninggalkan seorang manusia dengan jejak luka yang terlalu dalam untuk dilupakan. (Hasnanda Putra)

Exit mobile version