Banghas

Dari Gle Yeung ke Indrapuri, Pawai Mayat Marsose

40
Ilustrasi pawai mayat marsose menuju Indrapuri (Ai)

Sebanyak 28 serdadu Marsose Belanda tewas setelah penyerbuan mendadak ke Gle Yeung gagal. Namun, penderitaan belum berakhir ketika jasad mereka harus diangkut dengan cara yang mengerikan menuju Indrapuri.

Apakah ada penggotongan mayat yang lebih menyedihkan daripada peristiwa setelah gagalnya penyerbuan mendadak ke Gle Yeung?

Gle Yeung, yang kini merupakan sebuah kemukiman di Kecamatan Kuta Cot Glie, Kabupaten Aceh Besar, menjadi lokasi pertempuran sengit yang mengubah rencana serangan fajar mendadak Belanda menjadi sebuah kegagalan sekaligus bencana besar. Namun, tragedi belum berakhir ketika pertempuran usai.

Tragedi bahkan belum selesai ketika pertempuran berakhir.

Karena tidak memperkirakan akan kehilangan begitu banyak prajurit, pasukan Belanda hanya membawa beberapa tandu. Para korban yang terluka terpaksa diangkut menggunakan daun pintu, meja, dan papan-papan kasar. Sementara itu, sejumlah jenazah diikat pada tangan dan kaki, kemudian digantungkan pada kayu pikulan dan digotong oleh para pekerja paksa.

Perjalanan menuju Indrapuri berubah menjadi sebuah pawai mayat atau arak-arakan maut.

Mayat-mayat bergelantungan di tengah pikulan. Tubuh mereka melengkung, sementara kepala yang berlumuran darah terbuai ke kiri dan kanan. Sebagian tubuh dipenuhi lumpur setelah melewati jalan yang berat dan menyeberangi Krueng Meunapat. Pemandangan itu begitu mengerikan hingga membekas dalam ingatan orang-orang yang menyaksikannya.

Kisah tragis tersebut dicatat oleh H.C. Zentgraaff dalam buku Atjeh. Bagi Zentgraaff, pengangkutan para korban dari Gle Yeung bukan sekadar perjalanan pasukan yang membawa pulang prajurit gugur. Ia merupakan pemandangan perang yang begitu memilukan, bahkan membuat para tentara yang telah terbiasa menghadapi pertempuran kehilangan kemampuan untuk mengendalikan perasaan.

Serangan ke Gle Yeung sebelumnya dirancang berlangsung cepat. Pada malam hari, pasukan bergerak menuju sebuah bukit tempat sekelompok pejuang Aceh bertahan di bawah pimpinan salah seorang dari keluarga Teungku Chik di Tiro.

Namun, ketika pasukan Belanda mendekat, mereka justru disambut tembakan dan kobaran api dari berbagai arah. Pertahanan Aceh memuntahkan tembakan tanpa henti. Prajurit Belanda berguguran dan sebagian tubuh mereka bertumpuk di medan pertempuran.

Kapten Scheuer terkena tembakan di bagian perut. Hingga pagi, ia masih terbaring hidup di atas rumput yang basah. Ketika seorang juru rawat hendak memberikan pertolongan, ia meminta agar bantuan diberikan kepada prajurit lain yang sedang mengerang kesakitan.

“Bagi saya tak perlu lagi. Tolonglah orang yang tengah mengerang-ngerang di sana.”

Kapten Jacobs tidak selamat. Ia tewas akibat tembakan di kepala. Banyak perwira dan prajurit lainnya mengalami luka, baik berat maupun ringan.

Di tengah pertempuran, tiba-tiba terdengar tiupan terompet yang memberi tanda, “Hentikan menembak!”

Pasukan Belanda seketika berhenti. Belakangan diketahui bahwa seorang fuselier Belgia bernama Pauwels berada di antara pejuang Aceh dan meniup terompet untuk mengacaukan pasukan Belanda. Ketika hari mulai terang, mayatnya ditemukan di dalam benteng.

Setibanya di Indrapuri, pasukan zeni bekerja sepanjang malam membuat peti-peti mati. Sebuah liang besar telah disiapkan untuk menampung 28 jenazah. Dua perwira berpangkat kapten dikirimkan ke Peucut, Komplek kuburan Kerkhof di Kutaraja.

Komandan balatentara, Van Heutsz, hadir dalam upacara pemakaman. Ketika deretan peti mati diturunkan ke dalam liang, ia disebut tidak mampu menahan air mata. Dengan suara berat, ia mengenang mereka sebagai prajurit yang gugur di medan kehormatan dan berjanji bahwa makam itu akan diabadikan.

Namun, ketika Zentgraaff kemudian mengunjungi kembali pekuburan kecil di dekat Indrapuri, ia tidak menemukan penanda jelas bagi kuburan massal tersebut.

Gle Yeung menjadi bukti bahwa pasukan pejuang Aceh bukan lawan yang mudah ditundukkan. Serangan mendadak Belanda berubah menjadi malapetaka, sementara Indrapuri dan sekitarnya menjadi saksi beratnya perlawanan Aceh. Makam 28 serdadu Marsose mungkin telah terlupakan, tetapi keberanian para pejuang Aceh tetap hidup dan dikenang sepanjang sejarah. (Hasnanda Putra)

Exit mobile version