Alkisah suatu ketika dalam rentan pergumulan dakwahnya, Nabi Musa a.s memohon kepada Allah SWT untuk memperlihatkan keadilan-Nya di hadapan Musa. Kemudian Malaikat JIbril datang dan berkata:
”Wahai Musa engkau tidak akan sanggup bersabar jika Allah memperlihatkan keadilan-Nya, aku akan bersabar wahai Jibril” jawab Musa dengan penuh keyakinan.
Baiklah Allah akan menunjukkan keadilan-Nya padamu, untuk itu Allah memerintahkanmu pergi ke sebuah gurun padang pasir. Setiba Musa di padang pasir, ia diperintahkan Allah untuk duduk dan bersembunyi di balik perbukitan gurun. Bertepian dengan gurun tempat Musa bersembunyi, ada sebuah mata air besar ditengahnya, bak oase kehidupan di tengah gersangnya hamparan gurun.
Panasnya matahari menguliti perihnya kulit dipenuhi dengan hembusan hawa pasir panas, Musa tidak melihat seorangpun di dekatnya. Setelah beberapa waktu berlalu datanglah seseorang penunggang kuda yang ingin meneguk sedikit air di tengah perjalanannya, ia pun turun dari pelana kudanya agar dapat menggapai air tersebut.
Ketika ia membungkukkan tubuhnya untuk minum air, jatuhlah sebuah kantong miliknya, kantong itu berisi sejumlah uang. Ia tidak menyadari bahwa kantong itu telah jatuh dari ikatan pinggangnya, ia lantas langsung bergegas dan pergi meninggalkan gurun itu dengan menunggangi kuda.
Tak lama kemudian Musa melihat seorang anak kecil datang dan meneguk air lewat genggaman tangannya untuk menghilangkan sedikit dahaga, kemudian ia mendapati sebuah kantong uang tepat berada di dekatnya. Melihat tidak ada seorang pun di sekitarnya ia mengambil kantong berisi uang tersebut lantas pergi meninggalkan gurun itu. Sesaat kemudian, sumber mata air itu kembali didatangi oleh seorang kakek tua buta, mendengar gemuruh air yang berada didekatnya, ia pun memutuskan untuk mendekati mata air tersebut dan meminum air darinya.
Selepas ia meminum air dan hendak meninggalkan tempat tersebut, tiba-tiba datanglah penunggang kuda yang kehilangan kantong uangnya tadi, lalu ia menginterogasi sang kakek tua, tetapi kakek tua itu mengelaknya.
“Bagaimana aku bisa mencuri sedangkan aku buta” sanggah sang kakek dengan intonasi tinggi.” Kalau kau tak percaya kau bebas menggeledah barang bawaanku” sahutnya membela diri.
Tak terima akan sanggahan sang kakek, penunggang kuda pun tersulut amarah. Terjadi lah perdebatan sengit antara keduanya hingga akhirnya sang kakek buta tersebut terbunuh oleh penunggang kuda yang menuduhnya mencuri tadi. Melihat tiga kejadian tersebut, akhirnya Nabi Musa menyerah.
”Aku sudah tidak sanggup lagi untuk bersabar wahai Jibril” adunya dengan kesal.
Semua ini terjadi karena ulah anak kecil tadi, ia mengambil uang yang bukan miliknya, kalaulah ia tidak mengambil hak orang lain, maka tidak akan terjadi pembunuhan tersebut”. “Bukankah engkau ingin melihat keadilan Allah wahai Musa? sahut Jibril, “sesungguhnya Allah sedang memperlihatkan keadilan-Nya padamu wahai Musa”.
Dahulu penunggang kuda itu memiliki seorang pekerja yang bekerja dengannya, tetapi ia tidak pernah membayarkan upah jerih payah si pekerja, kemudian ia meninggal. sedangkan anak tadi itu adalah ahli warisnya. “Taukah engkau wahai Musa bahwa jumlah uang yang ada dikantong itu persis senilai dengan upah yang tak dibayarkannya kepada pekerja selama ia bekerja dengan penunggang kuda itu”?.
Pekerja itu sudah meninggal beberapa tahun silam dibunuh oleh seorang penjahat, sedangkan penjahat itu adalah kakek buta yang di bunuh oleh penunggang kuda tersebut. Lihatlah wahai Musa bagaimana keadilan Allah berjalan! sedangkan si anak yang belum baligh, maka tidak ada beban hukumnya atasnya karena ia belum mukallaf, sehingga ia terbebas walaupun ia mengambil uang tersebut. Bahkan saat itu si penunggang kuda pun tak sadar mengapa ia menyimpan uang sejumlah itu di kantongnya.
Begitu lah keadilan Allah yang berjalan sesuai dengan sunnah-Nya, Allah memiliki skenario unik dalam menegakkan keadilan atas makhluknya. Terkadang yang terlihat oleh manusia dengan pandangan terbatasnya tak mampu sampai pada frekuensi pandangan Allah yang Maha luas. Tidak ada yang kebetulan dan tidak ada yang terjadi dengan begitu saja. Skema Allah diatur dengan blue print yang sempurna, begitu adil, teratur, dan bijaksana. “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan semisal” (QS: ar-Rahman: 60). Bukankah hidup laksana cermin yang selalu memantulkan bentuk yang sama, baik perangaimu akan memantulkan kebaikan pula, begitu pula burukmu. Bukankah yakinmu akan menyempurnakan kekuatanmu?.
Bersahabatlah dengan pikiran positif, tetaplah berpikir baik kepada Pemilik semesta. Apa yang engkau jalani saat ini merupakan bentuk keadilan-Nya yang nyata. “Aku akan seperti sangkaan hambaku” (HR:`Muttafaq ‘Alaih). Berjalanlah bersama kebaikan, karena kebaikan itu akan setia membersamai alunan kehidupanmu kelak walau terkadang ia datang dari dimensi dan cara yang berbeda. Yakinlah..akan mata-Nya yang tak pernah terlelap untuk mengurusimu. Jangan curangi Tuhanmu walaupun dalam gelapmu. Ia Maha tahu dari apa yang tak engkau ketahui!
Saat kau terjatuh…Bisa jadi dahulu engkau pernah menyakiti orang, mendzhalimi makhluk Allah lainnya atau bahkan mendzhalimi dirimu sendiri. Teruslah bermuhasabah diri! sungguh sebaik-baiknya orang adalah pribadi yang selalu mengoreksi dirinya sendiri. Bukankah Rasulullah senantiasa beristighfar untuk memohon ampunan Allah? padahal beliau kekasih Allah dengan jaminan syurga terbaik-Nya.
