Banghas

Istana Maimun dan Orang-orang Aceh

7520
Foto/ Iwanvanwilan Istana Maimun, Kota Medan

Mengunjungi Kota Medan belum sempurna rasanya bila tidak singgah ke Istana Maimun dan Masjid Raya Medan. Objek wisata yang menjadi landmark Kota Medan di Sumatera Utara.

Terus siapa yang membangun dan tinggal di istana megah ini, benarkah ada kaitan dengan Sultan Iskandar Muda.

Istana Maimun adalah icon Kota Medan Sumatera Utara yang menunjukkan kejayaan Kesultanan Melayu Deli. Istana Maimun memiliki luas 2.772 meter persegi dengan 30 ruangan yang tersebar di dua lantai.

Arsitekturnya menunjukkan langgam perpaduan gaya Melayu, gaya Moghul, dan Eropa. Istana Deli ini dapat dikatakan sebagai arsitektur yang ikonik di Indonesia.

Istana ini terletak di Jalan Brigadir Jenderal Katamso, Aur, Medan Maimun, Medan. Didesain oleh arsitek Capt. Theodoor van Erp, seorang Belanda yang dibangun atas perintah Sultan Deli, Sultan Ma’moen Al Rasyid Perkasa Alam.

Nah Syedara, ujung nama beliau Perkasa Alam mengingatkan kita pada gelar yang disandang Sultan Iskandar Muda Perkasa Alam, Raja Kerajaan Aceh Darussalam terkenal. Sultan Ma’moen adalah raja ke-9 Deli, sebagaimana diketahui kesultanan Deli ini didirikan oleh seorang panglima utusan Sultan Iskandar Muda yang bernama Tuanku Panglima Gocah Pahlawan (1632-1669).

Untuk merebut Deli, Aceh tidak memerlukan banyak waktu. Menerapkan strategi teknik pengepungan kota, Medan atau Deli masa lalu itu mampu dikuasai Tentara Aceh kurang dari enam minggu.

Denys Lombard dalam bukunya Kerajaan Aceh Darussalam, menulis bahwa untuk menyerang dan merebut Deli, orang-orang Aceh melakukannya dengan cepat sekali. Mereka tanpa kenal lelah menggali tanah, sebagaimana terlihat waktu Kedah dikepung, dan khususnya waktu Deli dikepung.

Deli adalah kota yang sangat kuat sekali dan dipertahankan mati-matian oleh prajurit terbaik Deli. Gubernur Malaka sendiri sesumbar bahwa Aceh bisa saja mengalahkan Malaka, tapi tidak akan mampu mengalahkan Deli.

Bukanlah Iskandar Muda namanya bila tidak mampu membuktikan dirinya penguasa negeri bawah angin. Raja mengirim prajurit terbaik dalam jumlah yang terbatas namun memiliki kemampuan tempur yang luar biasa dan ahli-ahli strategi dalam pertempuran.

Sultan Iskandar Muda yang berkuasa di Kesultanan Aceh mengirim Panglimanya bernama Gocah Pahlawan sekitar tahun 1612. Panglima Aceh ini kemudian memerintahkan penggalian parit-parit besar, tanah didorong sedemikian rupa hingga dengan kerugian sedikit saja, Deli direbut dalam waktu kurang dari enam minggu. Sebuah strategi jitu pengepungan kota terbaik saat itu.

Sang Laksamana perwira pilihan Aceh ini akhirnya menjadi pemimpin yang mewakili kerajaan Aceh di Tanah Deli setelah menaklukannya.

Gocah Pahlawan membuka negeri baru dengan memanfaatkan kebesaran imperium Aceh untuk memperluas Kesultanan Deli.

Gocah Pahlawan telah berhasil memajukan Kerajaan Deli dan sekitar tahun 1632 kawin dengan putri Deli. Dari perkawinan keduanya lahir garis keturunan raja-raja Deli.

Sepeninggal Gocah Pahlawan yang mangkat tahun 1653, putranya sang pengganti adalah Tuangku Panglima Perunggit. Raja baru turunan Aceh ini kemudian memutuskan hubungan dengan kerajaan Aceh Darussalam dan menegaskan kemerdekaan Kesultanan Deli pada tahun 1669.

Keberanian Sultan muda ini untuk pisah dari Aceh karena sang raja Aceh yang paling disegani dan dihormati raja-raja Deli yaitu Sultan Iskandar Muda telah meninggal dunia pada tahun 1636. Saat Deli menyatakan pisah, Kerajaan Aceh Darussalam saat itu dipimpin Sri Ratu Safiatuddin Tajul Alam (1641-1675) putri Sultan Iskandar Muda Perkasa Alam.

Kaitan lain antara Istana Maimun dan Aceh adalah di halaman Istana terdapat sebuah Meriam puntung. Menurut cerita, meriam tersebut jelmaan Putri Hijau dari Kesultanan Deli. Ini terjadi ketika Kerajaan Deli diserang oleh Kerajaan Aceh, dan sang putri menolak pinangan Sultan Aceh. Cerita rakyat yang berkembang, bahwa meriam itu menembak tanpa henti menyerang pasukan Aceh hingga pada akhirnya pecah menjadi dua bagian, dan potongan meriam tersebut terlempar jauh sampai ke daratan Tinggi Karo.

Sultan Ma’moen Al Rasyid Perkasa Alam selain membangun istana juga mendirikan Masjid Al Mashun atau dikenal sebagai Masjid Raya Medan. Masjid ini dibangun pada tahun 1906 dan baru digunakan setahun kemudian.

Begitulah riwayat Kesultanan Deli dengan Istana Maimun dan Masjid Raya Al Mashun dan tentu saja bagian dari sejarah Kota Medan Sumatera Utara. Sebuah benang merah tak terpisahkan dengan orang-orang Aceh. (Hasnanda Putra).

Exit mobile version