posaceh.com, Jakarta – Sirine panjang membelah udara pagi di Lapangan Utama Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Cibubur, Jakarta Timur, Jumat (14/8/2026). Bukan sirine sembarangan — bunyinya menandai dimulainya Jambore Nasional XII 2026, pertemuan akbar pramuka penggalang terbesar dalam sejarah kepramukaan Indonesia yang tahun ini digelar bersamaan dengan peringatan Hari Pramuka ke-65.
Lebih dari 19 ribu penggalang dari seluruh pelosok Indonesia sudah lebih dulu memadati lapangan itu sejak pagi. Mereka berdiri rapi dalam barisan, mengenakan seragam cokelat kebanggaan, di bawah langit Cibubur yang cerah. Delegasi dari luar negeri turut hadir, menambah warna dan semangat internasional pada perhelatan yang selama ini menjadi puncak kebanggaan Gerakan Pramuka Indonesia.
Menteri Pemuda dan Olahraga Kak Erick Thohir tampil sebagai Pembina Upacara. Ia membacakan sambutan tertulis Presiden Prabowo Subianto — sebuah pesan yang kemudian menjadi sorotan, bukan sekadar sambutan seremonial biasa, melainkan pernyataan sikap yang tegas soal masa depan kepramukaan Indonesia.
Sebelum sambutan dibacakan, enam petugas upacara mengibarkan Bendera Kegiatan Jamnas XII 2026 dengan langkah teratur dan penuh khidmat. Alunan Mars Jamnas XII mengiringi setiap langkah mereka. Puluhan ribu pasang mata mengikuti kibaran kain itu dalam senyap — momen yang sederhana namun sarat makna, sebuah penanda bahwa roda pertemuan akbar pramuka penggalang resmi mulai berputar.
Bendera itu akan berkibar hingga 20 Agustus 2026, saat Jamnas XII resmi ditutup. Tujuh hari penuh kegiatan, pembelajaran, persahabatan, dan pembentukan karakter menanti ribuan peserta yang datang dengan membawa mimpi masing-masing dari seluruh penjuru Indonesia.
Jamnas XII tahun ini hadir bukan tanpa visi. Tema yang diusung — Berkreasi, Berinovasi, Terampil dan Mandiri untuk Mendukung Swasembada Pangan — bukan sekadar rangkaian kata yang menghias spanduk. Ia adalah cerminan arah yang ingin dituju oleh Gerakan Pramuka: menghasilkan generasi muda yang tidak hanya kuat secara karakter, tetapi juga relevan dan siap menjawab tantangan nyata bangsa.
Swasembada pangan bukan isu yang asing di telinga Presiden Prabowo. Ia menjadi salah satu prioritas besar pemerintahan yang dipimpinnya. Dengan menyematkan isu tersebut ke dalam tema Jamnas, pesan yang ingin disampaikan jelas — pramuka bukan entitas yang berdiri di luar gerak pembangunan nasional. Pramuka adalah bagian dari solusi.
Melalui tema itu pula, para peserta dari berbagai daerah dan delegasi mancanegara diharapkan pulang bukan hanya dengan kenangan indah dari Cibubur, tetapi dengan bekal inovasi, kreativitas, dan semangat membangun yang mengakar kuat dalam diri mereka.

Pesan Presiden Prabowo yang dibacakan Kak Erick Thohir menjadi titik berat upacara pagi itu. Presiden membuka pesannya dengan sebuah pengakuan yang jujur — bahwa tantangan yang dihadapi Gerakan Pramuka hari ini sudah jauh berbeda dari yang pernah ada sebelumnya.
Teknologi berubah dengan kecepatan yang belum pernah terjadi dalam sejarah manusia. Informasi mengalir dari berbagai arah, tanpa filter, tanpa henti. Di tengah kondisi itu, anak-anak muda Indonesia menghadapi godaan dan distraksi yang jauh lebih kompleks dibanding generasi mana pun sebelumnya.
Namun Presiden tidak berhenti pada deskripsi tantangan. Ia langsung menunjuk pada solusinya. “Saya percaya Indonesia membutuhkan pramuka lebih dari sebelumnya — pramuka yang kuat dan aktif, yang menjadi tempat bagi anak-anak Indonesia untuk tumbuh, belajar, dan bekerja sama menghadapi tantangan, dan melakukan kegiatan positif bagi bangsa dan negara,” demikian penggalan sambutan Presiden yang dibacakan Kak Erick Thohir dengan nada tegas di hadapan puluhan ribu peserta.
Kalimat itu bukan retorika kosong. Ia adalah jawaban atas sebuah pertanyaan yang sudah lama menggantung: di era digital yang serba cepat ini, masih relevankah pramuka? Jawaban Presiden Prabowo sangat jelas — justru di era inilah pramuka paling dibutuhkan.
Namun ada satu hal yang Presiden soroti dengan serius — cara pandang masyarakat terhadap pramuka yang dinilai masih perlu diluruskan. Selama bertahun-tahun, pramuka kerap dipersepsikan hanya sebagai kegiatan ekstrakurikuler — pelengkap nilai rapor, bukan pembentuk jiwa.
Presiden menolak pandangan itu. Pramuka, tegasnya, harus dipahami sebagai bagian penting dari proses pembentukan karakter pemuda Indonesia. Bukan pelengkap. Bukan sekadar tambahan. Melainkan fondasi — tempat di mana nilai-nilai dasar kemanusiaan dan kebangsaan ditanamkan dan ditempa.
Karakter yang dimaksud Presiden memiliki wajah yang konkret. Pramuka harus tumbuh menjadi pribadi yang mencintai bangsanya, berempati, peduli kepada sesama, dan tidak segan turun tangan membantu orang lain. Sikap patriotik, kegigihan, dan empati sosial adalah tiga pilar karakter yang Presiden tekankan — tiga hal yang kini menjadi tolok ukur generasi muda ideal yang dirumuskan Kemenpora.
Kak Erick Thohir menambahkan satu penegasan penting yang menyentuh cara kerja pembentukan karakter itu sendiri. “Karakter tidak terbentuk dalam satu hari, dan tidak cukup dalam kegiatan di dalam kelas — latihan, pengalaman, keteladanan, dan lingkungan yang baik,” ujarnya. Sebuah pengingat bahwa pramuka, dengan seluruh metode kepramukaannya yang berbasis alam, kelompok, dan pengalaman langsung, memiliki keunggulan yang tidak dimiliki ruang kelas konvensional.
Presiden Prabowo juga menyoroti satu aspek yang selama ini sering luput dari perhatian — bahwa pembinaan kepramukaan tidak bisa hanya berdiri di atas satu kaki. Ia membutuhkan sinergi lintas sektor. Kemendikdasmen dan Kemenristekdikti disebut secara eksplisit sebagai mitra yang harus dilibatkan secara aktif.
Alasannya sederhana namun mendasar: pembentukan generasi muda bukan urusan satu tahun atau satu jenjang. Ia adalah perjalanan panjang yang dimulai dari bangku sekolah dasar, melewati sekolah menengah, hingga perguruan tinggi. Perjalanan sepanjang itu tidak bisa — dan tidak seharusnya — ditanggung sendiri oleh satu institusi.
Di sisi lain, Presiden juga menegaskan bahwa perubahan zaman tidak boleh mengikis nilai-nilai inti kepramukaan. Disiplin tetap harus menjadi tulang punggung. Gotong royong tetap harus menjadi cara kerja. Kepedulian terhadap sesama tetap harus menjadi nafas kehidupan sehari-hari seorang pramuka. “Nilai-nilai pramuka tidak berubah,” tegas Presiden — sebuah jangkar yang menahan Gerakan Pramuka agar tidak hanyut di tengah arus modernitas yang deras.
Kemudian Presiden membawa seluruh peserta menatap ke satu titik di masa depan — tahun 2045, saat Indonesia genap berusia 100 tahun. Indonesia Emas 2045 adalah visi besar yang sering disebut, tetapi Presiden Prabowo menyebutnya dengan cara yang berbeda — bukan sebagai janji pemerintah, melainkan sebagai tanggung jawab generasi muda.
“Indonesia Emas 2045 adalah masa depan kalian, dan kalian sendiri yang harus membangunnya,” imbuh Presiden. Kalimat itu bergema di tengah lapangan, diterima oleh ribuan telinga milik anak-anak muda yang hari itu masih mengenakan dasi pramuka, tetapi suatu hari nanti akan memimpin negeri ini.
Pramuka diminta untuk terus belajar, berlatih, dan berkarya. Menjaga persatuan sebagai harga mati. Mencintai rakyat, bangsa, dan negara bukan hanya dalam kata-kata, tetapi dengan perbuatan nyata. Bersama-sama membangun Indonesia yang kuat, mandiri, adil, dan makmur.
Usai sambutan, pembukaan Jamnas XII ditandai secara simbolis dengan bunyi sirine yang dibunyikan bersama oleh tiga tokoh: Kak Erick Thohir, Ketua Kwartir Nasional Budi Waseso, dan Mr. David Berg, Sekretaris World Organization of the Scout Movement. Tiga tangan menekan tombol sirine dalam satu waktu — simbol bahwa Jamnas XII bukan hanya milik Indonesia, tetapi juga diakui dan disaksikan oleh dunia.
Maka Jambore Nasional XII 2026 pun resmi bergulir. Tujuh hari ke depan, Cibubur menjadi milik puluhan ribu pramuka — generasi yang hari ini sedang ditempa, dan yang besok akan menentukan ke mana arah Indonesia melangkah.(MTis/*)











