Di bawah rindang hutan Tangse, hujan gerimis turun membasahi dedaunan. Bau tanah basah bercampur dengan aroma mesiu yang masih tersisa dari pertempuran sehari sebelumnya. Di antara semak belukar, seorang perempuan berusia sekitar 30 tahun dengan sorot mata tajam dan tubuh yang masih penuh semangat perjuangan berjalan hati-hati. Dialah Pocut Gambang, putri dari Cut Nyak Dhien, pejuang tangguh yang meneruskan perjuangan ibunya di pedalaman Aceh.
Warisan Perjuangan
Pocut Gambang tumbuh dalam suasana perang. Ia melihat ayahnya, Teuku Ibrahim Lamnga, gugur dalam pertempuran, dan ibunya, Cut Nyak Dhien, tak pernah berhenti bergerilya melawan Belanda. Sejak kecil, ia belajar mengayunkan rencong, menunggang kuda, dan menyusun siasat perang. Setelah Teuku Umar gugur pada tahun 1899, Cut Nyak Dhien bersama pengikut setianya, termasuk Pocut Gambang, terus berpindah-pindah di belantara Aceh untuk menghindari kejaran Belanda.
Namun, usia mulai menggerogoti Cut Nyak Dhien. Matanya mulai rabun, tubuhnya semakin lemah, tetapi semangatnya tetap menyala. Pocut Gambang menjadi salah satu yang paling setia mendampingi ibunya, menjaga dan membantu dalam setiap perjalanan di tengah rimba, termasuk ketika berkali-kali melewati kawasan Tangse.
Pang Laot orang kepercayaan Cut Nyak Dien yang berkhianat telah menghadap Belanda. Pada 7 Nopember 1905 bersama pasukan Belanda berhasil mengetahui tempat
persembunyian Cut Nyak Dhien. Van Veltman memimpin pengejaran ini bersama Pang Laot. Saat pertempuran itu, Cut Nyak Dhien sedang bersama Cut Gambang. Putri kesayangannya disuruh melarikan diri ke Tangse dengan penuh Iuka di sekujur tubuhnya.
Akhir gerilya sang putri
Penulis yang juga mantan serdadu Belanda Zentgraaf menggambarkan akhir hayat sang putri tercinta Cut Nyak Dien di hutan Tangse. Sebelumnya Cut Gambang telah menjadi isteri dari Teungku Mahyeddin Di Tiro atau yang dikenal dengan Chik Mayet, putra dari Teungku Chik Di Tiro.
Sekitar tahun 1909, Schmidt bersama pasukan elit Marsose berhasil menemukan jejak gerilyawan Teungku Mahyeddin di pegunungan perbatasan Tiro dan Tangse. Pertempuran pecah dan digambarkan dalam buku Aceh, berlangsung sengit dan terjadi dalam jarak dekat. Teungku Mahyeddin selamat untuk melanjutkan perlawanan karena disuruh isterinya melarikan diri, namun Cut Gambang memilih bertahan karena mengalami luka-luka berat.
Dengan penuh luka bersimbah darah, Cut Gambang yang berpakaian serba hitam seperti pengakuan Zentgraff, hampir tidak merintih dan menolak menyerah.
Sebuah kalimat yang dicatat dalam buku Aceh, mengungkapkan bagaimana tegas dan kerasnya sosok pejuang putri ini walaupun sudah sekarat.
Pimpinan pasukan Schmidt mendekati Cut Gambang dengan membawa air minum. Schmidt dengan bahasa Aceh sopan bertanya kepada Pocut, apakah ia mau diobati. Cut Gambang memalingkan muka dari kapten Belanda ini, sambil berkata “bek kamat kèe kaphe budok” (jangan memegang saya kafir kurap).
Begitulah seorang Cut Gambang, yang di akhir hidupnya lebih memilih mati kehabisan darah daripada disentuh Belanda untuk disapu luka. (Hasnanda Putra)
