Banghas

Bujang Salim, Miniatur Baiturrahman di Krueng Geukueh

5337
Masjid Bujang Salim di Keude Krueng Geukueh, Aceh Utara (foto Saiful Rias).

 

Desain masjid yang berada di pusat kota Krueng Geukueh ini menyerupai Masjid Raya Baiturrahman dengan bentuk kubah hitam, hanya saja jumlah kubah yang lebih sedikit yaitu lima kubah sedangkan Masjid Raya dengan tujuh kubah.

Sebagaimana model-model masjid di Aceh pasca Belanda datang, arsitektur masjid-masjid di Aceh berubah dengan bentuk kubah. Sehingga sebuah bangunan masjid sangat bergantung bagaimana bentuk kubahnya dan disitulah pesona kekhasan sebuah masjid terdapat.

Berada di Kota Krueng Geukueh, nama masjid ini memakai nama besar seorang bangsawan Aceh, Sang Pahlawan Pergerakan Kemerdekaan Bujang Salim.

Dibangun mulai 1921 dengan prakarsa Bujang Salim bangsawan Ulee Balang Negeri Nisam.

Desain arsitekturnya selain meniru Baiturrahman, Masjid Bujang Salim juga terlihat rupawan dari udara karena letaknya di tengah pasar Krueng Geukueh.

Pada awal 2016, Masjid ini terpilih menjadi masjid besar percontohan di Aceh.

Detiknews mencatat Masjid Bujang Salim dalam deretan masjid-masjid cantik bersejarah di Serambi Mekkah.

Siapa tokoh besar ini?

Dari berbagai sumber yang ada, disebutkan Teuku Bujang bin Teuku Rhi Mahmud Lahir pada 1891 di kewilayahan Ulee Balang Nisam dengan ibukotanya Krueng Geukueh.

Aktivitas pergerakan yang telah dilakukannya di masa penjajahan Belanda, Bujang Salim layak menyandang Pahlawan Nasional.

Pada Tahun 1901, karena Bujang Salim keluarga besar Ulee Balang mendapat kesempatan masuk Kweekschool, Sekolah Raja di Bukittinggi.

Mulai bersekolah di HIS (Hollandsch Inlandsch School) atau setingkat SD 7 tahun, lalu melanjutkan ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) atau setingkat SMP selama 3 tahun dan melanjutkan lagi pada sekolah guru Kweekschool.

Kembali dari Padang, Teuku Bujang pada tahun 1912 s/d 1920 diangkat menjadi Zelfbestuurder Negeri Nisam dengan Ibukota di Krueng Geukueh.

Pergerakannya melawan penjajahan mulai terbaca dengan membentuk Persatuan Muslim Bersatu pada tahun 1921, dan ini dianggap ancaman politik Belanda di Aceh.

Teuku Bujang akhirnya ditangkap dan dipenjarakan di Keudah – Banda Aceh dan Meulaboh. Karena terus menyuarakan perlawanan dari balik penjara pada tahun 1922, Teuku Bujang Salim diasingkan Meurauke – Papua.

Di Merauke, Teuku Bujang terus melakukan aktifitas pergerakan dan keagamaan, hingga kemudian pada tahun 1935 Teuku Bujang kembali diasingkan Belanda ke Moeven Digul. Ketika tahun 1942 Belanda dan sekutu takluk pada Jepang, Teuku Bujang sempat dibawa ke Australia.

Disebutkan dalam catatan statuaaceh.net, Pada Februari 1950 dengan bantuan Gubernur Aceh ketika itu, Tgk Daud Beureueh, Teuku Bujang diberangkatkan ke Kutaradja (Banda Aceh). Lalu, 31 Juli 1950 ia pulang ke Krueng Geukueh, yang saat itu berada dalam Nanggroe Nisam.

Masjid Bujang Salim di Keude Krueng Geukueh, Aceh Utara (foto Saiful Rias).

Sekembalinya ke kampung halaman, Teuku Bujang bergabung dengan PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) sambil meletakkan pondasi pembagunan pusat pendidikan dan membangun Ibukota Kecamatan Nisam, yang bernama Krueng Geukueh ketika itu, dan beliau berjasa mengirim guru-guru di Krueng Geukueh untuk belajar ke Padang dan seterusnya kembali mendidik anak-anak Krueng Geukueh.

Teuku Bujang Salim akhirnya meninggal pada 14 Januari 1959 dan dimakamkan didekat Masjid Besar Bujang Salim yang dibangun atas prakarsanya.

Begitulah nama besar Bujang Salim sang pahlawan yang melekat pada masjid indah di Krueng Geukueh.

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.

Bujang Salim, nasionalis sejati putra terbaik Aceh dari negeri Nisam Aceh Utara telah mencatat nama besarnya yang dikenang sepanjang masa.

Tatkala kita melirik Masjid Bujang Salim, ada kenangan yang ditinggalkan para pendahulu. Dan dibalik pesona arsitektur masjidnya yang indah, kita seakan sedang berada di Baiturrahman. (Hasnanda Putra)

Exit mobile version