Banghas

Blang Padang, Pesawat dan Prajurit Perempuan

5082
Lapangan Blang Padang di tengah kota, ruang terbuka publik. (Penulis)

Blang Padang, lapangan besar di tengah kota seluas hampir 8 hektare ini menjadi saksi bisu perjalanan Kota Banda Aceh dari masa ke masa. Usianya telah sepadan dengan umur kerajaan Aceh, dikenal dalam berbagai catatan sejarah sebagai tempat utama di ibukota kerajaan Aceh.

Di masa pasca kemerdekaan, Sukarno disebut pernah hadir dalam pertemuan akbar dengan rakyat Aceh di lapangan Blang Padang. Presiden Soekarno sempat menyaksikan parade angkatan perang di lapangan Blang Padang pada 16 Juni 1948.

Gempa dan Tsunami

Minggu pagi, 26 Desember 2004 silam, Blang Padang juga ditimpa bencana dahsyat. Gelombang tsunami mengirim bangunan rumah, mobil, sepeda motor sampai tubuh-tubuh tak benyawa ke lapangan Blang Padang. Berjarak sekitar 4 kilometer dari tepi Laut Samudera Hindia, Ulee Lheue, air besar itu membuat lapangan itu seakan danau di tengah kota.

Setelah bencana berlalu, wajah kota kembali bergairah. Begitupun dengan lapangan di tengah kota ini.

Bentangan rerumputan hijau, dan jalur track jogging yang mengelilingi lapangan Blang Padang sepanjang hampir 1 km, juga terdapat 53 Plakat dengan bendera negara masing-masing yang berbentuk kapal merupakan bentuk terima kasih masyarakat Aceh kepada negara dan masyarakat dunia yang telah membantu Aceh pasca tsunami.

Pesawat Pertama Republik

Sebuah Monumen berbentuk pesawat terdapat di lapangan Blang Padang. Monumen Seulawah RI 001 ini didirikan untuk mengenang sumbangsih masyarakat Aceh untuk Republik. Pesawat Dakota sumbangan dari rakyat Aceh itu kemudian diberi nama Dakota RI-001 Seulawah menjadi pesawat angkut pertama yang dimiliki bangsa Indonesia.

Panglima ABRI Jenderal L.B. Moerdani pun meresmikan monumen yang terletak di lapangan Blang Padang, Banda Aceh pada tanggal 30 Juli 1984. Pesawat aslinya tersimpan di Taman Mini Indonesia Indah. Monumen ini menjadi lambang bahwa sumbangan rakyat Aceh bagi Republik Indonesia sangat besar.

Raja-raja di Blang Padang

Di masa kesultanan, lapangan Blang Padang menjadi alun-alun utama dan tempat Sultan menunjukkan kehebatan dan kejayaannya.

Peter Mundy, seorang pelancong Inggris merekam acara besar di Blang Padang. Dalam buku Sumatera Tempoe Doeloe, disebutkan Peter Mundy tiba di Banda Aceh dari 22 April – 2 Mei 1637, beberapa bulan setelah mangkatnya Sultan Iskandar Muda.

Sebuah perayaan besar hari raya Qurban dilakukan di Blang Padang, pada 26 April 1637. Orang-orang penting dalam armada dan penduduk kota diundang pada perayaan tersebut.

Bertempat di lapangan rumput besar di tengah kota yang menuju pintu masuk istana raja dihiasi dengan berbagai macam bendera besar, dan juga dengan panji-panji negeri ini pada masing-masing tepi jalan dari pintu masuk istana raja sampai ke masjid besar di ujung lain lapangan berumput (Blang Padang).

Kemudian datanglah satu pasukan gajah dengan benda seperti menara kecil yang rendah di atas punggung mereka, dan pada masing masing menara itu ada seorang prajurit berseragam merah berdiri tegak dengan sebuah tombak di tangannya.

Gajah-gajah di barisan pertama (empat gajah dalam setiap baris) masing masing memiliki dua pedang besar atau tepatnya sabit besi panjang yang dilekatkan pada gading mereka. Pasukan ini pada setiap jangka waktu tertentu, menurut aba-aba, akan menyerang ke depan, prajurit-prajurit di punggung mereka mengacungkan dan berpura-pura menikamkan tombak sambil berteriak keras, menghentakkan kaki pada papan longgar tertentu yang dipasang dan membuat kegaduhan yang aneh. Begitulah mereka lakukan ketika menyerbu untuk membunuh musuh.

Perempuan Plontos dan Pasukan Gajah

Blang Padang menyimpan kisah menarik yang terjadi saat pertunjukan adu gajah. Raja kembali ke istana dengan menunggang seekor gajah kecil dan duduk di pelana kecil dengan tiga payung menaunginya.

Sebuah pasukan yang membawa genderang berjalan di depannya dan satu pasukan perempuan dengan busur serta anak panah di tangan mereka berjalan di belakang raja. Mereka duduk di dekat dan di sekitar raja sepanjang pertunjukan tanpa jilbab, dan rambut mereka dicukur seperti raja sebelumnya mangkat, tak ubahnya kebanyakan perempuan lain di kota, itu adalah adat yang berlaku sejak masa lampau.

Pasukan perempuan ini disebut dalam beberapa buku dan cerita rakyat sebagai pengawal pribadi raja. Mereka tidak pernah keluar kecuali ketika hari besar yang dihadiri raja. Tidak boleh ada yang melirik mereka dan mereka tidak pula melirik orang lain. Ketangkasan dan kemampuan bela diri perempuan ini cukup baik dan sultan mempercayai mereka berada dalam istana.

Begitulah Blang Padang, dari masa ke masa selalu penuh cerita dan kisah. Dari sejarah kesultanan yang agung, peristiwa tsunami, sampai saat ini telah menjadi pusat berkumpulnya warga.

Sebagai ruang terbuka hijau publik di Kota Banda Aceh, lapangan Blang Padang adalah jantung kota pusat keramaian sekaligus paru-paru kota untuk mengurangi polusi menghadirkan udara bersih dan segar. Blang Padang selalu penuh cerita. (Hasnanda Putra)

Exit mobile version