Opini

Anoi Itam, Samudera Meriam Tua

2773
×

Anoi Itam, Samudera Meriam Tua

Sebarkan artikel ini
Hasnanda Putra bersama Ustad Hasanuddin “Tu Sudan” dilatarbelakagi Meriam Benteng Anoi Itam, Sabang, Kamis (11/8/2022) FOTO/ DOK PRIBADI BANGHAS

Pagi masih belum beranjak jauh, penulis sedang bersama seorang ustad muda yang kami undang menjadi narasumber sebuah kegiatan di Kota Sabang. Lelaki yang humoris ini bernama Hasanuddin. Nama aslinya tidak banyak diketahui orang, alumni Timur Tengah dan saat ini sedang menyelesaikan studi doktor nya di Sudan lebih dikenal luas dengan panggilan Tu Sudan. Beliau rajin membuat status pena dakwah di platform sosial media.

Hari ini kami berencana mengunjugi kawasan Anoi Itam, tempat sebuah benteng pertahanan zaman yang masih ada. Benteng Anoi Itam, destinasi wisata yang sarat akan sejarah. Benteng-benteng peninggalan Jepang ini dibangun ketika mereka menduduki Sabang sekitar tahun 1942-1945.

Dulunya Tentara Dai Nippon menjadikan bukit kecil di tebing yang menghadap ke samudera hindia dan selat malaka ini sebagai pertahanan sekaligus gudang senjata.

Memasuki lokasi, kita akan disuguhkan pemandangan rimbun pohon dengan anak tangga mendaki. Di sepanjang pendakian akan banyak ditemui benteng-benteng yang terhubung satu sama lain. Terlihat juga sebuah terowongan antara bangunan benteng. Terowongan tersebut sudah ditutup dan tidak bisa lagi diakses.

Penulis bersama Tu Sudan akhirnya tiba di gerbang pintu masuk benteng. Sebuah meriam besi asli yang sudah berkarat memanjang lebih 3 meter. Meriam ini menjadi andalan Jepang untuk mengontrol jalur perairan Sabang, sekaligus menunjukkan kekuatan negeri Matahari terbit menghadapi Sekutu pada Perang Dunia II.

Benteng ini terletak di timur Pulau Weh, sekitar daerah Pantai Anoi Itam.

Jepang tidak hanya meninggalkan benteng di Anoi Itam, namun tersebar di banyak tempat di Kota Sabang seperti di depan Sabang Fair, di Pantai Sumur Tiga, di Pantai Ujong Kareung, di Iboih, di Ie Meulee, di Pantai Kasih, di Cot Bak U dan lainnya.

Dari dalam benteng Anoi Itam, terhampar pemandangan laut lepas yang indah. Kapal-kapal besar lalu lalang melintasi Selat Malaka.

Hasnanda Putra bersama Ustad Hasanuddin “Tu Sudan” melihat prasasti Meriam Benteng Anoi Itam, Sabang, Kamis (11/8/2022)
FOTO/ DOK PRIBADI BANGHAS

Sambil menyelusuri sudut-sudut benteng ini, kita juga bisa menikmati keindahan air laut yang memancarkan biru toska. Sisi benteng terlihat garis pesisir pantai dan bentangan pepohonan nyiur yang tersusun rapi. Di sini senja akan terlihat indah ketika matahari bergegas ke India. Pagi hari juga akan terlihat matahari terbit yang begitu memukau dari timur.

Sabang itu memang unik, tak hanya memiliki pantai yang indah tapi juga situs-situs sejarah yang masih bisa disaksikan sampai sekarang.

Hasnanda Putra bersama Ustad Hasanuddin “Tu Sudan” berbintang dikawasan wisata sejarah Benteng Anoi Itam, Sabang, Kamis (11/8/2022)
FOTO/ DOK PRIBADI BANGHAS

Setelah semua sudut di benteng ini kami jelajahi, ada kesan mendalam tentang bangunan zaman yang luar biasa ini.
“Sabang itu luar biasa, karena tidak hanya memiliki pantai yang menggoda, namun ada situs sejarah yang masih terawat dan ini menjadi andalan destinasi kedepan,” kata saya kepada Tu Sudan.

Penyusun kamus Arab Indonesia dan penulis beberapa buku bertema agama ini mengangguk pelan, sambil membuka kacamata hitam dipandanganya jauh ke samudera. Terlihat beberapa kapal niaga dan perahu nelayan.

Sabang itu ibarat samudera yang luas, kita tidak akan pernah menemukan sudutnya untuk kita sebut perjalanan ujung. Terlalu banyak potensi dan destinasi yang tidak pernah bosan dan habis kita kunjungi. Selalu ada kesan mendalam tentang kota paling ujung barat Indonesia ini. (Hasnanda Putra)