posaceh.com, JAKARTA – Salah satu sumber dari kelompok perlawanan Hamas mengatakan, pertimbangan utama saat memberikan respons positif terhadap dokumen Paris adalah kebutuhan rakyat Gaza, Tepi Barat, dan wilayah pendudukan al-Quds, serta kebutuhan rakyat Palestina, kelompok perlawanan dan para pendukungnya di wilayah tersebut.
Kepada Al-Mayadeen yang dikutip Republika dari Jakarta, sumber itu juga menegaskan bahwa respon positif tidak berarti bahwa perlawanan melemah atau kehilangan kekuatan tempurnya. Sebaliknya, mereka memiliki semua komponen manusia dan militer yang diperlukan untuk melakukan perlawanan, selama diperlukan.
Sumber tersebut juga mencatat bahwa sikap keras kepala Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dan kepatuhan Amerika Serikat, tidak akan membawa keberhasilan apa pun bagi penjajah di lapangan. Sumber itu memperingatkan bahwa tentara ‘Zionis’ akan terus mengalami kerugian sampai mereka benar-benar mundur dari Gaza.
Sumber itu mengeklaim, selama enam hari terakhir, pasukan penjajah Israel telah mendapatkan serangan dahsyat di Gaza selatan, dan Khan Younis. Dia menekankan, serangan lebih lanjut diperkirakan akan terjadi pada hari-hari berikutnya.
Sumber tersebut juga membantah klaim yang dibuat oleh para pejabat senior Israel mengenai penemuan terowongan dan fasilitas penyimpanan yang digunakan untuk menyimpan persenjataan Perlawanan. Dia menegaskan bahwa hal tersebut hanyalah taktik untuk menutupi kegagalan intelijen dan keamanan pendudukan.
Hamas menanggapi usulan mediator dan bersikeras melakukan gencatan senjata penuh. Hal ini terjadi setelah Hamas menyampaikan tanggapannya kepada Qatar dan Mesir pada Selasa (6/2/2024), mengenai kerangka perjanjian tersebut. Hamas menyampaikan respons tersebut setelah melakukan konsultasi internal dengan pimpinan Hamas dan dengan faksi Perlawanan Palestina lainnya.
Hamas menjelaskan bahwa respons tersebut bertujuan untuk mencapai “gencatan senjata yang komprehensif dan penuh,” sebuah klausul yang tidak termasuk dalam proposal awal.
Kelompok perlawanan ini mengusulkan tiga tahap gencatan senjata dengan Israel yang akan berujung pada berakhirnya pertempuran di Jalur Gaza. Menurut rancangan dokumen yang dilihat Reuters, Rabu (7/2/2024), proposal tandingan Hamas yakni tiga fase gencatan senjata. Masing-masing fase berlangsung selama 45 hari. Artinya rentang waktu hingga pertempuran di Gaza berakhir sepenuhnya adalah 135 hari.
Dalam proposal Hamas, dalam 45 hari pertama, mereka akan membebaskan semua sandera perempuan Israel, orang tua dan lansia, serta laki-laki berusia di bawah 19 tahun. Sebagai imbalannya, Tel Aviv harus membebaskan perempuan dan anak-anak Palestina dari penjara-penjara di Israel serta Tepi Barat.
Sisa sandera laki-laki Israel berusia di atas 19 tahun akan dibebaskan pada tahap kedua dan ketiga. Selama periode gencatan senjata, Hamas juga siap melakukan pertukaran jenazah dengan Israel. Jasad anggota Hamas ditukar dengan jasad tentara Israel.
Pada fase akhir, Hamas berharap dapat mencapai kesepakatan dengan Israel untuk sepenuhnya menghentikan pertempuran di Gaza. Artinya, Israel harus menarik pasukan mereka dari wilayah tersebut. Setelah penarikan dilakukan, proses rekonstruksi Gaza akan dimulai.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken menyebut tanggapan kelompok Hamas Palestina terhadap proposal gencatan senjata dan pembebasan sandera dengan Israel telah menciptakan ruang untuk mencapai kesepakatan.
“Meskipun respon Hamas jelas-jelas tidak bisa dimulai, kami pikir hal ini akan menciptakan ruang bagi tercapainya kesepakatan. Dan kami akan berupaya mencapainya tanpa henti sampai kami mencapainya,” kata Blinken dalam konferensi pers di Tel Aviv, Israel, pada Rabu (7/2).
Pernyataan Blinken disampaikan tak lama setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut tuntutan Hamas untuk perjanjian gencatan senjata dan pembebasan sandera adalah “khayalan”. Netanyahu malah bersumpah akan melanjutkan serangan Israel di Jalur Gaza hingga “menang telak” melawan Hamas.
Perwira Israel mundur
Media Israel melaporkan, seorang mayor di divisi penelitian intelijen militer Israel, “Aman” akan mengakhiri tugasnya karena perannya dalam penilaian intelijen yang menyebabkan kegagalan intelijen pada tanggal 7 Oktober.
Analis urusan militer dan keamanan Kan TV, Roi Sharon, menggambarkan langkah ini sebagai hal yang tidak biasa. Dia menyatakan bahwa hal ini membutuhkan keberanian, dan mengacu pada suasana terkini di divisi intelijen. Menurut Sharon, mundurnya perwira tersebut merupakan aksi pengunduran diri pertama sejak 7 Oktober.
“Saya bertanggung jawab atas peran saya dalam kegagalan 7 Oktober dan saya meminta agar tugas saya di posisi itu dihentikan,” kata sang mayor kepada atasannya kemarin. Dia menunjukkan bahwa sudah cukup jelas baginya sejak awal perang bahwa dia harus mengakhiri tugasnya, namun dia menunggu gencatan senjata. Kini, setelah empat bulan berlalu, dia merasa sudah tiba waktunya untuk mengundurkan diri dan bertanggung jawab atas tindakannya.











