Pemko Banda Aceh

DP3AP2KB Kota Banda Aceh Manfaatkan Fungsi Intervensi Spesifik dan Sensitif Turunkan Stunting

2343
×

DP3AP2KB Kota Banda Aceh Manfaatkan Fungsi Intervensi Spesifik dan Sensitif Turunkan Stunting

Sebarkan artikel ini
Foto bersama peserta dan pemateri Lokakarya Mini di Kecamatan Lueng Bata, Banda Aceh, Senin (4/10/2022). FOTO/DOK DP3AP2KB BANDA ACEH

posaceh.com, Banda Aceh – Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Banda Aceh, Cut Azharida, SH, menyebutkan Pemerintah Kota Banda Aceh memanfaatkan fungsi intervensi spesifik dan sensitive untuk menekan angka stunting.

Menurutnya, intervensi gizi spesifik merupakan kegiatan yang langsung mengatasi terjadinya stunting, di antaranya seperti asupan makanan, infeksi, status gizi ibu, penyakit menular, dan kesehatan lingkungan.

“Dinkes memiliki tanggung jawab atas intervensi spesifik ini, dengan penguatan kapasitas SDM mulai dari tenaga kesehatan, guru hingga perangkat desa agar bisa melakukan tindak lanjut dengan tepat ssat menemui kasus di lapangan,” katanya di Banda Aceh, Jumat (7/10/2022).

Dalam intervensi spesifik ini, kata Cut Azharida, pemerintah terutama yang berada di bedang kesehatan harus melakukan strategi konvergensinya, dan harus diprioritaskan di setiap gampong untuk menangani persoalan stunting ini. Intervensi gizi spesifik ini dibagi menjadi tiga kelompok yakni intervensi prioritas, intervensi pendukung dan intervensi prioritas sesuai kondisi tertentu. Intervensi prioritas, yaitu intervensi yang diidentifikasi memiliki dampak paling besar pada pencegahan stunting dan ditujukan untuk menjangkau semua sasaran prioritas.

“Sementara intervensi pendukung, yaitu intervensi yang berdampak pada masalah gizi dan kesehatan lain yang terkait stunting dan diprioritaskan setelah intervensi prioritas dilakukan,” ucapnya.
Sedangkan Intervensi prioritas, menurut Cut Azharida, merupakan intervensi sesuai kondisi tertentu, yaitu intervensi yang diperlukan sesuai dengan kondisi tertentu, termasuk untuk kondisi darurat bencana (program gizi darurat).


Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Banda Aceh, Cut Azharida, SH

“Pembagian kelompok ini dimaksudkan sebagai panduan bagi pelaksanaan program intervensi gizi untuk menurunkan angka stunting, apabila terdapat keterbatasan sumber daya,” ujarnya.
Cut Azharida menuturkan, kelompok sasaran dari pelaksanaan intervensi gizi spesifik ini adalah ibu hamil, ibu menyusui dan anak 0-23 bulan, remaja putri dan wanita usia subur, dan anak 24-59 bulan.

“Beberapa contoh program atau kegiatan yang dilakukan dalam intervensi spesifik adalah pemberian makanan bagi ibu hamil dari kelompok miskin, suplementasi tablet tambah darah, promosi dan konseling menyusui, MPASI dan lain sebagainya,” terangnya.

Berbeda dengan intervensi spesifikk, menurutnya, intervensi gizi sensitif adalah strategi atau program yang dilakukan oleh pihak-pihak di luar bidang kesehatan atau DInas Kesehatan. Misalnya, Dinas Pertanian dan pangan yang harus turut ambil andil menunjang penurunan stunting dengan melakukan ketahanan pangan di masyarakat.

“Konvergensi (dalam intervensi gizi sensitif) ini biasanya dipantau oleh pihak lainnya. Hal ini selalu ada laporannya yang bisa terus kita evaluasi bersama,” ujarnya.
Sasaran utama intervensi gizi sensitif adalah keluarga dan masyarakat, yang dilakukan melalui berbagai program dan kegiatan.

“Jadi kegiatannya dilakukan dengan memperhatikan tugas dan fungsi berbagai sektor, tokoh masyarakat, LSM, mitra, sesuai dengan poksinya masing-masing tetapi tetap dengan sasaran yang sama. Intervensi ini dilakukan sesuai dengan target strategi dan sasarannya,” tuturnya.

Ia menambahkan, bahwa upaya pencegahan dan penuruna stunting ini harus di mulai dari hulu yaitu dengan cara edukasi dan sosialisai kepada kepada kepada kelompok sasaran yaitu remaja, calon pengantin ibu hamil , ibu menyusuai, ibu yang memiliki anak di bwh 2 tahun dan ibu yang memiliki anak balita dg pemantauan ruti dan berkala.
“Maka peran dari Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang telah kita bentuk yang terdiri darr bidan, pkk dan kader kb sangat penting dalam memberikan sosialisasi, edukasi dan pendampingan kepada keluarga beresiko stunting, sehingga target nasioanal untuk penurunan stunting di 14 persen bisa tercapai,” pungkasnya. (Adv)