Pemko Banda Aceh

Dinkes Kota Banda Aceh Sosialisasikan Pencegahan HIV/AIDS dan PMS kepada Siswa dari 40 Sekolah

20
×

Dinkes Kota Banda Aceh Sosialisasikan Pencegahan HIV/AIDS dan PMS kepada Siswa dari 40 Sekolah

Sebarkan artikel ini
Kadinkes Kota Banda Aceh, Wahyudi, S.STP., M.Si membuka sosialisasi pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS serta PMS bagi pelajar tingkat SMP, SMA, dan sederajat di Hotel Amel Convention Hall, Punge Blang Oi, Banda Aceh, Rabu (14/10/2026). FOTO/RINALDI

posaceh.com, Banda Aceh — Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh menggelar sosialisasi pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS serta Penyakit Menular Seksual (PMS) bagi pelajar tingkat SMP, SMA, dan sederajat di Hotel Amel Convention Hall, Punge Blang Oi, Banda Aceh, Rabu (14/10/2026). Kegiatan tersebut melibatkan 200 peserta dari 40 sekolah, termasuk pengurus OSIS dan guru pendamping Bimbingan Konseling (BK), sebagai upaya meningkatkan pemahaman generasi muda terhadap risiko penularan HIV/AIDS dan pentingnya menjaga kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Wahyudi, S.STP., M.Si., saat membuka kegiatan menyampaikan bahwa pengetahuan mengenai HIV/AIDS saat ini perlu diberikan kepada pelajar sejak dini, seiring semakin mudahnya akses informasi melalui media sosial. Menurutnya, perkembangan teknologi membuat generasi muda lebih mudah memperoleh berbagai informasi, tetapi mereka juga perlu dibekali pengetahuan yang benar agar tidak salah memahami persoalan kesehatan dan perilaku berisiko.

“Dulu, waktu kami masih sekolah, HIV ini belum banyak kami dengar. Saat SMP hampir tidak pernah mendengar, sedangkan ketika SMA baru mengetahui sedikit demi sedikit. Sekarang berbeda, apalagi dengan adanya media sosial, informasi begitu mudah diakses. Karena itu, anak-anak harus benar-benar memahami apa itu HIV dan bagaimana cara penularannya,” ujar Wahyudi.

Kabid P2P Dinkes Kota Banda Aceh, drg. Supriyadi, M.Kes menyampaikan laporannya saat sosialisasi pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS serta PMS bagi pelajar tingkat SMP, SMA, dan sederajat di Hotel Amel Convention Hall, Punge Blang Oi, Banda Aceh, Rabu (14/10/2026). FOTO/RINALDI

Ia menjelaskan bahwa HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh dan penularannya tidak terjadi semudah penyakit seperti influenza atau Tuberkulosis (TBC). Karena itu, masyarakat perlu mengetahui jalur penularan HIV sekaligus memahami bahwa interaksi sosial sehari-hari dengan orang yang hidup dengan HIV tidak serta-merta menyebabkan penularan.

“Kalau kita tidak memahami cara penularannya, kita bisa salah dalam menyikapi persoalan ini. Saya berharap seluruh peserta mengikuti kegiatan dengan sungguh-sungguh, mendengarkan penjelasan narasumber, dan tidak ragu bertanya apabila ada hal yang belum dipahami,” katanya.

Wahyudi berharap para siswa yang hadir tidak hanya memperoleh pengetahuan untuk diri sendiri, tetapi juga mampu menyampaikan kembali informasi tersebut kepada teman-teman di sekolah masing-masing. Apalagi, peserta yang hadir merupakan perwakilan sekolah, termasuk pengurus OSIS yang memiliki peran dalam kegiatan edukasi dan penyebaran informasi di lingkungan pelajar.

“Saya berharap anak-anak yang hadir hari ini nantinya menjadi penyampai pesan kepada teman-teman di sekolah. Apa yang didapatkan di sini, tolong disampaikan kembali. Jangan pernah bosan menyosialisasikan bahaya HIV/AIDS dan pentingnya menjaga kesehatan,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Wahyudi juga menyoroti angka kasus HIV yang menurutnya masih menjadi perhatian di Banda Aceh. Ia menyebutkan bahwa jumlah kasus yang ditemukan setiap bulan berada pada kisaran tiga hingga sepuluh orang. Angka tersebut, menurutnya, menjadi pengingat pentingnya edukasi, pemeriksaan kesehatan, pencegahan, dan pendampingan bagi masyarakat yang membutuhkan.

“Bayangkan apabila persoalan ini dialami oleh anak-anak yang masih memiliki cita-cita dan masa depan panjang. Karena itu, pengetahuan mengenai HIV/AIDS harus diberikan sejak sekarang agar mereka dapat mengambil keputusan yang tepat, menjaga diri, dan memahami risiko dari perilaku yang dapat membahayakan kesehatan,” katanya.

Wahyudi turut mengingatkan para siswa agar berhati-hati terhadap bujukan atau ajakan yang berpotensi mengarah pada eksploitasi seksual. Ia mencontohkan modus pemberian uang, telepon genggam baru, ajakan makan, maupun pemberian uang jajan untuk memengaruhi anak-anak agar mengikuti kemauan orang lain.

“Saya ingin menyampaikan secara khusus kepada siswa laki-laki, tolong betul-betul menjaga diri. Jangan mudah terbujuk oleh siapa pun yang menawarkan uang, telepon genggam baru, mengajak makan, atau memberikan uang jajan dengan maksud tertentu. Anak-anak harus berani menolak ajakan yang membuat mereka tidak nyaman dan segera menyampaikan kepada guru apabila mengalami ancaman atau bujukan yang mencurigakan,” tegasnya.

Kadinkes Kota Banda Aceh, Wahyudi, S.STP., M.Si foto bersama dengan peserta sosialisasi pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS serta PMS bagi pelajar tingkat SMP, SMA, dan sederajat di Hotel Amel Convention Hall, Punge Blang Oi, Banda Aceh, Rabu (14/10/2026). FOTO/RINALDI

“Karena berdasarkan kasus-kasus yang ditemukan, para pelaku yang berada di bawah binaan ibu guru tersebut, pada dasarnya juga merupakan korban. Bahkan, sekitar 95 persen dari mereka berpotensi kembali menjadi korban,” tambahnya.

Ia mengatakan, apabila ditemukan siswa yang mengalami persoalan atau diduga menjadi korban pelecehan maupun eksploitasi seksual, pihak sekolah dapat berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan atau Puskesmas untuk mendapatkan pendampingan. Menurutnya, pendekatan terhadap anak harus mengutamakan perlindungan, pembinaan, dan keselamatan, bukan mempermalukan atau memberikan stigma.

“Kalau ada informasi atau kejadian yang perlu ditangani, silakan sampaikan kepada guru, Puskesmas, atau Dinas Kesehatan. Kita akan melakukan pendampingan sesuai kebutuhan. Yang terpenting, anak-anak mendapatkan perlindungan dan bantuan yang tepat,” ujarnya.

Terkait pola penularan HIV, Wahyudi menyebutkan bahwa berdasarkan informasi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, terdapat angka sekitar 70 persen kasus yang dikaitkan dengan hubungan seksual antarlaki-laki atau dikenal dengan sebutan Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Ia meminta para peserta memperhatikan penjelasan tenaga kesehatan mengenai faktor risiko dan cara pencegahan HIV.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa penilaian terhadap risiko HIV harus didasarkan pada informasi medis yang tepat. HIV bukan disebabkan oleh identitas atau orientasi seksual seseorang, melainkan oleh virus yang menular melalui paparan cairan tubuh tertentu, termasuk melalui hubungan seksual tanpa perlindungan yang tepat, penggunaan jarum suntik secara bergantian, serta penularan dari ibu ke anak dalam kondisi tertentu.

Wahyudi turut mengingatkan agar masyarakat tidak mengucilkan seseorang hanya karena mendengar kabar bahwa orang tersebut hidup dengan HIV. Menurutnya, HIV tidak menular melalui bersalaman, duduk bersama, menggunakan fasilitas umum, maupun berinteraksi dalam kegiatan belajar sehari-hari.

“Kalau ada orang yang diduga atau diketahui mengidap HIV, jangan langsung menjauhi atau mengucilkannya. HIV tidak menular semudah influenza. Kita perlu memahami penjelasan tenaga kesehatan agar tidak salah memperlakukan orang lain,” katanya.

Ia menambahkan, pemahaman yang benar akan membantu masyarakat menghindari diskriminasi sekaligus mendorong orang yang membutuhkan layanan kesehatan agar tidak takut melakukan pemeriksaan dan mendapatkan pengobatan.

Selain menjaga diri dari perilaku berisiko, Wahyudi mengajak para siswa menerapkan pola hidup sehat, menjaga kebersihan, serta memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami keluhan atau membutuhkan konsultasi.

“Silakan datang ke Puskesmas atau fasilitas kesehatan sesuai kepesertaan BPJS apabila membutuhkan pemeriksaan. Sampaikan kepada petugas bahwa ingin berkonsultasi atau memeriksa kondisi kesehatan. Jangan menunggu sampai keluhan semakin berat. Jaga pola hidup sehat, perkuat nilai-nilai moral, dan bangun kebiasaan yang baik agar kita dapat tumbuh menjadi generasi yang sehat,” pesannya.

Kepada para guru, ia juga meminta agar perhatian terhadap keselamatan dan perkembangan siswa terus diperkuat. Apabila terdapat anak yang menunjukkan perubahan perilaku karena mengalami tekanan, ancaman, perundungan, atau dugaan kekerasan seksual, pihak sekolah diharapkan melakukan pendekatan secara bijaksana dan menghubungkannya dengan layanan pendampingan yang sesuai.

“Bapak dan ibu guru, tolong perhatikan anak-anak kita. Jika ada persoalan yang perlu ditangani, jangan dibiarkan. Sampaikan kepada Puskesmas atau Dinas Kesehatan agar kita dapat mencari jalan keluar dan memberikan pendampingan yang diperlukan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, drg. Supriyadi, M.Kes., dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan sosialisasi tersebut diikuti sekitar 200 peserta dari 40 sekolah. Setiap sekolah mengirimkan empat hingga lima orang perwakilan yang terdiri atas pengurus OSIS dan guru pendamping Bimbingan Konseling.

“Kegiatan hari ini berjumlah total sekitar 200 orang, yang terdiri dari 40 sekolah. Setiap sekolah mengirimkan empat sampai lima orang, terdiri atas pengurus OSIS dan guru pendamping dari Bimbingan Konseling atau BK,” jelas Supriyadi.

Ia mengatakan, kegiatan tersebut juga didukung oleh konselor dan pengelola program kesehatan remaja dari 10 Puskesmas di Kota Banda Aceh. Pelibatan tenaga kesehatan tingkat Puskesmas diharapkan memperkuat edukasi sekaligus membuka akses konsultasi bagi pelajar yang membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai HIV/AIDS dan penyakit menular seksual.

Supriyadi menjelaskan, peserta kegiatan berasal dari jenjang SMP, SMA, dan sederajat, termasuk perwakilan dari lingkungan pendidikan dayah. Materi disampaikan oleh tiga narasumber dengan latar belakang keahlian yang berbeda agar pembahasan dapat mencakup aspek kesehatan, psikologis, serta pembinaan moral dan sosial.

“Narasumber kita hari ini ada tiga orang. Pertama, dr. Mutia Sara, kemudian dr. Zulma, spesialis kesehatan jiwa atau psikiater, dan yang terakhir Ustazah Regina dari Dinas Syariat Islam yang juga seorang psikolog,” katanya.

Menurut Supriyadi, keterlibatan berbagai narasumber tersebut diharapkan membantu siswa memahami HIV/AIDS secara lebih menyeluruh, mulai dari aspek kesehatan, pencegahan, kondisi psikologis remaja, hingga pentingnya membangun lingkungan pergaulan yang aman.

Ia berharap seluruh peserta dapat menyerap materi dengan baik dan meneruskan informasi yang benar kepada teman sebaya maupun lingkungan sekolah masing-masing. Dengan demikian, sosialisasi tidak berhenti pada kegiatan di dalam ruangan, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kesadaran pelajar terhadap kesehatan reproduksi dan pencegahan penyakit menular seksual.

“Kami berharap kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik dan adik-adik siswa serta guru bisa menyerap apa yang disampaikan para narasumber. Semoga pengetahuan yang diperoleh dapat bermanfaat dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” tutupnya.

Melalui kegiatan tersebut, Dinkes Kota Banda Aceh berharap pelajar semakin memahami cara penularan dan pencegahan HIV/AIDS, berani mencari informasi dari sumber yang dapat dipercaya, serta mampu melindungi diri dari eksploitasi dan perilaku berisiko. Edukasi yang tepat, pemeriksaan kesehatan, dan pendampingan tanpa stigma menjadi bagian penting dalam membangun generasi muda yang sehat, terlindungi, dan memiliki masa depan yang lebih baik. (Rinaldi)