* Jumat, 11 Agustus 2022
Inna lillahi wa inna ilayhi raji‘un ( إِنَّا ِلِلَّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ Sungguh kita ini milik Allah, dan kepada-Nya jua kita kembali). Telah berpulang ke Rahmatullah Hj. Adiwarni (Addiwani) Husin, MAg. pada Jumat 1 Zul-Hijjah 1443 / 1 Juli 2022, pukul 12.40 siang di Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta dan dikebumikan di Kampung Keureumbok, Kembang Tanjung, Pidie (Aceh), Sabtu 2 Juli 2022.
Menanggapi kepergiannya, teman Karima Ferras dari Ames, Iowa (US) menulis: “She was really a beautiful soul.” Mommy Luise dari New York, yang pernah tinggal bersama Adiwarni di Banda Aceh selama satu bulan pada 2000 mengatakan: “She was my beautiful and I nicknamed her the Beautiful since I first met her in New York in July 2000.”
Seorang tokoh perempuan Aceh menulis di WA group: “Kak Adiwarni seorang pejuang hak-hak perempuan, semoga Allah SWT menerima seluruh kebaikan dan perjuangannya.” Rahmi Tayyib dari Ikatan Warga Kembang Tanjung menyampaikan: “Kepergian Kak Ni bagaikan sebuah pohon yang tumbang, sulit mendapat pengganti seperti beliau: serba bisa, serba mampu dan serba mau.”
Keuchik Kampung Sukaramai Dharma Sentosa mengantar kepergian jenazah mengingatkan: “Masjid Quba merupakan saksi sejarah siapa Adiwarni sesungguhnya. Almarhumah, bersama suaminya H. Mahmud Tahir dan saya sendiri merupakan saksi yang masih hidup diantara pelopor pembangunan Masjid Quba. Kami berjuang sehingga masjid kita menjadi dalam bentuk yang kita kenal sekarang.”
Tokoh Aceh Jakarta H. Ghazali Abbas Adan dalam sambutannya saat jenazah disemayamkan di rumah duka di Taman Chrysant 1 BSD Tangerang mengungkapkan: “Kak Adiwarni merupakan donatur tetap Dewan Dakwah Aceh. Beliau baru saja mendonasikan rumah mobile home bagi anak yatim yang saat ini digunakan bagi aktivitas pendidikan dan penampungan yang dikelola Dewan Dakwah.”
Itulah Adiwarni dalam pandangan teman-temannya, dan bagi keluarga Almarhumah adalah pejuang dan pelindung yang amat peduli dan penyayang. Tidak ada satupun anggota keluarga yang tidak mendapatkan sentuhan kasihnya.
Addiwani adalah nama asli yang diberikan orang tua kepadanya sebagai referensi terhadap khatt Arab indah dīwānī, namun terjadi pergeseran ejaan di masa sekolah. Ia dilahirkan di Kampung Keureumbok pada 16 Agustus 1951, dari ayah Teungku M. Husin Ali dan ibu Hj. Fatimah Amin. Teungku Husin Ali merupakan murid Abu Daud Di-Beureueh di sekolah Normal Islam Lampaseh (Sigli), dan duduk sekelas dengan Almarhum Prof. Ibrahim Husin, mantan Rektor IAIN Ar-Raniry (1982-1990). Menurut Prof. Ibrahim, “Nyak Husen,” begitu Teungku Di-Beureueh memanggil M. Husin Ali, “merupakan murid Abu tercerdas,” dan kecerdasan ini diwariskan oleh Addiwani.
Sementara ibunya Hj. Fatimah Amin merupakan pegiat masyarakat dan ditokohkan di kampungnya Keureumbok karena kemurahan dan kepeduliannya kepada orang miskin, aktivitas ummat dan pembangungan kampung. Hj. Fatimah mewariskan kepada Addiwani cita belajar sepanjang hayat dan semangat mengabdi kepada masyarakat.
Addiwani bersekolah di Sekolah Rendah Islam (SRI) Kembang Tanjung, satu tahun di atas Ghazali Abbas Adan, sambil mengaji dengan ibunya Hj. Fatimah dan sejumlah teungku lain, termasuk Miwa Isah Keureumboh, Teungku Ahmad Madjid Iku Lung dan Teungku Ibrahim Busu Iboih. Setamat SRI pada 1964, Addiwani melanjutkan ke MTsN Kembang Tanjung yang saat itu bernama Sekolah Menengah Islam (SMI), dan mungkin merupakan murid angkatan pertama. SMI yang baru didirikan mengajak pengabdian murid dan orang tua mereka untuk terlibat dalam pembangunan gedung sekolah. Addiwani bersama teman-temannya, bukan hanya ikut mengangkat pasir dari sungai, tetapi juga turun ke berbagai kampung di Kembang Tanjung untuk mengumpulkan padi dan sumbangan lain masyarakat bagi pembangungan gedung SMI. Sungguh Addiwani sudah belajar makna pengabdian sejak usia belia.
Pada 1966 Pelajar Islam Indonesia (PII) mengadakan training besar di Kembang Tanjung, semacam Kemah Pelajar Islam Indonesia, dimana Addiwani dan Ghazali Abbas serta teman lain menjadi peserta. Mereka bukan hanya menjadi trainee, tetapi juga melakukan performance bersama band sekolah mereka al-Ikhwan dan tampil menyanyikan lagu irama padang pasir, diantaranya Selimut Putih. Salah seorang penyanyi puteri Band al-Ikhwan SMI adalah Almarhumah Faridah Arbi (adik dari ibunda DR. Azharuddin, Sp.OT., K-Spine, FICS., mantan Direktur RSZA Banda Aceh), yang bersama Addiwani, Ghazali Abbas dan aggota al-Ikhwan lain mendendangkan lagu Panggilan Jihad Allahu Akbar, pada acara penutupan Kemah PII. Lagu ini membakar semangat para trainee dan penonton yang menghadiri acara penutupan.
Setelah tamat SMI (MTsN), Addiwani berkeinginan melanjutkan ke sekolah lanjutan, akan tetapi kondisi dan budaya menghambat cita-citanya, namun ia beralih menjadi guru di MIN Kembang Tanjung (1968-1971), di mana adindanya Zahraty Husin dan Asna Husin merupakan dua muridnya.
Addiwani membina rumah tangga menikahi sepupu ibundanya Mahmud Tahir (yang dalam keluarga lebih dikenal dengan Cut Mud) pada 1971, dan pindah ke Banda Aceh mengikuti suami setahun kemudian. Di ibu kota provinsi ini, tiga buah hatinya menyemarakkan keluarga ini. Meutia Fajria lahir pada 16 Mei 1972, Mirza Jufriadi pada 13 April 1975, dan Milda Irhamni pada 3 Agustus 1979. Seperti lazimnya keluarga saat itu, rumah Addiwani juga diramaikan oleh kehadiran adik, sepupu dan keponakan yang semuanya tinggal disitu saat mereka melanjutkan sekolah di Banda Aceh.
Sambil membesarkan putera-puteri dan mengayomi keluarga besarnya, Addiwani aktif di berbagai aktivitas sosial dan organisasi amal, serta bekerja secara profesional membesarkan usaha keluarga. Bisnis keluarga CV Pola yang diawali dengan penyediaan alat tulis, lalu berkembang ke instilatur listrik, perkebunan, dan konstruksi rumah merupakan sebahagian aktivitas yang ditekuninya. Sementara pembangunan Mesjid Quba, Kampung Sukaramai, Banda Aceh pada 1992 merupakan salah satu program amalnya.
Meskipun disibukkan oleh usaha, aktivitas amal dan keluarga, geloranya untuk melanjutkan sekolah tidak pernah padam. Ia belajar untuk mendapatkan penyesuaian ijazah SMA / Aliyah, sehingga dapat melanjutkan ke program S1 Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry yang diselesaikan tahun 1995. Pada 2016 Addiwani menyelesai program S2 dan meraih gelas Master dalam bidang Fikih Modern dari Pasca Sarjana IAIN (sekarang UIN) Ar-Raniry dengan thesis “Harta Bersama Suami-Isteri Gugat Cerai: Studi Kasus pada Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh.” Pada 2020 Addiwani berkeinginan melanjutkan ke program S3, namun persyaratan tes kesehatan di masa Covid menyebabkan ia mengurungkan niatnya.
Dalam bidang sosial dan organisasi kemasyarakatan, Addiwarni menjadi Wakil Ketua Badan Kontak Majelis Taklim Aceh dua periode (1993-1999 & 2000-2005), Ketua Wanita Islam Aceh tiga periode (2005-2022), dan turut menggagas pendirian Balai Syura Ureng Inong Aceh pada 2000. Ia juga aktif di Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Aceh, dan merupakan Ketua Pengajian Ibu-Ibu Mesjid Quba sejak 2017. Kiprahnya di organisasi perempuan dan perjuangannya bagi pengejawantahan hak-hak perempuan diakui oleh teman-temannya. Mantan Kepada Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A) Aceh (2012-2017), Dra. Dahlia MAg. mengatakan dalam sambutannya di rumah duka: “Kami datang untuk berbagi duka. Kak Adi telah pergi, namun perjuangannya bagi perempuan, anak dan agama tidak akan pernah kita lupakan. Ia merupakan teladan bagi generasi penerus.”
Addiwani dan suaminya menunaikan ibadah Haji sebanyak tiga kali: 1990, 2002 dan 2014. Sejak kembali dari tanah suci, Addiwani aktif di Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia Aceh, dan duduk sebagai Wakil Ketua IPHI selama tiga periode (2007-2011 & 2012-2017 & 2018-2023). Addiwani bersama beberapa pengurus inti menjadi penggerak dan pembesar organisasi, berperan sebagai instruktur tetap manasik haji sejak 1990, dan menjadi Ketua Tim penulisan buku Panduan Praktis Manasik Haji dan Umrah yang diterbitkan oleh IPHI Kota Banda Aceh pada 2019 (edisi satu) dan 2020 (edisi dua). Menurut Dra. Dahlia: “Beliau dipanggil kemana-mana untuk memberi manasik, bisa dikatakan bahwa semua yang berangkat haji dari Banda Aceh dan Aceh Besar tidak ada yang tidak mengenal Almarhumah.” Addiwani juga duduk di Panitia Keberangkatan Haji mewakili IPHI selama bertahun-tahun. Atas kontribusinya, IPHI Pusat menganugerahi Addiwani IPHI Award pada 2015 karena kepedulian dan dedikasinya bagi IPHI dan jamaah haji.
Penghargaan lain yang didapat Almarhumah adalah Banda Aceh Madani Award 2014 karena peran aktifnya sebagai cendekia yang mendukung visi Kota Banda Aceh, yang dianugerahkan oleh Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal, SE., pada peringatan Hari Ulang Tahun Kota Banda Aceh ke-809.
Addiwani juga pernah menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dari Partai Bulan Bintang (2007-2009) saat Pergantian Antar Waktu. Meskipun hanya duduk di DPRA selama dua tahun, keberadaannya di lembaga legislatif ini dirasakan dari aspek legislasi, dan juga penyaluran aspirasinya bagi Masjid Quba, Asrama Mahasiswa Kembang Tanjung Banda Aceh, Kampung Keureumbok, Kampung Lamkawe, sejumlah organisasi perempuan, masjid, dayah dan pesantren, anak yatim, serta organisasi pemuda. Selanjutnya Addiwani juga duduk sebagai Staf Ahli Gubernur pada masa Mustafa Abubakar menjadi pejabat Gubernur Aceh (2005-2006).
Selain itu Addiwani juga berperan di sejumlah organisasi lain dan aktif memberi pengajian. Almarhumah menjadi Pengurus (2006-2020) dan Anggota Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Aceh (2021-2026); Anggota Tim Pembina Baitul Mal Aceh (2010-2015); Pengurus Majelis Adat Aceh Kota Banda Aceh (2015-2020); dan Pengurus Muslimat Majelis Permusyawaratan Ulama (2010-2015). Selain itu Addiwani memimpin pengajian yang difokuskan pada tahsin al-Quran bagi ibu-ibu Kota Banda Aceh dan Aceh Besar. Sebelum Covid 2019, Almarhumah mengajar di lima kelompok tahsin al-Quran setiap minggu. Addiwani juga dikenal dan beberapa kali memberi ceramah untuk masyarakat Indonesia di Perth dan Sydney, Australian.
Addiwani juga pernah menghadiri sejumlah pertemuan internasional, diantaranya the World Assembly dari the World Conference on Religion and Peace (WCRP), mewakili Wanita Islam Aceh pada 1999. Saat duduk di DPR, Almarhumah melakukan perjalanan ke Kairo, Mesir untuk mengevaluasi penyaluran Beasiswa Aceh untuk mahasiswa Aceh yang ada di Mesir dan sekitarnya.
Addiwani wafat mengikuti sejumlah orang tercintanya yang telah duluan menghadap Khalik. Ayahanda Teungku M. Husin Ali meninggal pada 1980, Kakanda Ir. M. Nur Husin tahun 2000, Ibunda Hj. Fatimah Amin pada 2002, dan sibuah hati H. Mirza Jufriadi, B.Com. bin Mahmud Tahir tahun 2015.
Almarhumah meninggalkan suami H. Mahmud Tahir; anak Meutia Fajria, MSc. dan Michael Sean Goodwin, PhD., serta puteri mereka Camilla Sayyida Goodwin dan Sarah Rania Goodwin; Milda Irhamni, PhD. dan Ir. Dody Suria Wijaya, MS. Eng; serta menantu Nurazizah Harun, SE. dan puteranya Muhammad Syadza Al-Naufal Mirza; juga adik Dra. Zahraty Husin; Prof. Asna Husin, PhD.; Zuraida Husin, PhD.; dan Munzir al-Munir Husin, SE.; serta seluruh keluarga besarnya.
Selamat Jalan “Wahai Jiwa yang Tenang,” Insya Allah bahagia di Alam Barzah.(**)











