Banyak di antara kita mengenal Trienggadeng di Pidie Jaya ini sebagai daerah dengan kuliner yang enak, hingga perjalanan dari dan ke Banda Aceh seringkali menjadikan tempat ini sebagai rest area untuk makan minum. Di Banda Aceh juga memiliki warung makan terkenal dengan nama daerah tersebut.
Di zaman Belanda, terdapat sebuah stasiun Kereta Api di Trienggadeng. Tempat ini menjadi stasiun pemberhentian dari Banda Aceh – Lhok Seumawe dan sebaliknya dari arah Lhok Seumawe ke Sigli dan Banda Aceh.

(Foto : Asrul Shabri)
Selepas gempa pada 7 Desember 2016 lalu, daerah ini makin kesohor dengan kehadiran wajah baru Masjid At Taqarrub. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) membangun kembali masjid di pusat pasar Trienggadeng ini dengan arsitektur menawan dan Instagrammable.
Pemerintah menggelontorkan biaya pembangunan Masjid At-Taqarrub, IAI Al-Aziziyah dan Pasar Ule Glee menggunakan anggaran APBN Kementerian PUPR tahun 2017-2018 dengan total sebesar Rp 56,14 miliar.
Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya telah menetapkan Masjid At Taqarrub, Trienggadeng sebagai Islamic Centre. Keputusan ini tertuang dalam Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 12 Tahun 2020. Dengan demikian masjid ini menjadi ikon wisata religi dan pusat keagamaan di Kabupaten Pidie Jaya.

(Foto : Asrul Shabri)
Beranjak ke masa lalu ternyata Syedara, Trienggadeng bukan kaleng-kaleng. Bukan daerah biasa, namun bekas sebuah kerajaan kecil yang makmur tunduk ke kesultanan Aceh. Bukti jejak masa lalu yang berhubungan langsung dengan Sultan Iskandar Muda adalah ditemukannya sejumlah makam panglima yang masih bertalian darah dengan Sultan besar dari Aceh Darussalam ini. Seperti di Gampong Kuta Pangwa, dikutip dari sinarpidie terdapat makam Panglima Prang Syak Nyak Dhan bin Teuku Bintara Raknawangsa dan Panglima Prang Gelanggang bin Teuku Nyak Dhan.
Seterusnya di zaman kolonial berdasarkan literatur yang ada disebutkan, Uleebalang Landschap Trienggadeng bernama Teuku Haji Panglima Mae Bin Teuku Beureudan, dan beliau pernah naik haji ketika itu.
Dikutip dari laman Atjeh Sultanate, Teuku Haji Panglima Mae mangkat pada tahun 1945. Seorang putra beliau menjadi profesor sejarah di Universitas Leiden yaitu T Iskandar yang juga menulis sebuah Buku ‘Hikajat Atjeh” dalam Bahasa Belanda dan Bahasa Aceh.
Jadi, jangan cuma mengenal Trienggadeng sambil jalan, tapi jalan-jalanlah ke Trienggadeng. Negeri tepi Selat Malaka ini menyimpan pesona dibalik sejarah di seluruh tanah para raja-raja.
Demikianlah, banyak kisah yang harus terus dinarasikan biarpun singkat, agar sejarah tak jadi dongeng. (Hasnanda Putra).











