posaceh.com – Middle East Monitor melansir, perwira bernama Erez Eshel itu berbicara kepada para siswa sekolah Taurat, kemarin. Ia kemudian mendesak mereka untuk mendaftar atau berkontribusi dalam dukungan tentara di tengah perang Israel yang sedang berlangsung di Gaza.
Jauh lebih banyak dari angka yang dilaporkan pasukan penjajahan Israel (IDF), Erez Eshel menuturkan sejauh ini tercatat 1.300 korban di kalangan tentara. “Israel kehilangan seorang tentara setiap 5 menit,” kata dia. Sejauh ini, IDF mengumumkan sedikitnya 119 tentara dan perwira tewas di Gaza sejak serangan darat pada 27 Oktober.
Pada Sabtu (16/12/2023), Channel 12 Israel melaporkan, 20 tentara tewas dalam pertempuran di Shujaiya, sebelah timur Kota Gaza, selama seminggu terakhir.
Rabu lalu, tentara penjajah mengumumkan terbunuhnya 10 tentaranya – termasuk perwira dan komandan – dalam penyergapan di lingkungan Shujaiya. Sebagian besar yang tewas berasal dari Brigade Golani, salah satu brigade infanteri paling utama dan terkuat di tentara Israel. Hal itu disampaikan sebagai bagian dari pengumuman serupa dengan intensifikasi pertempuran dengan perlawanan Palestina.
100 kendaraan hancur dalam lima hari
Sementara, juru bicara Brigade Izzuddin al-Qassam, Abu Ubaida, juga mengumumkan capaian pejuang Palestina, kemarin. “Sudah 70 hari sejak dimulainya pertempuran Banjir Al-Aqsa, dan masyarakat kami masih berjuang dalam pertempuran ini, menghadapi perang kriminal yang belum pernah terjadi sebelumnya di zaman modern,” ujarnya.
Ia menekankan, para pejuang Palestina masih terus melakukan perlawanan terhadap angkatan bersenjata lengkap yang dilengkapi dengan senjata mematikan, amunisi, didukung oleh pesawat terbang, kapal perang, dan kendaraan lapis baja, di bawah kedok kekuatan penindasan dan agresi, yang dipimpin oleh pemerintah Amerika Serikat.
“Amerika mengirimkan dukungan kepada entitas ini melalui udara. seolah-olah sedang melawan kekuatan besar di dunia. Namun, para pejuang kita secara heroik berperang dalam pertempuran bersejarah dengan ringan dan bangga. Seluruh dunia melihat bagaimana pejuang kita menghancurkan dan membakar kendaraan lapis baja musuh, membunuh tentara penyerang yang berada di dalamnya.”
Menurutnya, dunia juga melihat bahwa Israel melancarkan serangan terhadap warga sipil yang tidak bersalah dan aman, termasuk anak-anak, perempuan, dan orang tua. Israel, kata Abu Ubaida, juga terlibat dalam penghancuran dan upaya pengungsian, kelaparan, dan penyiksaan dalam kejahatan perang yang jelas dan nyata yang tidak memerlukan investigasi atau pengawasan.
Abu Ubaida juga mengatakan bahwa pihaknya memikat pasukan musuh ke dalam bangunan yang telah diidentifikasi sebagai bangunan yang dapat diakses oleh musuh, kemudian meledakkan perangkat anti-personil dan menyerang pasukan tersebut dengan senapan mesin dari jarak dekat. Dalam beberapa operasi, peluru antitank digunakan langsung terhadap tentara Israel.
“Selama operasi ini, pejuang kami menyebabkan banyak kematian dan cedera pada pasukan musuh. Pejuang kami terus-menerus mengamati teriakan dan permohonan bantuan tentara musuh setelah setiap operasi dan reaksi histeris mereka dengan menembakkan peluru dan peluru tanpa tujuan ke segala arah untuk menutupi keadaan teror mereka dan untuk mengambil mayat orang yang tewas dan terluka.”
Korban warga Gaza
Militer Israel sejauh ini masih terus melakukan serangan brutal ke seluruh wilayah Gaza, menimbulkan jumlah korban warga sipil yang terus bertambah. Mereka berdalih serangan sejak 7 Oktober itu untuk membalas serangan dadakan Hamas dan faksi-faksi pejuang Palestina ke Israel pada hari yang sama.
Hamas mengatakan serangan itu untuk menghentikan aksi-aksi pemerintah sayap kanan Israel yang sejak akhir tahun lalu terus menyerang Tepi Barat, menerobos Masjid al-Aqsa, dan menambah pemukiman ilegal di Tepi Barat. Sekitar 700 warga sipil dan 300-an tentara Israel diklaim tewas dalam serangan Hamas itu. Ratusan juga dibawa Hamas sebagai sandera untuk ditukarkan dengan ribuan warga Palestina yang dipenjara tanpa pengadilan di Israel.
Kementerian Kesehatan Palestina mengumumkan dalam pembaruan kemarin bahwa jumlah korban syahid di Palestina telah melonjak menjadi setidaknya 19.088 orang, dengan lebih dari 54.450 orang terluka.
Kementerian mengatakan dalam pernyataan pers bahwa jumlah korban yang terdokumentasi di Jalur Gaza telah mencapai 18.800 orang, sekitar 10 ribu diantaranya adalah anak-anak. Sementara jumlah korban gugur di Tepi Barat juga melonjak menjadi 288 orang. Selain itu, kata kementerian, 51.000 warga Palestina terluka di Gaza, dan hampir 3.450 lainnya di Tepi Barat.
Di antara korban jiwa di Gaza, lebih dari 300 petugas kesehatan, 86 jurnalis, 35 personel pertahanan sipil, dan 135 staf UNRWA tewas.
Kementerian Kesehatan menegaskan kembali peringatannya tentang bahaya menipisnya pasokan vaksin di Gaza, yang dapat menyebabkan konsekuensi kesehatan yang sangat buruk, terutama bagi para pengungsi yang berada di tempat penampungan yang penuh sesak. Kementerian tersebut mendokumentasikan 360.000 kasus penyakit menular di tempat penampungan, namun mereka yakin jumlah sebenarnya lebih tinggi.
