Internasional

Arab Saudi Temukan 110 Juta Ton Bijih Uranium di Madinah

45
FOTO/ Reuters

posaceh.com, Wina – Arab Saudi mengumumkan temuan sekitar 110 juta ton bahan mentah yang mengandung konsentrasi uranium di wilayah Madinah.

Temuan ini diumumkan Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman dalam konferensi umum ke-70 Badan Energi Atom Internasional (IAEA) di Wina, Senin (14/9/2026).

Angka 110 juta ton tersebut bukan berarti Arab Saudi menemukan 110 juta ton uranium murni, melainkan perkiraan jumlah bahan mentah atau bijih yang mengandung uranium. Adapun seberapa banyak kandungan uranium yang sebenarnya terdapat di dalamnya, belum diumumkan.

Hal ini penting karena nilai sebuah sumber daya uranium tidak hanya ditentukan oleh berat batuan, tetapi juga kadar uranium, bentuk mineralnya, tingkat keberhasilan ekstraksi, hingga biaya pengolahannya.

Secara sederhana, bijih adalah material alami yang mengandung mineral atau unsur yang bisa diekstraksi secara ekonomis, sementara uranium merupakan salah satu unsur yang terdapat di dalam material tersebut.

Bayangkan 110 juta ton itu sebagai batu pembawa uranium, bukan uranium murni. Karena kadar uranium dalam temuan tersebut belum dipublikasikan, belum bisa disimpulkan berapa ton uranium yang sebenarnya terkandung di dalam 110 juta ton bahan mentah itu.

Analisis industri juga menekankan bahwa tonase material saja belum cukup untuk menentukan ukuran sumber daya uranium ataupun apakah deposit tersebut layak ditambang secara komersial. Selain uranium, penelitian geologi di lokasi yang disebut Jabal Sayid itu juga menemukan konsentrasi tinggi unsur tanah jarang, terutama kelompok heavy rare earth elements.

Uranium dikenal luas karena perannya sebagai bahan bakar dalam pembangkit listrik tenaga nuklir. Reaktor nuklir memanfaatkan energi yang dilepaskan dari fisi nuklir, yaitu proses ketika inti atom berat seperti uranium-235 terbelah setelah menangkap neutron.

Pembelahan tersebut menghasilkan energi dalam bentuk panas. Panas kemudian digunakan untuk menghasilkan uap, memutar turbin, dan pada akhirnya menghasilkan listrik. Karena itu, menemukan sumber uranium domestik dapat menjadi bagian penting bagi negara yang ingin membangun rantai pasok bahan bakar nuklirnya sendiri.

Tetapi bijih uranium yang baru ditemukan tidak bisa langsung dimasukkan ke dalam reaktor. Material tersebut harus melalui serangkaian proses pengolahan untuk memisahkan uranium dari batuan dan mineral lain.

Salah satu tahap awal pengolahan uranium menghasilkan konsentrat uranium yang sering disebut yellowcake karena warna materialnya. Yellowcake bukan bahan bakar reaktor siap pakai. Material tersebut masih harus melalui proses lanjutan, termasuk konversi dan pengayaan uranium, untuk jenis reaktor tertentu, sebelum dapat digunakan sebagai bahan bakar.

Karena itu, perjalanan dari penemuan bijih hingga menjadi bahan bakar nuklir merupakan proses panjang yang membutuhkan teknologi, fasilitas, regulasi, dan pengawasan ketat. Arab Saudi sendiri telah menjalankan program eksplorasi uranium dan torium sebagai bagian dari rencana pengembangan sumber daya nuklir domestik.

Pemerintah Saudi menyebut eksplorasi tersebut bertujuan menilai sumber daya secara lebih pasti, mulai dari tahap inferred resource hingga sumber daya yang lebih terukur. Temuan di Madinah muncul ketika Arab Saudi sedang memperluas rencana pengembangan energi nuklir untuk kepentingan sipil.

Mengutip laporan Reuters, dalam pernyataannya di konferensi IAEA, Pangeran Abdulaziz mengatakan Saudi sedang mencari program nuklir komprehensif yang ditujukan untuk tujuan sipil. “Kami mencari program nuklir yang komprehensif, semata-mata untuk tujuan sipil,” ujarnya.

Ia juga mengatakan program nuklir damai Saudi tidak dikembangkan secara terpisah dari masyarakat internasional atau melalui fasilitas rahasia yang tersembunyi di dalam pegunungan.

Jika setelah penelitian lebih lanjut terbukti memiliki kadar uranium yang cukup tinggi dan layak diekstraksi, deposit tersebut berpotensi membantu Saudi mengurangi ketergantungan pada sumber uranium dari luar negeri.

Selain itu, keberadaan mineral tanah jarang juga membuat temuan tersebut menarik dari perspektif teknologi. Unsur tanah jarang digunakan dalam berbagai teknologi modern, termasuk elektronik, magnet berkinerja tinggi, kendaraan listrik, dan sejumlah sistem energi.(Muh/*)

Exit mobile version