Oleh Syahrul Amin*
Nama Teuku Umar (1854-1899) dan Cut Nyak Dhien (1848-1908) telah lama mengisi halaman utama sejarah perjuangan rakyat Aceh. Namun, di luar narasi besar itu, terdapat sosok lain yang hidup dalam ingatan lokal, tetapi belum mendapat tempat dalam historiografi nasional, Teuku Cut Ali.
Di wilayah Kluet Selatan, Bakongan, hingga Trumon, nama Teuku Cut Ali masih kerap disebut dalam tuturan masyarakat. Ia dikenal sebagai pemimpin gerilya yang memimpin perlawanan terhadap kolonial Belanda pada dekade awal abad ke-20, terutama sekitar 1925–1927.
Sejumlah sumber lisan menyebutkan, Teuku Cut Ali diperkirakan lahir di kawasan Trumon pada akhir abad ke-19 dari latar keluarga bangsawan. Ia kemudian menyandang gelar Panglimo Sagoe, sebuah posisi strategis dalam struktur kepemimpinan perang tradisional Aceh, yang berperan mengoordinasikan perlawanan di tingkat wilayah.
Perlawanan yang dipimpinnya berlangsung dalam kondisi yang tidak seimbang. Di satu sisi, pasukan gerilya mengandalkan persenjataan sederhana dan dukungan masyarakat setempat. Di sisi lain, Belanda mengerahkan pasukan Marsose satuan elit dengan perlengkapan militer modern yang dirancang untuk menghadapi perang gerilya di Aceh.
Dalam beberapa catatan lokal, Teuku Cut Ali disebut terlibat dalam peristiwa yang menewaskan seorang perwira Belanda, Letnan Molenaar. Peristiwa itu diduga memperkuat intensitas pengejaran terhadap dirinya oleh aparat kolonial.

Tekanan terhadap jaringan perlawanan kemudian meningkat. Strategi militer Belanda tidak hanya mengandalkan kekuatan senjata, tetapi juga pendekatan non-militer, termasuk intimidasi terhadap warga dan pemberian imbalan bagi informan.
Situasi tersebut diduga berujung pada terbongkarnya lokasi persembunyian Teuku Cut Ali di kawasan Alue Beberang. Serangan mendadak pun dilakukan oleh pasukan kolonial di bawah pimpinan Kapten Gosenson.
Peristiwa itu menjadi titik balik.
Sejumlah tokoh lokal dilaporkan gugur dalam insiden tersebut, termasuk istri Teuku Cut Ali, Fatimah, yang disebut tengah mengandung. Nama lain yang kerap muncul dalam tuturan masyarakat antara lain Nyak Meutia binti Teuku Nago, Imam Sabil, dan Teuku Nago.
Dalam kondisi terdesak, Teuku Cut Ali tetap melakukan perlawanan sebelum akhirnya gugur di medan pertempuran.
Pasca-peristiwa itu, beredar berbagai versi mengenai perlakuan terhadap jasadnya. Sebagian sumber menyebutkan adanya tindakan kekerasan simbolik oleh pihak kolonial, termasuk pemisahan bagian tubuh sebagai bentuk teror psikologis kepada masyarakat. Namun, informasi ini masih memerlukan verifikasi lebih lanjut melalui penelitian arsip dan sumber tertulis yang lebih komprehensif.
Hingga kini, belum terdapat keseragaman data terkait riwayat keluarga Teuku Cut Ali. Sebagian masyarakat meyakini ia tidak meninggalkan keturunan, sementara versi lain menyebutkan adanya garis keturunan yang tersebar di beberapa wilayah Aceh.
Ketiadaan dokumentasi resmi menjadi salah satu kendala utama dalam upaya penelusuran sejarah tokoh ini. Sebagian besar informasi masih bertumpu pada sejarah lisan yang diwariskan antar generasi.
Meski demikian, dalam konteks sejarah lokal, Teuku Cut Ali tetap dipandang sebagai simbol perlawanan masyarakat Aceh Selatan terhadap kolonialisme.
Upaya untuk mengangkat kembali peran tokoh-tokoh lokal mulai disuarakan oleh kalangan intelektual muda dan aktivis muda. Salah satunya disampaikan oleh Syahrul Amin, yang menilai pentingnya integrasi sejarah lokal ke dalam sistem pendidikan.
“Penguatan sejarah lokal perlu dilakukan, termasuk memasukkan kisah tokoh seperti Panglimo Rajo Lelo, Mat Sisir, Teuku Cut Ali, Teungku Raja Ankasah hingga Teuku Ali Usuf ke dalam materi pembelajaran tambahan Sekolah di mata pelajaran PKN. Ini penting agar generasi muda memahami konteks perjuangan di daerahnya,” ujarnya.
Sejumlah pihak juga mendorong penelitian lebih lanjut berbasis arsip kolonial dan kajian akademik untuk memperkuat legitimasi historis tokoh-tokoh tersebut.
Tanpa upaya sistematis, bukan tidak mungkin narasi tentang Teuku Cut Ali akan tetap berada di pinggiran hidup dalam ingatan masyarakat, tetapi absen dari catatan resmi negara.
Padahal, sejarah Indonesia tidak hanya dibentuk oleh tokoh-tokoh yang telah diakui secara nasional, tetapi juga oleh mereka yang berjuang dalam senyap di daerah-daerah.
* Syahrul Amin, anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Aceh.











