Banghas

Sultan Iskandar Muda antara Pedir dan Orang-orang Kaya

10944
×

Sultan Iskandar Muda antara Pedir dan Orang-orang Kaya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi

Di usia yang sangat tua, ‘Ala ad-Din Ri’ayat Syah naik takhta kerajaan Aceh Darussalam. Awalnya kakek tua berumur 70 tahun ini dinaikkan oleh orang-orang kaya yang telah lama memegang peran penting penentuan raja-raja di Aceh. Sebenarnya mereka berharap mampu mengendalikan raja tua ini dan lekas wafat.

Dalam beberapa catatan, di antaranya menurut Bustan us Salatin, raja tua ini memimpin Aceh selama lima belas tahun, sepuluh bulan dan lima belas hari.

Kemudian hari, ternyata prediksi orang kaya terbalik dengan kenyataan yang terjadi. Ala ad-Din Ri’ayat Syah kemudian memakai kekerasan terhadap orang kaya tersebut dan meletakkan dasar kekuasaan pribadi yang buahnya akan dipetik kemudian hari oleh cucunya sendiri.

Sebagaimana ditulis Deny Lombard dalam buku kerajaan Aceh, kakek tua itu memiliki seorang putri yang sangat disayanginya. Dari sang putri itulah lahirnya seorang anak muda yang kemudian hari membuat sejarah emas Aceh, Sultan Iskandar Muda.

Iskandar Muda menjadi Sultan penuh keunikan, awalnya dia bertengkar dengan Sultan Muda di Banda Aceh dan mencari perlindungan pada Gubernur Pedir (Pidie) di Sigli. Keduanya, baik Sultan Muda dan Gubernur Pidie adalah Paman bagi Iskandar Muda yang kala itu berusia 21 tahun.

Lantas dihasut nya Gubernur Pedir agar diizinkan membawa pasukan untuk menyerbu Banda Aceh. Kebetulan Paman (Sultan Muda) di Aceh bereaksi lebih cepat, menyambutnya, mengalahkan Pasukan Pedir yang dipimpin Iskandar Muda dan menawannya.

Tiba-tiba Portugis melihat huru-hara perang saudara, menyerbu istana Aceh. Sultan Muda mengetahui ketangkasan dan keberanian Iskandar Muda, mengeluarkan dari penjara dan memberinya kedudukan Panglima. Iskandar Muda berhasil memukul mundur Portugis yang sudah mendarat.

Tiba-tiba pamannya Sultan Muda meninggal dunia, malam kemenangan tersebut, jadilah Panglima itu sebagai Sultan menggantikan pamannya. Penobatan Iskandar Muda sebagai Sultan dilakukan pada 6 Zulhijah 1015 H (awal april 1607 M).

Tinggal pamannya satu lagi di Pedir (Gubernur), terus Iskandar mengirim pembunuh-pembunuh bayaran untuk membunuh pamannya sendiri. Jadilah dia sendiri menguasai Aceh dan Pedir.

Beaulieu seorang laksamana Perancis memberi kesaksian tentang pribadi seorang Iskandar Muda yang memimpin Aceh dari 1607-1636. Disebut dalam catatan tersebut, Iskandar Muda dinyatakan sebagai sultan pada 6 Zulhijah 1015 H (awal April 1607).

Ketika menjadi raja, langkah pertama yang dilakukan adalah meniru teladan sang kakeknya dengan mengamankan para orang kaya yang sejak 1604 ikut bersekongkol dan berkomplot dengan kedua pamannya.

Orang-orang kaya bangsawan itu dihabiskan dan dengan cepat pula diangkat bangsawan-bangsawan baru yang mendukung Iskandar Muda naik takhta.

Namun mereka yang yang dibiarkan hidup tetap diawasi ketat oleh intel-intel kerajaan. Saat itu semua orang kaya dari Aceh dan sekitarnya harus menghadap ke istana tiga hari sekali dan ikut mengawal satu hari satu malam, semuanya tanpa memakai senjata.

Orang-orang kaya bangsawan tidur dalam gubuk-gubuk kecil yang didirikan khusus bagi mereka dalam pelataran istana yang dipantau tentara kerajaan. Sedikit saja mereka membangkang maka langsung saja dieksekusi bunuh tanpa ampun.

Tindakan keras Iskandar Muda terhadap orang-orang kaya bangsawan waktu itu dianggap sebagai pembersihan terhadap kelompok pengusaha yang telah lama menjadi benalu dalam kekuasaan raja-raja Aceh Darussalam.

Iskandar Muda akhirnya memulai kesultanan dengan gemilang, dan belajar dari kedua pamannya yang selalu berseteru antara pusat kerajaan Aceh di Banda Aceh dan wilayah Pedir maka oleh raja besar ini memberi keistimewaan khusus kepada wilayah tersebut.

Kekuasaan sang sultan yang dikenal dunia ini sangat kuat, tidak terlepas dari pengaruh wilayah Pedir yang mendukung penuh kekuasaannya. Hampir dalam setiap penyerangan untuk menaklukan wilayah lainnya di Semenanjung Malaya dan Sumatera, pasukan Aceh didominasi tentara militan dari Pedir yang berjaya di medan tempur.

Kejayaan kerajaan Aceh Darusalam dibawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda tidak terlepas dari strategi jitu yang diterapkannya, yaitu dengan memberi keistimewaan kepada Pedir dan dalam kebijakan lain membabat habis orang kaya bangsawan pembangkang kerajaan. Begitulah raja tak pernah salah. (Hasnanda Putra).