NasionalNews

SPS Gelar Dialog Nasional: Solusi Lepas dari Ketergantungan Perusahaan Pers pada Platform Digital Raksasa

965
×

SPS Gelar Dialog Nasional: Solusi Lepas dari Ketergantungan Perusahaan Pers pada Platform Digital Raksasa

Sebarkan artikel ini
Suasana dialog nasional yang digelar dalam rangka HUT ke-78 SPS dan peringatan 25 tahun Undang-Undang Pers, di Hotel Savoy Homann, Bandung, Kamis (19/9/2024). FOTO/ DOK SPS ACEH

posaceh.com, Bandung – Dalam rangka HUT ke-78 Serikat Perusahaan Pers (SPS) dan peringatan 25 tahun Undang-Undang Pers, SPS menggelar dialog nasional. Acara ini mengusung tema “Refleksi 25 Tahun UU Pers & Masa Depan Industri Pers Pasca Perpres Publisher Rights”, membahas tantangan dan solusi untuk industri pers agar lepas dari ketergantungan pada platform digital raksasa, di Hotel Savoy Homann, Bandung, Kamis (19/9/2024).

Pada kesempatan itu, Ketua Umum SPS Januar P Ruswita menyampaikan, industri pers saat ini terdisrupsi oleh kemajuan teknologi, dengan banyak media yang bergantung pada platform digital. “Kami berharap, melalui Perpres No.32/2024 dan 11 anggota Komite Pelaksananya, tercipta ekosistem pers yang sehat, setara dengan platform digital, serta menjaga jurnalisme berkualitas,” ujarnya.

Selain itu, Ninik Rahayu, Ketua Dewan Pers, menegaskan dukungannya terhadap Perpres No.32/2024, yang diharapkan mampu menciptakan keadilan bagi perusahaan pers dalam pembagian pendapatan dengan platform digital.

“Saya mendukung upaya diversifikasi pendapatan agar perusahaan pers tidak hanya bergantung pada platform digital atau anggaran daerah,” katanya.

Sementara itu, Anggota Komite Pelaksana Perpres, Sasmito, menggarisbawahi pentingnya fokus pada industri pers dan keberlanjutannya.

“Pandemi dan disrupsi digital meningkatkan jumlah pembaca, namun pendapatan menurun. Komite dibentuk untuk merumuskan aturan yang memastikan hubungan yang lebih adil antara perusahaan pers dan platform digital,” jelasnya.

Di sisi lain, Ilona Juwita, Sekjen Indonesia Digital Association (IDA), menekankan pentingnya pengelolaan data pelanggan dan diversifikasi pendapatan, termasuk melalui model bisnis subscription dan crowdfunding. “Pengelolaan data yang tepat bisa membuka peluang baru dalam monetisasi iklan,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, Janoe Arijanto, Ketua Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI), menyebutkan beberapa solusi seperti Data Audiens, Multiplatform, dan Customization untuk mengurangi ketergantungan pada platform raksasa.

“Membangun website dengan engagement besar dan iklan direct tanpa programmatic buying bisa menjadi solusi, meski tidak mudah,” tambahnya.

Lebih lanjut, Yusuf Widjanarko dari Pikiran Rakyat Media Network (PRMN) menyoroti potensi model subscription dan crowdfunding sebagai tren baru yang dapat memperkuat hubungan media dengan audiens serta menciptakan pendapatan yang lebih stabil.

Dialog ini menjadi pembuka perayaan HUT 78 SPS, mengusung semangat “Mewujudkan Pers Sehat, Pers Berkualitas” sebagai refleksi terhadap tantangan industri pers nasional di era digital ini.(Wahyu Desmi/*)