Nasional

WHO Umumkan Wabah Ebola di Kongo dan Uganda Darurat Kesehatan Internasional

18
×

WHO Umumkan Wabah Ebola di Kongo dan Uganda Darurat Kesehatan Internasional

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Virus Ebola. FOTO/Getty Images/iStockphoto/Manjurul

posaceh.com, Jakarta – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan keadaan darurat kesehatan internasional atas strain langka Ebola yang telah menewaskan puluhan orang di Republik Demokratik Kongo. Namun WHO tidak menyebut wabah tersebut sebagai pandemi.

“WHO…dengan ini menetapkan bahwa penyakit Ebola yang disebabkan oleh virus Bundibugyo di Republik Demokratik Kongo dan Uganda merupakan keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional (PHEIC), tetapi tidak memenuhi kriteria keadaan darurat pandemi,” kata badan kesehatan global yang berbasis di Jenewa itu dalam sebuah pernyataan, dilansir AFP, Minggu (17/5/2026).

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (CDC Afrika) melaporkan sebanyak 88 orang meninggal dunia dan 336 kasus dugaan demam berdarah yang sangat menular.

WHO memperingatkan bahwa skala sebenarnya dari jumlah kasus dan penyebarannya belum jelas, tetapi tidak sampai menyatakan keadaan darurat pandemi, namun tingkat kewaspadaan tertinggi yang diperkenalkan pada tahun 2024.

Sementara itu, kelompok bantuan medis Dokter Tanpa Batas (MSF) mengatakan sedang mempersiapkan “respons skala besar”. Kelompok tersebut menyebut penyebaran wabah yang cepat “sangat mengkhawatirkan”.

Menteri Kesehatan DR Kongo, Samuel-Roger Kamba mengatakan belum ada vaksin untuk strain Bundibugyo tersebut. Dilaporkan strain ini memiliki tingkat kematian yang tinggi.

“Strain Bundibugyo tidak memiliki vaksin, tidak ada pengobatan khusus,” kata Kamba.

“Strain ini memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi, yang dapat mencapai 50 persen,” sambungnya.

Otoritas mengatakan strain tersebut yang pertama kali diidentifikasi pada tahun 2007 juga telah menewaskan seorang warga negara Kongo di negara tetangga Uganda.

Vaksin hanya tersedia untuk strain Zaire, yang diidentifikasi pada tahun 1976 dan memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi yaitu 60-90 persen.

Lebih lanjut, pada Jumat lalu, para pejabat kesehatan mengkonfirmasi wabah terbaru di provinsi Ituri di timur laut DRC, yang berbatasan dengan Uganda dan Sudan Selatan, menurut CDC Afrika.

“Kami telah melihat orang-orang meninggal selama dua minggu terakhir,” kata Isaac Nyakulinda, perwakilan masyarakat sipil setempat yang dihubungi AFP melalui telepon.

“Tidak ada tempat untuk mengisolasi orang sakit. Mereka meninggal di rumah dan jenazah mereka ditangani oleh anggota keluarga mereka.”

Menurut Kamba, pasien nol adalah seorang perawat yang melapor ke fasilitas kesehatan di ibu kota provinsi Ituri, Bunia, pada 24 April, dengan gejala yang menunjukkan Ebola.

Gejala penyakit ini termasuk demam, pendarahan, dan muntah.

“Jumlah kasus dan kematian yang kami lihat dalam jangka waktu yang singkat, dikombinasikan dengan penyebaran di beberapa zona kesehatan dan sekarang melintasi perbatasan, sangat mengkhawatirkan,” kata Trish Newport, Manajer Program Darurat MSF, yang sedang memobilisasi staf medis dan pendukung ke daerah tersebut.

Pengangkutan peralatan medis dalam skala besar merupakan tantangan di Republik Demokratik Kongo, sebuah negara dengan lebih dari 100 juta penduduk yang luasnya empat kali lipat Prancis tetapi memiliki infrastruktur komunikasi yang buruk.(Muh/*)