Banghas

Riwayat Geuceu dan Krueng Daroy

7723
×

Riwayat Geuceu dan Krueng Daroy

Sebarkan artikel ini
Krueng Daroy mengalir membelah kota, sungai buatan Sultan berkaitan dengan Gampong Geuceu. (Foto IG Dhonyzr)

Banda Aceh kota pusaka penuh sejarah. Memiliki luas wilayah 61,36 km² yang terdiri dari 9 kecamatan dan 90 gampong, masing-masing memiliki nama dengan sejarah tersendiri yang khas. Seperti nama 3 gampong di Kecamatan Banda Raya yaitu Geuceu Iniem, Geuceu Kayee Jato dan Geuceu Komplek.

Nah, apa maksud dari kata Geuceu, benarkah ini ada kaitan dengan taman Putroe Phang yang berada di tengah kota ini.

Menurut banyak ahli sejarah, seperti disebut Kamal Arief kata Geuceu dalam Bahasa Aceh artinya “dicoret olehnya‟, mengisyaratkan bahwa Sultan Iskandar Muda pernah menandai sesuatu di peta tanah untuk dilakukan penggalian sungai buatan.

Makna lain dari Geuceu juga disebutkan sebagai garis atau batas.

Sultan menjadi sang arsitek mendesain tata kota baru dengan membelokan aliran Krueng Daroy dari Mata Ie untuk mengalir ke taman Ghairah dalam komplek Istana Daruddunia.

Ilustrasi dicoret atau ditandai (Geuceu), sungai buatan Krueng Daroy.

Beliau “mencoret” tanda agar aliran sungai buatan dibuat untuk mengalir alur nya ke kawasan Taman Putroe Phang sekarang.

Penggalian sungai yang juga dinamai Darul Isky ini sekitar tahun 1620. Hulunya berada di sebuah Mata Ie dan pada awal nya hanya mengalir ke pesisir Gampong Pande saja (Krueng Dhoe).

Sultan Iskandar Muda memimpin langsung pekerjaan penggalian ini. Banyak pekerja didatangkan dari luar dan beberapa daerah taklukan Aceh. Disebutkan proyek besar Sultan ini selesai dalam tahun yang sama.

Pembuatan sungai ini adalah gambaran kecil “Surga” yang diidam-idamkan banyak raja-raja. Sebagaimana kisah-kisah sungai dalam Surga seperti dalam Surat Al Bayyinah.

Jannātu ‘adnin tajrī min taḥtihal-an-hāru
‘Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai’.

Gambaran Krueng Daroy masa lalu juga disebutkan dalam Kitab Bustanus Salatin karya Nuruddin Ar-Raniry. Mahakarya Sultan ini dibuat bersamaan dengan Gunongan, sesuatu persembahan untuk Permaisuri Putri Kamaliah atau Putroe Phang.

Rafly dalam syair lagu nya juga menggambarkan “Krueng Daroy” dengan indah.

Ie Krueng Daroy jeut keu seujarah,
Bak Putroe Kamaliah manoe meu upa,
Iskandar Muda geukueh krueng nyan,
Tempat meuseunang putroe diraja,

Pucok Krueng Daroy lam glee Mata Ie,
Ie jih ilee u teungoh Banda,
Meulikok likok puta lam taman Putroe Phang,
Meu alon alon alang bak bineh meuligoe raja,
Adak musem khueng ie krueng hantom tho,
Meunan keuh judo Iskandar Muda

Begitulah kisah kecil di balik nama-nama gampong Geuceu. Cerita fakta masa lalu harus terus diceritakan dan didiskusikan agar sejarah tak menjadi dongeng. (Hasnanda Putra).