posaceh.com, Bireuen – Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) atau Lembaga Resiliensi Bencana Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta meluncurkan program revitalisasi Jeruk Bali (Pamelo) varietas Giri Matang di Gampong (Desa) Pante Lhong, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen.
Program tersebut bagian dari rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana hidrometeorologi Sumatra pada 25 November 2025.
Koordinator Program Rehabilitasi dan Rekonstruksi LRB/MDMC Pimpinan Wilayah Muhammadiyah D.I Yogyakarta, Rifki Ramadhan pada acara simbolis Penanaman Jeruk Bali varietas Giri Matang di Gampong Pante Lhong, Kecamatan Peusangan, Senin (7/9/2026) mengatakan, program itu dilaksanakan untuk pemberdayaan petani dalam memulihkan sumber penghidupan pascabencana.
“Program revitalisasi jeruk bali bagian dari kegiatan rehab rekon yang digagas Muhammadiyah untuk memulihkan ekonomi masyarakat terdampak bencana,* katanya.
Program rehab rekon LRB PWM Yogyakarta dilaksanakan selama tiga bulan. Selain pemberdayaan revitalisasi jeruk bali, organisasi kemanusiaan di bawah Persyarikatan Muhammadiyah ini juga melaksanakan kegiatan Disaster Resilience Training (Pelatihan Ketangguhan Bencana), dan Pelatihan Desa Tangguh Bencana (Destana).
“Dan kegiatan ini sudah berjalan semuanya sesuai tahapan. Kalau tidak ada kendala 19 September mendatang program yang sudah dilaksanakan akan dilakukan peresmian oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Yogyakarta,” katanya.
Acara simbolis Penanaman Jeruk Bali varietas Giri Matang di Gampong Pante Lhong dihadiri Sekda Bireuen, Ir Ismunandar, ST MT, Kadis Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bireuen, Mulyadi, SE MM, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bireuen, dr Athaillah A Latief, SpOG diwakili Wakil Ketua, Ustadz Jafaruddin dan perwakilan Camat Peusangan, penyuluh pertanian dari BPP Kecamatan Peusangan, Keuchik Pante Lhong, Murizal Haryanto, Ketua Kelompok Tani Beuratana, T. Bagindasyah, pimpinan Dayah Raudhatul Ma’arif dan pengurus MDMC Bireuen.
Keuchik (Kepala Desa-red) Pante Lhong, Murizal Haryanto dalam sambutannya mengatakan, pengembangan jeruk pamelo menjadi tumpuan ekonomi utama warganya.
“Andalan produk pertanian Gampong Pante Lhong jeruk pamelo karena di sini tidak ada lahan sawah,” katanya.
Sebut Murizal, ketergantungan masyarakat pada sektor tanaman hortikultura ini sangat tinggi meskipun jeruk bali merupakan tanaman pekarangan.
Menurutnya, petani mengharapkan intervensi konkrit dari Pemerintah melalui program stimulan serta rehabilitasi sektor pertanian. Dukungan tersebut dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan lokal sekaligus mendongkrak kesejahteraan petani Bireuen.
Sementara Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Bireuen, Mulyadi, SE MM, menegaskan komitmennya untuk mempertahankan dan melindungi produk unggulan lokal yang menjadi ciri khas Kabupaten Bireuen.
Sejak Desember 2024, sebutnya, pamelo varietas Giri Matang telah mendapatkan perlindungan hukum berupa Sertifikat Indikasi Geografis (IG) dan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). “Untuk mendapatkan sertifikat ini prosesnya sangat panjang, mulai tahun 2018,” sebutnya.
Merespons dampak bencana banjir yang merusak kawasan perkebunan hortikultura, khususnya komoditas jeruk pamelo sebagai terdampak paling parah, pemerintah daerah juga menyiapkan langkah pemulihan.
“Fokus awal Dinas Pertanian rehabilitasi sawah yang rusak, dan kegiatan ini sudah berjalan. Nanti bulan November menyusul disalurkan bantuan bibit jeruk pamelo 2.000 batang ke sejumlah gampong, termasuk Pante Lhong juga menjadi prioritas kami,” papar mantan Kadis Sosial Kabupaten Bireuen ini.

Selain itu, tambahnya, skema perbaikan dan rehabilitasi perkebunan jangka panjang juga telah disusun untuk masa pemulihan hingga 2027.
Pada kesempatan itu, Mulyadi mengapresiasi relawan MDMC DI Yogyakarta yang telah mendampingi dan memberikan pelatihan kepada warga selama tiga bulan.
Atas nama Pemkab Bireuen, ia berharap pendampingan dan pengembangan potensi jeruk pamelo ini tidak berhenti di satu desa saja, melainkan dapat terus diperluas ke desa-desa tetangga lainnya.
“Harapan kami program ini juga bisa diperluas ke desa lain yang ada produk sama,” ujarnya.
Terakhir, Bupati Bireuen yang diwakili oleh Sekretaris Daerah, Ismunandar, ST MT, dalam sambutannya menegaskan, kehadiran jajaran pemerintah daerah adalah bentuk apresiasi dan perhatian khusus Pemkab Bireuen terhadap dedikasi para relawan di tingkat gampong.
Kehadiran pemerintah daerah merupakan bentuk penilaian dan penghargaan tinggi atas kerja keras para relawan serta pengurus Muhammadiyah dalam membantu masyarakat terdampak bencana banjir.
”Ini suatu bukti kepedulian Pemerintah Kabupaten Bireuen, dalam hal ini Bupati beserta jajarannya terhadap program atau kegiatan ini. Ini suatu penghargaan, suatu penilaian yang tidak bisa diukur,” ucapnya.
Melihat besarnya dampak positif dari program yang dijalankan oleh relawan MDMC DIY selama bertugas, Pemkab Bireuen berharap kolaborasi ini dapat terus berlanjut.
Pihak Pemkab secara terbuka mengundang Pimpinan Muhammadiyah DIY maupun Pimpinan Pusat untuk kembali membawa program-program pemberdayaan ke wilayah Bireuen.
”Ayo dorong Pengurus Muhammadiyah DI Yogyakarta. Kalau perlu Pengurus Muhammadiyah Pusatnya, perhatikan Bireuen dengan program-program dan kegiatan-kegiatan lainnya. Kita welcome. Jadi ayo bawa program, bawa kegiatan, bawa contoh yang baik bagi kami masyarakat Aceh,” kata Ismunandar.
Pemerintah Kabupaten Bireuen juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh tim relawan MDMC dan jajaran pimpinan Muhammadiyah atas kontribusi nyata dalam proses pemulihan masyarakat pascabencana.
Puncak acara ditandai berakhir dengan penanaman bibit jeruk bali oleh Sekda, Kadis Pertanian dan Camat Peusangan yang didampingi Keuchik Pante Lhong, relawan MDMC serta penyuluh pertanian dari BPP Peusangan.
*MDMC Hadir Mulai Masa Tanggap Darurat Bencana*
Sebagai informasi, pada awal bencana hidrometeorologi 25 November 2025, MDMC sudah terlibat membantu masyarakat terdampak.
Khusus di Gampong Pante Lhong dan Gampong Kapa, Kecamatan Peusangan, MDMC membangun hunian darurat (hundar) untuk 66 kepala keluarga. Selain itu, musalla dan dapur komunal turut dibangun di lokasi hundar Pante Lhong.
Persyarikatan Muhammadiyah juga membangun enam ruang belajar untuk sekolah darurat bagi siswa MIN 42 Bireuen di Gampong Raya Dagang, Kecamatan Peusangan.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bireuen, dr Athaillah A Latief, SpOG aktif mengupayakan bantuan dari sejumlah sumber di luar Aceh untuk korban bencana. (Rizal)











